Kabut Tipis Puncak Sumbing


KABUT TIPIS PUNCAK SUMBING

 

**…Ketika cintaku seumpama kabut pagi,                                                                                                                                                Harusnya kau relakan semua berakhir bersama terbitnya sang mentari…

…Dan bila senja mulai menghimpit malam untuk menepi,

Pungutlah benih asa yang semalam kau semaikan…                                                                                                                             Karena aku adalah segenggam pasir yang tidak mungkin menumbuhkan bunga seperti yang kau harap…

…Maaf, jika harus ku ambil kembali hati yang pernah ku berikan…

… Biar saja terpasung di antara relung waktu yang terhenti…

…Karena kisah kita telah usai ketika hendak kita mulai…**

 

Setelah menempuh ujian semester yang cukup menguras fikiran mereka, Yoga dan kawan-kawannya memutuskan untuk refreshing.. sebuah gunung di daerah Wonosobo yang cukup terkenal menjadi tujuan tempat berlibur mereka, gunung Sumbing.. sebuah gunung yang bertengger di ketinggian puncak dataran perbatasan antara daerah Temanggung dan Wonosobo itu memang sering menjadi incaran para mahasiswa ketika musim liburan, para pendaki dan para anggota pecinta alam yang selalu saja meramaikan daerah pegunungan tersebut.

Pada hari yang telah ditentukan mereka semua berkumpul dengan persiapan yang lengkap untuk melakukan pendakian dan camping, rencananya mereka akan menghabiskan 3 hari untuk menikmati keindahan panorama alam yang melingkari gunung Sumbing, nampak Yoga dan Haris duduk di halte depan kampus mereka sembari menunggu kawan-kawan mereka yang lain, beberapa saat kemudian berkumpullah 7 orang termasuk Yoga dan mereka segera bersiap-siap untuk berangkat. Bunyi klakson dari mobil yang mendekat mengejutkan mereka yang sedang sibuk memeriksa perlengkapan pendakian mereka, Pak Ahmad sopir pribadi keluarga Nancy, salah satu mahasiswi yang juga ikut dalam acara tersebut nampak tersenyum dari balik kaca depan mobilnya.

Pak Ahmad: “Maaf mbak Nancy, sekarang sudah jam 10.00.. kalau temen-temen mbak sudah siap, sebaiknya kita segera berangkat saja.. soalnya nanti sore saya sudah harus sampai ke rumah lagi untuk ngantar bapak sama ibu yang mau jenguk kawan sekantor bapak yang sedang sakit.

Nancy: “Bentar pak, ni lagi nge-check barang-barang bawaan  kami, kawan-kawan saya sudah siap semua kok.. Gimana persiapan perlengkapan mendaki kita Yog?

Yoga:  “Oke cantik, semuanya lengkap.. gak ada satupun yang tertinggal.. ready to go..!! hehe..

Nancy: “Kita berangkat sekarang pak, ayo temen-temen.. masukin barang-barang kita ke bagasi, sebagian taruh di kap atas aja..

Mereka pun segera berhambur masuk ke mobil, sepanjang perjalanan mereka nampak sangat gembira.. apalagi hampir semua dari mereka berpasangan, Nancy dengan Boy, Winda dengan Haris, dan Keyla dengan Derry.. kecuali Yoga, sebenarnya Yoga cukup tampan di antara kawan-kawannya itu, Nancy pernah dekat dengan Yoga dan Yoga sendiri pun tahu jika Nancy menaruh hati kepadanya, tapi entah kenapa tiba-tiba saja Nancy menjalin hubungan dengan Boy, kawan Yoga sendiri.. meski begitu Yoga tidak pernah menganggap itu sebagai masalah, karena kedekatannya dengan Nancy bukanlah atas dasar “suka” melainkan hanya pertemanan seperti yang lain, bahkan sampai saat ini Nancy nampak masih menyukai Yoga walaupun ia berusaha kuat untuk menyembunyikannya.

Nancy yang duduk di depan nampak sesekali melirik Yoga melalui kaca spion, sementara itu Yoga nampak sedang asyik menikmati pemandangan di sepanjang jalan yang mereka lewati.

Pak Ahmad: “Nanti di sana mbak dan temen-temen mbak harus berhati-hati mbak..

Nancy: “Maksud bapak?

Pak Ahmad: “Setahu saya, pegunungan itu tempat yang wingit, tempat yang jarang di jamah manusia.. selain medannya yang memang susah, sebuah gunung itu biasanya banyak yang nunggu lho mbak.. jadi kita harus menjaga kelakuan dan sikap kita selama di sana.. sebagai tamu di kediaman “orang” lain.. kita harus pintar-pintar membawa diri agar tuan rumahnya tidak tersinggung.

Nancy: “Ah.. Pak Ahmad ni nakut-nakutin aja sih..

Mereka yang sedang bergurau di belakang tiba-tiba senyap dan menghentikan obrolan mereka begitu mendengar nasehat pak Ahmad tersebut.

Pak Ahmad: “Bukannya nakut-nakutin mbak.. tapi agar mbak dan kawan-kawan mbak berhati-hati saja, saya yakin gak bakal terjadi apa-apa kalau mbak dan temen-temen mbak berlaku dengan baik dan menjaga kesopanan selama di sana.

Derry: “Bener tuh, kalian juga pasti pernah dengar kan berbagai kisah mistis yang terjadi di gunung dan kisah seram yang di alami para pendakinya? sesuatu yang nampak indah di mata kita itu belum tentu tidak berbahaya.. bukan begitu pak Ahmad?

Keyla: “Apaan sih Der, kalau ngomongin itu mulu mendingan aku gak jadi ikut aja deh, kita tuh mau seneng-seneng.. cari hiburan, ngademin otak.. bukannya malah pada tertekan ma ketakutan kayak gini..

Boy: “Bener juga apa yang dikatakan pak Ahmad temen-temen.. tapi yang di katakana Keyla juga gak ada salahnya.. jadi gini aja deh, yang jelas gak akan pernah terjadi apa-apa selama kita ngejaga kelakuan kita selama di sana.. oke?? acara liburan kita bakal tetep berjalan seperti yang kita rencanakan semula..

Keyla: “Nah.. gitu dong, kan semuanya tenang kalau kayak gitu.. pokoknya liburan kita kali ini harus jadi liburan yang mengasyikkan.. Sumbinggggg, we are on the way…!!!

Pak Ahmad hanya menghela nafas panjang menghadapi anak-anak muda yang keras kepala itu, tapi entah kenapa hatinya di selimuti perasaan was-was.. seolah-olah ada sesuatu yang kurang baik akan terjadi diantara mereka.

Setelah kurang lebih 4 jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di pos pendakian Sumbing yang bernama “Ketep”, sebuah pos pendakian yang berdekatan dengan perkebunan teh yang cukup luas, pohon-pohon cemara yang berjajar di pinggiran jalan menambah nuansa asri daerah itu, di sekitarnya adalah pertanahan penduduk yang di hiasai tanaman kentang, wortel, kapri, dan tanaman kubis yang nampak terhampar dengan sangat indah dan tertata rapi.. nampak hilir mudik para petani yang sedang sibuk dengan ladang mereka masing-masing. Saat itu jam 14.15, mendung tebal dan halilintar yang saling bersahut menyambut mereka begitu sampai di kaki gunung tersebut, hawa dingin yang menusuk bersama tiupan angin cukup membuat mereka menggigil kedinginan.

Gunung Sumbing yang membalut sekujur tubuhnya dengan selendang awan berwarna putih nampak berdiri dengan tegak di depan mereka, seperti seorang perawan cantik.. menarik namun begitu angkuh dan seolah tak dapat tersentuh.

Nancy: “Bener kan apa yang aku bilang, udara sini tuh gak cuma dingin.. tapi duinguinnnnnnn.. bbrrrrrr, eh cowok-cowok.. kalian dapat  bagian nurunin barang ya.. kita-kita mau “take a shoot” di kebun teh di sana bentar.. hihihi..

Boy: “Gini ni susahnya jadi cowok.. bagian yang gak enak selalu kita yang dapat jatah..

Sementara mereka menurunkan tas-tas dan barang-barang dari mobil, Nancy dan kawan-kawannya sibuk berpose dan bergaya didepan kamera digital mereka.. perkebunan teh yang menghijau menjadi background yang cukup menawan dan menarik mereka agar berulang kali menjepretkan blitz kamera untuk mengabadikan kenangan di tempat indah tersebut, bahkan Keyla dan Winda sempat mengajak seorang bapak-bapak yang sedang memikul kubis hasil panenannya untuk berphoto bersamanya.

