“Sebilah Pisau Yang Tertinggal”
Belatimu yang tajam dan mengkilat itu kini tumpul terikikis karat..
Mungkin dulu kau lupa membersihkannya selepas kau gunakan untuk menyiksaku hingga sekarat..
Jika kau ingin mengambilnya, ambil saja..!!
Sengaja ku simpan jika suatu saat kau butuhkan..
Apa tak lagi kau rasakan rindu?
Saat kau teringat telah berulang-kali menikamku?
Jika kau memang tak menginginkannya, lebih baik ku buang saja..!!
Kan ku buang ke suatu tempat dimana tak seorangpun yang akan menemukannya..!!
Satu setengah purnama sejak peristiwa itu berlalu..
Saat kau tikam ulu hatiku dengan tajamnya belatimu..
Serasa terlepas semua roh-ku bersama marah yang memuncrat dari luka di dadaku..
Masih tak puas dengan semua itu, kau bakar aku dalam panasnya kobaran dendam..
Ketika jasadku terkapar dan sisa nyawaku menggelepar..
Kau tuang sesal pada genangan darahku yang mulai menggumpal..
Sebelum puas mencincang aku, ku mohon janganlah berhenti..
Biar ku tutup netra ini dan mencoba nikmati sakit yang kau beri..
Muhammad Abdul Hakim
“Salatiga, (tanpa hari tanpa tanggal) 2011”
January 23, 2012 at 7:37 am
pisaumu panjang bener cong sampai ke ulu hati,,opo ora sesek seng ketusuk pisaumu:)