“Sebilah Pisau Yang Tertinggal”


 

 Belatimu yang tajam dan mengkilat itu kini tumpul terikikis karat..                                      

Mungkin dulu kau lupa membersihkannya selepas kau gunakan untuk menyiksaku hingga sekarat..

Jika kau ingin mengambilnya, ambil saja..!!

Sengaja ku simpan jika suatu saat kau butuhkan..

Apa tak lagi kau rasakan rindu?

Saat kau teringat telah berulang-kali menikamku?

Jika kau memang tak menginginkannya, lebih baik ku buang saja..!!

Kan ku buang ke suatu tempat dimana tak seorangpun yang akan menemukannya..!!

 

Satu setengah purnama sejak peristiwa itu berlalu..                                                

Saat kau tikam ulu hatiku dengan tajamnya belatimu..

Serasa terlepas semua roh-ku bersama marah yang memuncrat dari luka di dadaku..

Masih tak puas dengan semua itu, kau bakar aku dalam panasnya kobaran dendam..

Ketika jasadku terkapar dan sisa nyawaku menggelepar..

Kau tuang sesal pada genangan darahku yang mulai menggumpal..  

Sebelum puas mencincang aku, ku mohon janganlah berhenti..

Biar ku tutup netra ini dan mencoba nikmati sakit yang kau beri..

 

Muhammad Abdul Hakim

“Salatiga, (tanpa hari tanpa tanggal) 2011”

One Response to ““Sebilah Pisau Yang Tertinggal””

  1. pisaumu panjang bener cong sampai ke ulu hati,,opo ora sesek seng ketusuk pisaumu:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.