Pak Ahmad: “Mas, tolong jaga mbak-mbaknya ya.. kalian juga harus berhati-hati dan tetap waspada, walaupun ini adalah acara liburan dan waktu santai bagi kalian.. Mas Boy, saya nitip mbak Nancy.. mas Boy harus jaga mbak Nancy baik-baik selama liburan disini ya..

Boy: “Iya pak, jangan khawatir.. pokoknya Nancy akan saya hantar ke rumah dengan utuh dan gak kurang sedikitpun..hehehe..

Yoga: “Pak Ahmad jangan merisaukan kami, kami pasti bisa jaga diri baik-baik..

Pak Ahmad: “Baik, saya percaya kok kalau kalian dapat saling menjaga.. mbak Nancy.. saya pulang dulu, nanti hari minggu pagi saya jemput disini..!! (dengan agak berteriak karena agak jauh dengan Nancy)

Nancy: “Beres pak.. jam 7 pagi pak Ahmad harus sudah nyampe sini lho..!!

Pak Ahmad: “Siap mbak.. jangan khawatir, pokoknya saya tidak akan terlambat..

Pak Ahmad segera bergegas berjalan menuju ke mobilnya, ia melihat ada seorang gadis cantik berpakaian putih dan berambut panjang yang menggenggam bunga berdiri di samping pohon cemara dan memperhatikan anak-anak yang sedang merapikan barang-barang bawaan mereka itu, seolah mereka tidak tahu jika sedang di perhatikan oleh gadis itu, tiba-tiba bulu kuduknya merinding dan perasaannya menjadi tidak enak bersama bau harum yang menyebar dan memenuhi seluruh tempat itu, tapi ia tidak begitu menghiraukannya, ia pun segera masuk dan menghidupkan mesin kendaraannya..

Pak Ahmad: “Ahh.. ada-ada saja, mana mungkin ada hantu siang-siang begini, mungkin saja ia gadis kampung setempat yang kebetulan lewat dan beristirahat sejenak di sana..

Pak Ahmad pun segera memacu kendaraannya untuk segera pulang ke Semarang, ternyata tidak hanya pak Ahmad yang melihat gadis itu.. Yoga pun melihat ada seorang gadis di samping pohon cemara yang cukup besar itu sedang memperhatikan mereka.

Yoga: “Ris, Boy aku tinggal bentar ya.. aku mau ke sana sebentar.. (sambil menunjuk pohon cemara tersebut)

Haris: “Si Yoga mau ngapain tuh Boy?

Boy: “Paling juga kebelet kencing tuh anak.. udah lah biarin aja, eh Der, panggil tuh ibu-ibu PKK suruh cepet ke sini.. kalau dibiarin bakalan betah berjam-jam tuh kalau udah photo-photo gitu, dah mendung banget ni.. kita harus cepet-cepet ke pos pendakian sebelum hujan turun..

Yoga mendekati gadis itu, gadis itu pun menatap Yoga yang berjalan mendekatinya.. entah apa yang membuatnya penasaran.. seolah ada kekuatan aneh yang menuntun langkahnya mendekati gadis itu, setelah berada tepat di depannya, Yoga pun memberanikan diri untuk menyapa gadis itu terlebih dulu.. jantungnya berdegup dengan kencang saat gadis itu tersenyum manis kepadanya.. ia sangatlah cantik, bola matanya yang indah.. kulitnya yang putih bersih.. rambut hitamnya yang panjang tergerai lembut dan tertiup semilir angin pegunungan serta tatapan mata yang begitu menawan, jemarinya yang lentik memegang sekuntum bunga Eddelweis yang warnanya nampak mulai kusam, seolah-olah Yoga merasa dekat dan sudah begitu mengenal sosok gadis itu..

Yoga: “Maaf mbak, mbak sedang apa disini sendirian?

Gadis itu menjawab jika ia sedang beristirahat setelah capek berjalan-jalan mengitari perkebunan teh.. Yoga pun mengenalkan namanya begitupun gadis itu, “Rena” gadis itu bernama Rena.

Yoga: “Kalau boleh tau, mbak Rena asli penduduk sini ya?

Rena: “Nggak usah panggil mbak.. panggil saja Rena, kita sepertinya seusia kok.. jadi nggak perlu sungkan gitu.. sementara ini aku tinggal dengan keluarga kakekku di perkampungan itu, rumah yang bercat kuning itulah rumah kakekku Yog (sambil menunjuk rumah-rumah yang berjejer dikaki gunung Sumbing).. ibuku asli dari kampung sini sedangkan ayahku orang Surabaya, kami sekeluarga tinggal di Surabaya.. kebetulan saat ini aku sedang libur panjang jadi aku ingin menghabiskan masa liburku di daerah kakekku yang sejuk dan indah ini, apa kau juga sedang liburan Yog?

Yoga: “Iya nih Ren, tuh dengan temen-temenku.. kami semua dari Semarang Ren.. sudah lama banget sih ngrencanain mau haiking sekalian muncak ke sini, mumpung libur gini akhirnya niat kami ke sini baru bisa kewujud deh..

Mereka berdua terlibat obrolan yang cukup akrab dan hangat untuk ukuran dua orang yang baru saja saling mengenal, ternyata Rena adalah mahasisiwi dari salah satu perguruan tinggi di Surabaya sekarang ia duduk di semester 4, persis satu angkatan dengan Yoga dan kawan-kawannya.

Rena: “Salah satu dari perempuan cantik yang ada disana pasti cewekmu ya?

Yoga: “Tuh ada yang punya semua.. yang empunya juga pada ngekor semua.. cuman aku aja yang sendirian dan bersedia jadi “Baygon” pengusir nyamuk buat mereka tuh, hehehe.. bercanda aja kok, mereka tuh sahabat baikku, jadi mereka juga bisa jaga perasaanku meski mereka saling berpasangan.. ayok aku kenalin ke mereka Ren..

Rena: “Gak usah Yog.. lain kali aja, ni aku harus cepet-cepet pulang.. aku takut kakek dan nenekku khawatir soalnya dari pagi aku belum pulang, ntar aku malah dikira ilang.. hehehe… seneng banget bisa kenal ma kamu Yog, eh apa kalian mau muncak malam ini juga ya?

Yoga: “Aku juga seneng banget kenal kamu Ren.. iya sih, rencananya kami naik jam 21.00 malam ini juga, moga aja hujannya gak deres-deres banget jadi kita gak kesusahan dijalan ntar..

Rena: “Kebetulan sekali, aku juga akan muncak sore ini, tapi dengan rombongan anak-anak kampung sini..

Yoga: “Emang ntar mau berangkat jam berapa Ren? Kita bisa bareng-bareng berangkatnya.. kan malah seru kalau ramai gitu..

 Rena: “ Aku berangkat jam 5 sore ini, jadi aku pasti akan sampai puncak Sumbing lebih dulu daripada kalian.. kita pasti bisa ketemu lagi di puncak sana..

Sementara itu teman-teman Yoga melihat dari kejauhan nampak Yoga sedang berdiri sendiri didepan pohon cemara itu.

Haris: “Yog..!! Yog..!! cepetan sini..  ngapain kamu  disitu..??  Boy: “ Si Yoga ngapain bengong di situ Ris… dah sinting kali tuh anak..

Yoga: “Iyaaaaa…. Bentarrrr…. sorry ya Ren, tuh temen-temen dah manggil aku.. kamu gak bawa payung ni Ren?

Rena: “Sesekali hujan-hujanan kan gak apa-apa Yog.. itung-itung mengulang masa kecil yang kurang bahagia.. hehehe..

Yoga: “Tunggu aku di puncak Sumbing Ren..

Rena hanya tersenyum dan mengulurkan tangannya menjabat tangan Yoga, tangan Rena yang dingin seolah menyatu dengan dinginnya kabut di kaki gunung Sumbing yang telah membekukan perasaan mereka saat itu, senyum Rena telah menembus jauh kedalam hati Yoga dan meninggalkan sebuah kedamaian yang belum pernah Yoga rasakan sebelumnya, sepertinya Yoga harus mengakui, untuk pertama kalinya ia telah jatuh hati dengan seorang gadis yang baru saja ia kenal sesingkat ini, Rena pun berjalan menyusuri pematang ladang tanaman kentang dan perlahan-lahan hilang tersapu kabut yang turun memeluknya perlahan, Yoga pun menuju tempat teman-temannya yang sudah lama menunggunya dengan hati yang masih berkecamuk dipenuhi rasa aneh yang sangat membuainya.. berbunga-bunga dan begitu bahagia..

Derry: “Ngapain tadi kamu berlama-lama disana Yog? Mencari sumber inspirasi ya? Hehehe.. Kita semua nungguin kamu dari tadi tuh..

Yoga: “Eitt.. eittt.. yang udah pada punya cewek gak boleh sewot dong, lihat temennya seneng dikit aja dah pada sirik gitu.. sayang kalian gak lihat dia dari dekat, bisa-bisa aku punya banyak saingan ntar.. namanya Rena.. dia anak Surabaya tapi sekarang juga sedang liburan seperti kita, dia tinggal di perkampungan depan sana tuh di rumah kakeknya..

Winda: “Cewek?? Rena?? Cewek mana yang kamu maksud Yog??

Nancy: “Udah lah.. nggak usah di ributin, lagian kamu sih Yog.. aneh-aneh aja dengan ngarang cerita ketemu cewek segala sih”

Yoga: “Hei.. siapa yang ngarang cerita? Kalian tuh yang aneh.. kalian kompak banget ya kalau sirik sama aku.. hehehe… gak apa2 deh, yang penting aku bahagia hari ini, gak nyesel deh jauh-jauh ke sini.. jadi gak sabar pengen muncak ni..

Yoga mengira kawan-kawannya hanya bercanda tentang apa yang mereka bicarakan saat itu, Yoga tidak tahu jika mereka benar-benar tidak melihat “Rena” sesosok gadis rupawan yang ia jumpai di bawah pohon cemara tadi.

Boy: “Yuk cepetan ke pos sekalian neduh di sana, ni dah gerimis.. apa kalian mau  basah kuyup disini?

Mereka segera bergegas menuju pos pendakian, nampak disana tiga orang penduduk juga sedang berteduh.. hujan pun turun dengan cukup deras mengguyur pucuk-pucuk daun cemara dan membasahi kembali daun-daun kapri yang masih nampak segar oleh sisa embun yang di bawa oleh dinginnya kabut yang turun dari lereng pegunungan Sumbing sore itu , mata Yoga tertuju kepada salah satu bangunan rumah berwarna kuning yang ditunjukkan oleh Rena sebagai rumah kakeknya itu.. ingin rasanya ia menuju ke rumah itu untuk segera menjumpainya kembali tapi sepertinya sangat tidak sopan jika ia nekat bertandang ke sana, bertemu dengan Rena pun baru pertama kali ini.. ia lebih memilih bersabar karena ia yakin akan bertemu Rena kembali.

Yoga: “Permisi pak.. numpang tanya pak, rumah besar yang bercat kuning itu rumahnya siapa ya pak?

Penduduk I: “Oo.. rumah itu ya mas, itu rumahnya pak Drajat.. kebetulan kami ini pekerja beliau, tadi kami sedang bekerja memanen kubis di ladang sebelah sana itu..

Winda: “Kenapa memangnya Yog ?

Yoga: “Rena yang aku bilang tadi tuh tinggal di sana, pak Draja itu adalah kakeknya Win..

Nancy: “Rena lagi.. Rena lagi..

Para bapak-bapak yang sedang berteduh dengan mereka nampak sedikit terkejut ketika Yoga membicarakan tentang hal itu..

Yoga: “Apa benar pak Drajat mempunyai keluarga dari Surabaya pak?

Penduduk II: “Iya mas.. anak beliau yang bernama bu Hesti menikah dengan orang Surabaya, ada apa tho mas? Mas kenal dengan keluarga beliau.. mas bilang tadi kenal dengan mbak Rena ya?

Yoga: “Iya pak.. sebenarnya saya baru saja mengenalnya.. tadi saya bertemu dengan Rena di seberang kebun teh itu pak..

Tiba-tiba wajah para bapak-bapak di sana terlihat bingung dan agak terkejut tapi mereka bertiga berusaha tenang dan menyembunyikannya.

Penduduk I: “Mbak Rena? Mas bilang tadi ketemu dengan mbak Rena? mas dan mbak-mbak ini aslinya dari mana tho? dari Surabaya juga ya?

Yoga: “Iya pak, saya baru saja ketemu dengannya.. ia bilang tinggal di rumah kakeknya, kami dari Semarang aja kok pak, kami sedang liburan dan berencana muncak malam ini pak..

Sambil tersenyum dan melirik kawan-kawannya Yoga berkata,

 Yoga: “Tuh kan, bapak-bapak ini aja tau tuh dengan yang namanya Rena.. huuuu, dasar sirikkkkk..

Boy: “Terang aja tau.. mereka kan penduduk kampung sini, hehehe.. maaf ya pak, kami semua ini memang suka bercanda.. Benar pak, kami semua dari Semarang..

Nancy menyimpan rasa cemburu, ia begitu penasaran dengan sosok Rena yang baru saja Yoga jumpai.. bahkan gadis secantik dirinya pun tak pernah mampu menaklukkan hati Yoga, tapi dengan seorang gadis yang baru saja ia jumpai, Yoga dapat memberikan reaksi sampai seperti itu.

Keyla: “Kami sempat mengira, kalau Yoga itu ketemu dengan kuntilanak lho pak.. untung aja yang namanya Rena itu bener-bener manusia, gak jadi takut aja deh.. hehehe.. memangnya Rena tuh cantik banget apa Yog sampe kamu terobsesi kayak gitu?

Mereka pun terlibat obrolan ringan sembari menunggu redanya hujan, tapi tiap kali Yoga menyinggung tentang Rena, entah kenapa para penduduk itu nampak mengalihkan pembicaraannya..

Penduduk I: “Mas Yog, sampean harus hati-hati..

Yoga: “Kenapa pak?

Penduduk I: “Nggak ada apa-apa.. hanya saja jalannya agak licin, apalagi habis hujan gede kayak gini.. jangan lupa di periksa dulu perlengkapan keamanan dan senter kalian, kalau saja nanti  malam kabut turun agak tebal maka jarak pandang kalian hanya sekitar 3-4 meter jadi kalian semua harus tetep berada dalam jarak yang rapat dan jangan sampai terpisah dengan rombongan kalian.

Yoga: “Iya pak.. terimakasih banyak atas sarannya, mari pak.. kami jalan dulu.

Nampak puluhan pendaki gunung nekat menerobos derasnya hujan sambil berjalan beriringan dengan ransel besar yang bersandar di punggung dan melambaikan tangan kepada mereka, liburan kali ini puncak Sumbing akan di ramaikan oleh kedatangan mereka.. musim liburan terindah yang pernah Yoga rasakan, puncak Sumbing seolah berseru memanggilnya untuk segera menemui Rena, gadis yang telah menawan hatinya beberapa saat yang lalu.

Setelah hujan agak mereda merekapun berpamitan dengan penduduk setempat dan melanjutkan perjalanan mereka.

Penduduk III: “Bukannya Rena itu cucunya pak Drajat yang meninggal dunia sekitar 1 tahun yang lalu karena terpeleset ke jurang saat berada di puncak Sumbing bersama kawan-kawannya itu kang?

Penduduk II: “Benar sekali kang.. kasihan sekali ya kang, dia harus meninggaldi usianya yang masih muda, dia itu anak yang cantik dan sangat sopan kepada siapapun.. hampir setiap tahun ia selalu datang ke desa kita ini.. puncak Sumbing dan kebun teh itu adalah dua tempat yang paling suka ia datangi sewaktu ia masih hidup..

Penduduk III: “Waktu itu aku dan beberapa penduduk lainnya mengikuti tim SAR yang mencari mbak Rena, setelah sehari semalam melakukan pencarian, akhirnya mbak Rena dapat kami temukan, tapi sayang dia telah meninggal karena kedinginan dan pendarahan yang cukup parah di kepalanya, dan saat kami temukan di tangannya masih memegang sekuntum bunga Eddelweis, sepertinya kepalanya menghempas bebatuan ketika terjatuh.. tadi anak muda bernama Yoga itu bilang kalau tadi bertemu dengan Rena yang mengaku tinggal di rumah pak Drajat.. itu mustahil kang, mustahil..

Penduduk I: “Jangan-jangan.. gadis yang ia temui tadi itu hantunya mbak Rena.. hiiiiiiiii….

Mereka segera menyudahi percakapan mereka dan berlari meninggalkan tempat itu dengan wajah ketakutan..                                                              Sementara itu Yoga dan kawan-kawannya berjalan di antara gerimis kecil yang masih saja enggan untuk berhenti menemani perjalanan mereka.. sekitar seratus meter dari mereka nampak rombongan pendaki yang tadi melambaikan tangannya kepada mereka sedang beristirahat di pos pendakian ke dua, dekat dengan pos itu ada sebuah warung kelontong kecil yang nampak masih buka.. Boy dan Haris menuju ke warung tersebut untuk membeli rokok dan beberapa botol air mineral tambahan.

Boy: “Ini uangnya bu, sudah gak apa-apa.. kembaliannya gak usah.. ibu simpan saja.. maaf bu saya mau tanya, apa benar di kampung sini ada yang namanya pak Drajat, beliau punya cucu dari Surabaya yang namanya Rena ya bu?

Ibu penjual: “Terimakasih mas, iya mas beliau punya cucu yang namanya mbak Rena.

Derry: “Kayak apa sih yang namanya Rena itu bu, apa dia cantik banget?

Ibu penjual: “Iya mas.. yang namanya mbak Rena itu bukan main cantiknya, tapi dia sudah meninggal dunia, ia terjatuh di ke jurang saat berusaha memetik bunga Eddelweis di lereng puncak Sumbing bersama kawan-kawannya.. karena jurang itu terlalu dalam dan berbahaya maka kawan-kawannya saat itu tidak berani melakukan tindakan penyelamatan dan terpaksa menunggu sampai tim SAR datang untuk melakukan pencarian..

Boy: “Kapan peristiwa itu terjadi bu??

Ibu penjual: “Kejadiannya sekitar 1 tahun yang lalu persis saat musim penghujan dan libur sekolah seperti sekarang ini.. mbak Rena itu orangnya supel dan baik banget, ia begitu ramah dengan siapa saja.. walau dia orang dari kota tapi ia tidak pernah berlagak dan sok bergaya mas.. bahkan dia sering ikut kegiatan warga kampung bahkan ikut memanen kubis dengan para pekerja di kebun, dia akrab dengan semua orang di kampung sini.. karena sewaktu masih hidup hampir tiap tahunnya almarhum mbak Rena selalu menghabiskan masa libur kuliahnya di rumah kakeknya itu.. sayang sekali usianya begitu pendek, ia telah meninggal dunia di usia yang cukup muda.. kami warga kampung sini merasa sangat kehilangan dan bersedih waktu itu. kenapa mas-mas ini tanya soal almarhum mbak Rena?

Haris mencolek lengan Boy dengan ekspresi wajah agak ketakutan, Boy pun faham maksud Haris, keringat dingin mengalir di tengkuk Boy karena menahan rasa takut yang tiba-tiba saja juga menjalari dirinya saat itu.

Boy: “Nggak kok bu.. gak ada apa-apa..

Ibu penjual: “Saya kira mas-mas ini temennya almarhum mbak Rena dari Surabaya..

Haris: “Kami semua dari Semarang kok bu, tuh kami dengan teman-teman kami di pos itu.. mari bu,terimakasih banyak.. ayo Boy, perasaanku nggak enak banget..!!

Boy: “Aku juga ris, ayo.

Mereka berdua segera pergi dari warung kelontong tersebut.

Ibu penjual: “Sepertinya ada yang mereka sembunyikan.. mereka bilang berasal dari Semarang, tapi kenapa bertanya tentang almarhum mbak Rena? **

 

Boy dan Haris sepakat untuk merahasiakan cerita itu dari kawan-kawannya terutama dari Yoga, mereka tidak ingin mengacaukan acara liburan kali ini dengan cerita yang cukup membuatnya bergidik itu.. kalau sampai para cewek juga tau masalah itu bisa-bisa mereka merengek-rengek agar membatalkan acara mereka dan mengajak pulang ke Semarang sore itu juga.. tapi ada sesuatu yang membuat mereka sedikit tenang, karena menurut bapak-bapak penjaga di pos kedua, ada sekitar 100-an orang yang akan naik ke puncak Sumbing malam itu.. **

Akhirnya mereka bertemu dengan beberapa rombongan pecinta alam dan pendaki lainnya, karena cuaca yang tak jua kunjung bersahabat.. mereka sepakat untuk melakukan pendakian bersama-sama. Dua puluh orang pendaki bersama mereka saat itu, menapaki jalan setapak licin yang di tumbuhi lumut dan semak belukar yang menghiasi sepanjang jalan yang mereka lewati.. kabut benar-benar tebal malam itu, jarak pandang hanya sekitar 2,5 meter jika ceroboh sedikit saja bisa berakibat fatal dan berbahaya karena disamping jalanan setapak itu adalah tebing yang cukup curam.. mereka saling bertukar cerita dengan para pendaki yang lain, semuanya nampak begitu gembira.. kecuali Boy dan Yoga, walaupun perjalanan itu begitu ramai tapi rasa takut terlanjur menghantui mereka berdua karena mereka telah mendengar cerita sebenarnya tentang Rena yang cukup membuat bulu kuduk mereka berdiri.. di antara mereka Yoga-lah yang paling gembira, ia ingin segera menjejakkan kakinya di puncak gunung Sumbing dan menemui Rena.

Jaket tebal yang mereka pakai tidak mampu melawan hawa dingin yang sekan merobek pakaian penghangat mereka itu dengan kuku-kukunya yang begitu tajam, rintik-rintik gerimis tetap setia merangkul malam yang kian mendekap dingin dalam pelukannya yang erat.. semerbak wangi bunga kopi yang bermekaran terhembus dari kebun-kebun penduduk, baunya begitu harum dan memberikan nuansa khas yang cukup aneh.. lembut tapi begitu menyimpan beratus rahasia yang tak pernah terkuak, sementara suara burung hantu dan binatang-binatang kecil menjadi melodi penghibur merdu yang turut menyempurnakan kisah yang mereka rajut.

Yoga: “Boy, kira-kira berapa jam lagi kita sampai di puncak Boy? Aku gak sabar pengen ketemu Rena.. ia pasti sudah sampai disana sekarang..

Mendengar nama Rena, Boy dan Haris merinding ketakutan… tapi mereka berusaha tetap tenang agar Yoga tidak menaruh curiga.

Boy: “Sekitar jam 4 pagi kita pasti sudah dipuncak Yog.. berarti 2 jam lagi kita bakalan sampai di sana.. aku juga gak sabar ingin segera melihat matahari, gelap dan keadaan seperti malam ini benar-benar mampu mengkerdilkan keberanianku sebagai laki-laki..

Yoga: “Ahh.. itu hanya perasaanmu saja, tidak ada yang perlu  kita takutkan Boy, bukan begitu Ris, Der?

Derry: “Yo’i bro.. ngapain takut, kayak anak belum disunat aja sih.. asal jangan ngompol di celana ya, soalnya ayah lupa bawain popok buat kalian..hehehe..

Haris berusaha menyembunyikan rasa takutnya dengan mengatakan kalau ia sama sekali tidak takut, andai saja Yoga dan Derry melihat raut wajah Haris saat mengatakannya tentu saja mereka tidak akan percaya sedikitpun.

Haris: “Huhh.. siapa juga yang takut? tuh si Boy yang ngomong gitu..

Keyla: “Pada ngomongin apa sih? Ganti topik yang laen kek..!!

Derry: “Si Topik lagi jualan bakso tuh di jalan Pemuda, hehehe..

Sayup-sayup Yoga mendengar suara lirih seorang perempuan memanggilnya.. seperti suara Rena, gadis yang ia jumpai tadi sore di kaki gunung, tapi ia mengacuhkan suara itu.. ia mengira itu hanyalah perasaannya saja.. sebenarnya Haris dan Boy juga mendengar suara itu, sepertinya suara itu hanya berjarak beberapa meter di belakang rombongan mereka.. mereka berdua semakin di liputi perasaan takut hingga mereka berdua mengajak cewek- cewek mereka pindah ke barisan tengah di antara pendaki-pendaki yang lain, Yoga bergumam sendiri.

Yoga: “Ahh.. mana mungkin, sekarang dia tentu hampir sampai puncak Sumbing bersama kawan-kawannya..**

Sesosok perempuan nampak melayang-layang di belakang barisan rombongan mereka malam itu, wajahnya terlihat begitu pucat dan murung, rambut hitamnya yang panjang tergerai bersama tiupan angin seolah seperti burung Rajawali sedang mengepakkan kedua sayapnya yang mengembang, setangkai bunga eddelweis berada dalam genggaman tangan dengan jemari-jemari lentiknya yang beku. Wangi semerbak seperti harum bunga kopi masih saja memayungi perjalanan iring-iringan para pendaki gunung Sumbing sepanjang malam itu, meski sebenarnya saat itu tidak ada lagi satupun pohon kopi di sekitar jalan yang mereka lewati.

Setelah hampir semalam suntuk berjalan..sampailah mereka di tempat yang mereka tuju.. puncak gunung Sumbing, kabut putih tipis menutupi tanah tempat mereka berdiri.. seakan mereka berada di alam lain yang keindahannya tidak mampu mereka gambarkan sebelumnya.. mereka telah berada di puncak ketinggian tertinggi, kumpulan perkampungan penduduk nampak seperti titik-titik kecil, kebun-kebun dan ladang mereka nampak seperti garis datar dan juga garis lengkung yang sangat rapi pola penataannya.. dataran luas terhampar di bawah tempat mereka berdiri saat itu, bahkan beberapa gerombolan awan yang melingkar memeluk pinggang ramping gunung Sumbing pun harus mengakui bahwa sekarang ketinggian yang biasanya mereka sombongkan telah bertekuk lutut berada di bawah kaki para pendaki itu.. mereka telah menaklukkan keangkuhan gunung Sumbing setelah melewati perjalanan yang cukup berat, hujan sepanjang malam dengan kabut tebal yang menghalangi jarak pandang mereka malam tadi mampu mereka lewati.

Langit di ujung timur mulai nampak sedikit kuning kemerah-merahan, pertanda sebentar lagi saat-saat yang merek nantikan akan sampai, “Sun-rise” istilah asing yang akrab di telinga para pendaki gunung yang rela menempuh perjalanan yang tidak mudah untuk menikmati waktu terbitnya matahari itu.. nampak beberapa romobongan pendaki telah berada di sana sebelum mereka..bahkan diantara mereka sedang memancangkan tiang untuk memasang tenda-tenda mereka.. masing-masing dari mereka melepaskan ransel berat yang membuat punggung mereka terasa pegal, pagi buta itu terasa sangat indah.. walaupun masih gelap, pemandangan dari puncak Sumbing memang menyajikan lukisan alam yang maha sempurna, warna-warni yang tertuang di bentangan kanvas kehidupan serta goresan kuas oleh Tuhan-Sang penguasa jagad raya yang nampak di mata mereka begitu mempesona.. mereka juga tidak sabar ingin segera menikmati hangatnya segelas kopi sebagai teman di pagi yang dingin itu.. dari tas ransel yang berisi perbekalan mereka mengeluarkan beberapa batang paravin dan menyalakannya untuk memasak air ,segelas kopi tentu akan semakin menyemarakkan pagi yang ramah di puncak gunung itu.

Haris: “Fuuhhhh.. akhirnya kita sampai juga Boy..

Boy dan Haris mampu bernafas dengan lega setelah sampai di puncak, ketakutan mereka segera sirna karena di puncak begitu ramai pagi oleh beberapa rombongan pendaki lainnya..                                                                                                                        Yoga dan kawan-kawannya segera mencari tempat untuk mendirikan tenda, setelah mendapatkan tempat yang cukup bagus mereka pun memindahkan barang bawaan dan memasang tenda doom mereka masing-masing.. begitu selesai dengan pekerjaan mereka, Yoga nampak berjalan kesana kemari mencari seseorang.. Rena, tentu saja ia mencari Rena.. ia menanyakan kepada rombongan lain yang terlebih dulu sampai di puncak saat itu.. tapi mereka mengaku tidak mengenal Rena, tidak ada anggota pendaki mereka yang bernama Rena.

Nampak oleh Yoga beberapa pendaki yang sedang menghangatkan diri dengan membuat api unggun kecil di sebelah barat, merekalah satu-satunya kelompok pendaki yang belum sempat ia tanyai.. nampak ada beberapa cewek diantara mereka, semoga saja Rena adalah salah satu diantara mereka.. belum sampai ia melangkah menuju ke tempat mereka, suara merdu yang masih begitu lekat di ingatannya terdengar memanggil namanya..

Seorang gadis jelita telah berdiri di dekatnya.. Rena nampak sangat gembira bertemu dengan Yoga pagi itu.. Rena kelihatan begitu cantik dengan jacket berwarna putih dan celana jeans berwarna abu-abu. Ada perasaan aneh yang tidak bisa Yoga cerna begitu saja, senyum dan tatapan mata Rena benar-benar telah membiusnya.

Yoga: “Rena.. baru saja aku mau nanya ma kelompok kamu tuh, kamu naik bersama mereka ya? Jam berapa sampai puncak Ren?

  Rena: “Iya, aku naik bersama mereka semalam.. hujan yang gak reda-reda dank abut yang cukup tebal sempat memperlambat perjalanan kami..

Yoga: “Aku malah sempat mengira kalau kamu gak jadi muncak,  karena sudah dari tadi aku nyariin kamu Ren..

Rena: “Ya nggak lah Yog, gunung ini sudah seperti rumahku sendiri, aku bisa naik kapan saja aku mau.. lagipula mana mungkin aku bohong denganmu.. aku kan sudah janji bahwa kita akan ketemu disini.

Yoga: “Aku sangat senang bisa ketemu denganmu lagi Ren, tapi aku gak enak Ren..

Rena: “Gak enak kenapa Yog?

Yoga: “Jangan-jangan ada yang salah faham dan marah ma aku gara-gara aku ngobrol ma kamu, tuh temen-temenmu pada ngeliatin semua ke sini..

Rena: “Gak usah mikir gitu Yog, mereka semua cuman temen kok, kamu tanya aja ke mereka kalau gak percaya..

Yoga: “Percaya deh.. percaya..

Yoga memandang Rena dengan tatapan penuh arti, tatapan mata yang dalam tetapi begitu mudah di tafsirkan.. begitupun dengan Rena ia tersenyum malu dan menunduk ketika bola matanya yang indah beradu dengan tatapan mata Yoga yang begitu teduh.

Para pendaki yang dimaksud Yoga sebagai teman-teman Rena semua kebingungan melihat Yoga tersenyum-senyum dan berbicara seorang diri.

Rena: “Yog, aku tunjukkan satu tempat yang indah untuk menikmati Sun-rise pagi ini.. tempatnya di ujung tebing itu..

Sambil menarik tangan Yoga dan menunjuk suatu tempat yang cukup jauh dari kawasan camping mereka, Yoga pun menyambut tangan Rena dan tidak sungkan menggenggam jemari Rena sambil berjalan.

Mereka melewati doom kawan-kawan Yoga.. Nancy sedang berada di depan doom sambil memasak air panas.. Haris dan Boy sedang menuju gundukan bukit kecil yang ada di puncak Sumbing untuk menancapkan sebuah bendera berisi nama-nama dan tanda tangan mereka semua yang  telah mereka persiapkan sebelumnya.. sedang Derry, Keyla dan Winda sedang asyik bernyanyi-nyanyi dengan iringan gitar bersama para pendaki lainnya yang telah menjadi sahabat mereka sejak malam tadi.

Yoga: “Ren.. aku kenalin ke temen-temenku ya.. mereka penasaran banget pengen tau kamu tuh..

Rena: “Oke deh Yog, tapi aku kan belum ngenalin kamu ma temen-temenku juga?

Yoga: “Kan nanti aku bisa nyamperin temen-temen kamu lagi.. tuh temenku yang di depan doom namanya Nancy..

Nancy melihat Yoga berjalan sambil menggandeng tangan seorang gadis.. Nancy tersenyum dan melambaikan tangannya kepada mereka berdua, dalam hati ia bertanya-tanya.. apa gadis itu yang bernama Rena? Gadis itu sangat anggun dan rupawan, pantas saja kalau Yoga langsung jatuh hati kepadanya.. kecantikannya sungguh luar biasa dan seakan menyatu dengan keindahan alam yang ia saksikan.

Nancy: “Hai, kenalkan aku Nancy.. kamu pasti Rena ya? Sepanjang jalan Yoga selalu saja bercerita tentang kamu..

Ketika Nancy berjabat tangan dengan Rena, telapak tangan gadis cantik itu begitu dingin dan kaku seperti balok es.. aroma wangi bunga kopi begitu tajam menusuk hidungnya, ia sempat bertanya dalam hati, ”..mana mungkin ada pohon kopi di sekitar sini.. tapi mungkin saja itu bau bunga kopi dari kebun-kebun di lereng bawah sana..” tapi sedikitpun Nancy tidak menaruh curiga dan sempat berfikir macam-macam..

Rena: “Namaku Rena, senang berkenalan denganmu Nancy.. memangnya ada apa denganku sampai Yoga bercerita tentang aku?

Nancy: “Kamu Tanya saja ma Yoga tuh.. hehehe.. dia bilang dia telah jatuh hati saat pertama bertemu denganmu di dekat perkebunan teh itu Ren.. bukannya begitu Yog?

Yoga: “Jangan malu-maluin aku dong.. kalau tau bakalan kayak gini tadi gak aku ajak kenalan ma kamu tuh.. hehe..

Wajah Yoga memerah karena malu dan salah tingkah di depan Rena, Rena pun nampak malu dan melirik Yoga ketika Nancy bilang bahwa Yoga menyukainya.. ada baiknya juga seloroh Nancy saat itu, mereka berdua jadi tahu jika mereka merasakan perasaan yang sama.

Yoga: “Temen-temen yang lain pada kemana sih?

Nancy: “Tuh, Haris dan Boy lagi nancepin bendera rombongan kita.. sedang trio kwek-kwek itu lagi konser perdana ma grup band mereka yang baru,, hehehe..

Yoga: “Aku jalan-jalan ke sebelah sana bentar ya Ren, bilang aja ma mereka aku balik sehabis Sun-rise..

 Nancy: “Ok deh Yog, ntar aku sampein.. ati-ati ma Yoga lho Ren, dia tuh termasuk jenis cowok yang belum jinak.. hehehe..

Rena: “Ahh.. bisa aja kamu, aku gak takut kok ma dia.. hehe.. aku jalan dulu ya, sampai ketemu lagi nanti.. (Rena berbisik dan mencubit mesra lengan Yoga).. kamu belum jinak ya Yog?? Hihihi..

Yoga: “Memangnya aku ini mirip kambing hutan apa? hehehe..

Yoga pun membalas cubitan di lengannya dengan mengusap-usap lembut rambut hitam Rena.

Yoga dan Rena meninggalkan Nancy yang masih saja memandangi mereka berdua, ada rasa cemburu yang begitu kuat membakar hatinya saat melihat Yoga bersama Rena, gadis cantik yang sudah bisa dipastikan telah menjerat hati Yoga.. tapi ia berusaha untuk sadar jika ia harusnya turut bahagia atas rasa bahagia yang Yoga alami.. lagipun ia sudah punya Boy, pemuda baik yang harusnya ia cintai dengan sepenuh hatinya.. tidak seharusnya ia merasa cemburu kepada Rena.. dan Yoga pun berhak memilih siapa saja yang akan ia sukai.

Haris dan Boy kembali ke doom setelah selesai memancang bendera mereka.

Boy: “Sayang.. airnya sudah mendidih tuh.. buat kopi panas kayaknya enak banget ni..

Nancy: “Tuh, mulut kamu juga udah mendidih dari kemaren ngisep rokok mulu.. kalian itu kayak gak tau bahaya rokok aja sih, susah banget kalau di suruh berhenti merokok..

Haris: “Ini namanya sumbangsih dan bukti bahwa kami cinta produk dalam negeri, dengan mengkonsumsi rokok berarti kami juga telah menyumbangkan sedikit untuk kemakmuran negeri kita ini.. bukankah rokok itu salah satu asset dan penghasil devisa terbesar di negara kita? Apalagi kalau hawanya dingin begini, bibir kami pasti monyong kalau gak ada rokok.. ya kan Boy?

Boy: “Gak mau jawab ah.. ntar yang ada malah perang dunia ke tiga.. nih ada yang monyong juga di depanku.. takut ah.. hehe.. eh, sayang.. si Yoga kemana sih? Sehabis masang doom kayaknya dia langsung ngilang aja tuh..

Nancy: “Baru aja dia ke sini ma cewek barunya tuh..

Haris: “Cewek? Mangnya dia sama siapa?

Nancy: “Tadi dia kenalin gadis yang namanya Rena itu ma aku, pantesan aja Yoga kebayang-bayang mulu, yang namanya Rena itu cantiknya bukan main.. untung kalian gak ketemu si Rena.. kalau aja kalian ketemu Rena, mata jelalatan kalian dan isnting playboy cap kakitiga kalian pasti kambuh lagi tuh..  baru sekitar 5 menit yang lalu.. mereka pergi ke arah sana tuh..

Boy: “Rena katamu? Kamu gak bercanda kan sayang.. kamu kenalan ma gadis itu? mana mungkin Yoga benar-benar bersama gadis yang bernama Rena itu..

Nancy: “Apanya yang tidak mungkin sih? kalian berdua mau ikut godain si Rena juga ya??

Haris: “Boy.. gimana ini Boy?

Haris nampak ketakutan dan mengguncang-guncang bahu Boy yang tertegun mematung, Nancy pun hanya bingung melihat reaksi Boy dan Haris ketika mendengar bahwa Yoga benar-benar sedang bersama gadis yang bernama Rena itu, bahkan Yoga baru saja mengenalkannya dengan Nancy.

Nancy: “Sebenarnya ada apa sih?

Boy: “Sebentar sayang, gak ada apa-apa kok.. aku panggil teman-teman kita dulu, nanti aku ceritakan semuanya.. kita berdoa saja semoga gak ada apa-apa yang menimpa Yoga..

Nancy: “Kamu itu ngaco deh.. kalau ngomong tuh yang jelas, memangnya kenapa dengan Yoga? **

Rena menggenggam erat tangan Yoga dan menyusuri bebatuan menuju ke tempat yang di tunjuk olehnya.. sampailah mereka di sana, mereka berdua menuruni tebing licin menuju ke sebuah batu besar yang berada di tepian jurang.. fajar di arah timur mulai membiaskan warna merahnya yang memuncrat seperti semburan darah, sinar matahari yang mulai merambat pelan pun menghardik mega-mega hitam yang masih berani menghalangi jalannya.. di tepian jurang yang cukup curam itu nampak sangat cantik oleh berpuluh Eddelweis dengan bunganya yang putih bersih.. dan di tempat itulah Yoga mengutarakan perasaan yang melanda hatinya sejak pertama bertemu dengan Rena.

Yoga: “Maaf Ren, mungkin aku terlalu lancang dengan membicarakan semua ini, tapi sejujurnya memang itulah yang aku rasakan.. aku merasa begitu dekat denganmu saat pertama kita bertemu dan bertegur sapa waktu itu.. beberapa menit yang kulalui bersamamu di kaki gunung itu telah menorehkan rasa yang cukup dalam pada hatiku, entah kenapa aku takut.. takut jika tak pernah punya kesempatan lagi untuk mengungkapkannya kepadamu, tentu hal ini kau anggap konyol dan tidak masuk akal karena kita belum begitu saling mengenal satu sama lain.. tapi aku benar-benar telah jatuh hati kepadamu Ren, aku siap mendengar jawaban apapun darimu.. kau tidak perlu sungkan, jika memang kau enggan menerimaku kau bisa mengatakannya sekarang.. dan setelah semua ini kuharap kita masih akan tetap berteman

Rena: “Aku bingung harus mulai dari mana untuk menjawab pertanyaanmu Yog, karena sejujurnya aku juga merasakan hal itu.. aku merasa begitu damai ketika bertemu denganmu, sebuah kedamaian yang sepertinya hanya akan di berikan oleh Tuhan kepada insannya yang sedang merasakan jatuh cinta.. aku juga berusaha menyangkal perasaanku ini Yog, tapi perasaan ini terlalu kuat untuk ku lawan.. cinta tidak pernah memerlukan banyak penjelasan Yog, karena rasa adalah sesuatu yang bersifat absurd.. aku juga harus jujur kepada diriku sendiri, jika aku juga telah jatuh hati kepadamu sejak pertama kau menyapaku dengan senyummu di sore yang berkabut itu..

Yoga memeluk tubuh Rena dengan segenap perasaannya.. rasa bahagia kian berkecamuk didalam hatinya, Rena menyandarkan kepalanya di dada Yoga yang bidang.. kemudian mereka saling berkisah di atas batu besar itu sembari menunggu saat-saat matahari terbit.. fajar buta puncak Sumbing harus mau menjadi saksi jika pagi itu ada dua hati yang telah saling terpaut disana..

Yoga: “Sepertinya kakiku lecet Ren, rasanya perih banget..

Yoga melepas sepatunya dan memeriksa kakinya, ternyata benar kakinya melepuh karena safety-boot yang ia pakai terlalu sesak..

Rena: “Apa nggak dingin banget kalau gak pake sepatu Yog?

Yoga: “Daripada sakit gini Ren.. mendingan gak usah ku pakai aja dulu.. aku bawa sandal kok, jadi nanti aku bisa pakai sandal dulu sambil nunggu kakiku baikan..

Ternyata benar apa yang dikatakan Rena, hawa dingin pegunungan yang menusuk langsung menjalari kedua kakinya, tapi itu terasa lebih baik daripada menahan sakit karena sesaknya sepatu yang membuat kakinya melepuh itu.

Rena: “Bunga Eddelweis itu sangat indah ya Yog..

Yoga: “Kamu tidak tau Ren, sesungguhnya bunga-bunga itu begitu iri dan malu terhadapmu.. karena keindahan yang mereka miliki tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan kecantikanmu.. apa kamu mau aku petikin bunga itu Ren?

Rena: “Gak usah Yog.. bahaya, tebingnya terlalu licin.. bunga itu tidak seindah yang kita lihat.. biarkan saja ia mekar dan menjadi penghias tebing itu, kamu tau.. aku pernah terjatuh di tempat ini setahun yang lalu saat mencoba memetiknya..

Rena bercerita jika setahun yang lalu ia pernah terjatuh di tempat itu, waktu itu Rena bersama kawan-kawannya dari Surabaya mendaki gunung Sumbing bersama-sama, sebelum berangkat Rena sudah di peringatkan oleh kakeknya agar tidak tertarik untuk memetik bunga Eddelweis di sana, karena banyak hal yang tidak bisa dijelaskan oleh nalar dan akal sehat mengenai kemisteriusan gunung Sumbing beserta bunga Eddelweisnya yang menawan itu, tapi Rena tetap nekat untuk memetiknya dan tidak menghiraukan nasehat kakeknya, akhirnya ia terpeleset dan jatuh ke jurang di bawah sana yang cukup dalam itu, hujan yang deras disertai angin kencang dan suhu yang begitu dingin waktu itu sempat menyulitkan tim SAR yang datang untuk menyelamatkannya.. setelah seharian melakukan pencarian akhirnya tim SAR yang di bantu oleh penduduk setempat berhasil menemukannya..

Yoga: “Untung saja kau selamat Ren, jurang itu cukup dalam.. aku saja tidak bisa melihat dasarnya karena tertutup kabut tebal di bawah sana..

Rena: “Kalau saja tim penolong tidak bisa menemukanku waktu itu, mungkin saja aku akan terpenjara selamanya di kedalaman jurang gelap dan berkabut di bawah sana dan menjadi penghuni gunung ini sepanjang waktuku Yog..

Yoga: “Itu adalah salah satu bukti bahwa Tuhan masih menyayangimu dengan menyelamatkanmu dari peristiwa naas itu.. jika saja waktu itu kau tidak selamat tentunya kita tidak akan pernah bertemu dan bersama seperti sekarang Ren..

Rena: “Entahlah Yog, tapi aku juga percaya jika Tuhan memang mengatur semua ini agar kita bertemu.. Tuhan selalu  menyayangi semua makhluk ciptaannya..

Wajah Rena yang ceria tiba-tiba nampak murung, jelas sekali jika ada kesedihan yang ia pendam dan hanya ia sendiri yang tahu.

Rena: “Telah lama aku menunggu seseorang sepertimu untuk menemani kesendirian yang menyiksaku Yog, mungkin inilah salah satu alasan kenapa aku sangat suka untuk mendatangi tempat ini.. karena Tuhan telah mengatur pertemuan kita untuk saling mengenal dan saling mengisi kesepian kita dengan sedikit kebahagiaan.. andai saja Tuhan mempertemukan kita setahun yang lalu Yog.. tentu aku akan sangat lebih bahagia.

Yoga: “Tidak ada yang terlambat diantara kita Ren, justru sekaranglah waktu yang tepat bagi kita untuk memulai semuanya..

Rena hanya tersenyum mendengar perkataan Yoga, sebuah senyuman getir yang nampak sekali dipaksakan..

Rena: “Banyak hal yang belum kau ketahui tentang siapa aku Yog.. kau laki-laki yang baik, aku sangat takut jika kau akan melupakanku begitu kebersamaan kita disini berakhir..

Yoga: “Ren, cukuplah apa yang aku tahu tentangmu seperti saat ini saja.. setahuku hanya kaulah yang mampu menumbuhkan bunga dan mampu memekarkannya dengan sempurna di taman hatiku.. aku tidak perlu tahu lagi selain hal itu.. mengenai hubungan kita nanti, kita lah yang akan menentukannya Ren.. aku tidak bergurau kepadamu tentang perasaanku ini Ren..

Rena: “Aku percaya denganmu Yog, tapi aku harus minta maaf karena telah membuatmu mencintaiku, karena apa yang kita rasakan saat ini adalah sesuatu yang tidak mungkin dapat kita lanjutkan.. semuanya pasti berakhir di saat kau tahu siapa aku yang sebenarnya..

Yoga: “Aku semakin tidak faham arah pembicaraanmu Ren.. tidak ada yang perlu dimaafkan sama sekali karena ini sama sekali bukan kesalahan, aku mencintaimu dan begitu juga kau.. itu saja sudah lebih dari cukup..!! siapapun kau, kau akan tetap menjadi “Rena” yang aku cintai..

Rena: “Aku bukan Rena seperti yang saat ini kau kenal.. dan kisah kita berjalan terlalu cepat Yog, meski begitu.. sebenarnya semua ini sudah terlambat.. kisah kita telah berakhir saat kita hendak memulainya..

Yoga: “Kata-katamu terlalu melangit untuk aku fahami, yang aku tahu setiap manusia yang terlahir di dunia ini sudah mempunyai takdir mereka masing-masing.. siapapun tidak bisa mengingkari takdirnya sendiri dan aku berusaha untuk meyakini bahwa kebersamaan kita sekarang ini adalah bagian dari ketentuan-Nya, mungkin memang masih banyak hal yang belum ku ketahui tentangmu dan sepertinya banyak kisah yang masih enggan kau ceritakan kepadaku dan aku tidak akan pernah tau jika kau lebih memilih menyimpannya sendiri, maaf Ren.. kamu gak keberatan kan jika aku merokok?

Rena hanya menggeleng dan menundukkan wajahnya, Yoga mengambil sebungkus rokok dari sakunya, ia pun menyalakan sebatang rokok kemudian menghembuskan asapnya yang berbaur dengan kabut pagi itu, ia memalingkan tubuhnya dan memandang kerlap-kerlip lampu penerangan rumah penduduk kampung nun jauh di kaki gunung..  tanpa ia sengaja korek gasnya terjatuh ketika hendak memasukkan kembali ke sakunya.. korek itu jatuh dan tersangkut di akar bunga anggrek batu yang juga tumbuh liar di antara bebatuan di tebing itu, hanya sekitar 1 meter di bawah batu tempat ia duduk, Yoga bermaksud mengambilnya dengan menurunkan sebelah kakinya untuk berpijak pada bebatuan yang banyak di tumbuhi lumut yang cukup licin itu.. dan dengan sedikit membungkukkan badannya ia pasti dapat meraihnya.. sayang batu yang ia pijak sangat licin, seolah-olah ada sepasang tangan yang mendorong tubuhnya dengan kuat.. Yoga terpeleset dan langsung terpelanting ke dalam jurang.. teriakannya yang keras seolah terbungkam oleh gelap dan kekarnya bebatuan terjal yang memenuhi jurang itu.

Sementara Rena masih tertunduk dan tidak bergeming, ia sama sekali tidak memperdulikan Yoga yang sedang dalam intaian maut.  Sosok cantik Rena perlahan-lahan berubah.. jaket putih yang ia pakai hampir bertukar warna menjadi merah karena aliran darah yang seketika mengalir dari luka-luka yang begitu saja muncul di kepala dan wajahnya.. kedua matanya yang indah dan sayu itu pun mengalirkan darah, separuh wajah cantiknya nampak hancur dengan luka yang menganga.. wajahnya begitu pucat dan nampak begitu murung, semerbak harum aroma wangi memenuhi puncak Sumbing waktu itu.. tiba-tiba tubuh Rena melayang beberapa meter di atas tanah dan melesat turun dengan cepat menuju jurang yang menganga di depannya..**

Di dasar jurang yang tertutup kabut tebal itu nampak sesosok perempuan dengan separuh mukanya yang hancur dan pakaian yang bersimbah darah sedang duduk bersimpuh menatap sedih seorang pemuda yang sedang tergeletak di depannya, sepertinya Yoga telah terselamatkan oleh beberapa tumbuhan perdu yang cukup rimbun, sehingga tubuhnya tidak langsung terjatuh menghempas bebatuan yang memenuhi dasar jurang itu. Wajah  Yoga nampak memar dan sedikit berdarah. Sosok perempuan yang tak lain adalah “Rena” itu membelai wajah Yoga lembut..

Rena: “Maafkan aku Yog.. aku terlalu takut kehilanganmu, sehingga aku hampir saja berbuat bodoh dengan mencoba mencelakaimu.. seharusnya aku justru melindungimu bukannya malah mencelakakanmu seperti ini.. dunia kita telah berbeda Yog, kau berhak untuk mendapatkan wanita yang baik.. aku sangat berterimakasih kepadamu, karena kau telah memberikan sesuatu yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.. “Mencintai dan dicintai oleh seorang laki-laki..” seumur hidupku aku belum pernah menjalin cinta dengan siapapun, aku tau kau akan sangat terpukul jika telah mengetahui cerita sebenarnya tentang aku.. mungkin kau akan takut bahkan juga sangat membenciku.. tapi begitu melihatmu di kaki gunung waktu itu, aku merasa tidak punya pilihan selain menampakkan wujudku.. aku merasa engkaulah orang yang aku tunggu selama ini hingga membuatku enggan untuk meninggalkan tempat yang telah merenggut kehidupanku setahun yang lalu. Tapi dengan mengenalmu telah menyadarkanku, bahwa tempatku bukan disini dan bukan untuk bersamamu Yog.. aku berjanji setelah semua ini terjadi, aku akan tenang di alamku sendiri.. alam sunyi yang selalu berselubung sepi.

Dalam keadaan setengah sadar Yoga mendengar semua yang dikatakan Rena.. ia sempat membuka matanya yang terasa begitu berat beberapa saat, samar-samar ia melihat wajah kekasihnya itu begitu pucat dan penuh luka menganga berlumuran darah.. tidak ada rasa takut yang hinggap di hatinya sedikitpun.. walalupun saat itu ia tahu bahwa “Rena” bukanlah manusia seperti dirinya..

Ingin rasanya ia menggerakkan tangannya dan membelai wajah Rena yang murung dan sedih, luka dan aliran darah yang mengental di muka Rena tak mampu menyembunyikan kesedihan yang memenuhi raut wajahnya.. banyak kata yang sebenarnya ingin ia sampaikan kepada Rena, tapi belum sampai ia menggerakkan tangan dan membuka bibirnya, rasa pening dan sakit di belakang kepalanya yang sempat terbentur bebatuan memaksanya untuk kehilangan kesadarannya, dalam hati ia berkata, “..Tidak ada yang perlu di maafkan Ren, aku mengerti bagaimana perasaanmu.. aku tidak akan pernah menyesal telah mengenal dan menjadi bagianmu walaupun hanya sebentar saja, kau akan tetap hidup dalam hati dan ingatanku..”. **

Boy memanggil Keyla, Winda dan Derry.. begitu mereka semua berkumpul, maka ia menceritakan perihal “Rena” yang ia dengar bersama Haris dari si ibu pemilik warung di dekat pos pendakian ke 2.. begitu juga dengan sikap aneh yang ditunjukkan bapak-bapak yang berteduh bersama mereka yang nampak begitu terkejut ketika mendengar nama “Rena”..

 

Nancy: “Mana mungkin si Rena sudah meninggal dunia, jelas-jelas  aku bertemu dan ngobrol dengannya.. bahkan aku sendiri sempat berjabat tangan dengannya tadi..

Nancy baru tersadar jika telapak tangan dan jari jemari Rena terasa begitu dingin dan kaku untuk ukuran manusia.. dan aroma wangi yang tiba-tiba bersama datangnya Rena dan hilang begitu saja ketika Rena pergi bersama Yoga tadi.. wajah Rena yang cantik juga nampak begitu pucat..

Nancy: “Jangan-jangan Rena itu benar-benar… hiiiiiii… mereka pergi ke arah sana, mereka pasti belum jauh..

Derry: “Tunggu dulu, siapa tau dia bukan “hantu Rena” seperti yang kalian maksud, siapa tau dia benar-benar salah satu pendaki malam ini, ada 100 orang lebih yang berada di puncak Sumbing pagi ini.. bisa jadi kan kalau “Rena” adalah salah satu anggota dari rombongan mereka? Tapi bagaimanapun kita harus mencari Yoga sekarang.. jangan sampai sesuatu yang buruk terjadi padanya, selama kita yakin apapun akan pasti dapat kita hadapi bersama-sama.. aku akan minta bantuan beberapa orang dari rombongan lain.. mereka pasti bersedia membantu kita.

Derry: “Win.. kalian bertiga gak usah ikut, sebaiknya kalian kalian tanyakan kepada rombongan pendaki yang lain, apa ada salah satu anggota mereka yang bernama Rena dengan ciri-ciri yang Nancy lihat tadi.. sekalian tanyakan juga kepada rombongan pendaki lainnya..

Mereka pun segera membagi tugas, Derry, Boy dan Haris akan mencari Yoga bersama beberapa kawan pendaki dari rombongan lain, sementara Winda, Nancy dan Keyla mencari informasi tentang Rena dari kelompok pendaki lain yang ada di sana.                                                                                                                                                                                                                             Derry, Boy, Haris  dan limabelas pendaki lainnya segera pergi ke arah yang di tunjukkan oleh Nancy.. karena masih agak gelap mereka menyalakan torchlight sambil memanggil-manggil nama Yoga.. agar lebih efisien mereka membagi kelompoknya menjadi 3 kelompok, kelompok Haris langsung menuju ke timur sesuai arah yang di tunjukkan Nancy, kelompok Boy menyisir puncak sebelah barat, dan Derry menyisir area puncak sebelah utara..  hampir 1,5 jam mereka melakukan pencarian tapi Yoga belum berhasil mereka temukan, setiap penjuru puncak sumbing telah mereka susuri.. teriakan-teriakan mereka yang memanggil nama Yoga hanya terjawab oleh pantulan suara mereka sendiri yang menggema dan saling menyahut.

Keadaan menjadi semakin tegang ketika Keyla, Nancy dan Winda beserta beberapa pendaki yang menyusul Derry dan memastikan bahwa tidak ada satupun dari semua pendaki yang ada di sana bernama “Rena”..

Keyla: “Jadi siapa sebenarnya gadis yang bertemu dengan Nancy tadi pagi dan saat ini sedang bersama Yoga? Apa dia benar hantunya Rena?

Derry: “Entahlah, yang jelas kita harus menemukan Yoga..

Matahari pun menyembul di antara bongkahan mega yang saling memagut mesra dalam naungan fajar memerah pagi itu.. sinarnya yang hangat mulai merayap perlahan menyentuh kulit mereka dan mengusir hawa dingin yang telah menemani mereka semalam suntuk.. seharusnya pagi itu menjadi pagi yang penuh dengan keceriaan, tapi tak ada seorangpun dari mereka yang mampu menikmati keindahan fajar telah yang mereka nantikan itu.. yang ada di kepala mereka hanyalah bagaimana nasib Yoga sekarang, bagaimanapun caranya Yoga harus mereka temukan..                                                                                            dari arah puncak sebelah timur, terdengar teriakan Haris memanggil kawan-kawannya…

Haris: “Der.. Boy.. cepat kemari…!!!

Boy: “Mungkin mereka sudah menemukan Yoga.. ayo kita ke sana..

Alangkah terkejutnya mereka semua ketika ternyata Haris hanya menemukan sepasang sepatu Yoga yang sepertinya sengaja ia tinggal di atas batu.. sebuah batu besar yang berada di tepi tebing.. dibawahnya terlihat jurang yang sangat dalam, curam dan tertutup kabut.. dan sangat jelas jika tebing itu yang menganga di hadapan mereka itu adalah jalan buntu.. tidak ada jalan lain menuju dasarnya selain menuruni jurang dalam itu, dan sangat tidak mungkin dilakukan dengan tangan kosong.. sementara Yoga tidak membawa peralatannya sedikitpun.. semua peralatan mendakinya ia tinggalkan bersama tas ranselnya di dalam tenda.. jikapun Yoga saat itu memang berada di dasar jurang dengan selamat itu tentunya ia akan menjawab teriakan  kawan-kawan yang memanggilnya, pasti tempat inilah yang Yoga dan “gadis” itu tuju.. karena dari atas batu itu pemandangannya sungguh menakjubkan.. di lerengnya yang curam dan terjal banyak di tumbuhi bunga Eddelweis yang sering menjadi incaran para pedaki.. satu-satunya pertanyaan besar yang mengganjal fikiran mereka adalah mengapa Yoga justru melepas safety boot-nya?

Derry: “Kita akan turun mencari Yoga.. semoga saja Yoga dapat kita temukan dalam keadaan baik-baik saja..

Derry dan 5 orang pecinta alam senior yang sudah berpengalaman matang dalam SAR segera bersiap.. tidak ada jalan lain bagi mereka selain harus menuruni tebing curam itu dan mereka akan mencari Yoga sampai menemukannya. **

Setelah berhasil menuruni tebing yang yang curam itu, sampailah mereka di dasar jurang.. batu-batu di dasar jurang itu sangat terjal, kemungkinan Yoga untuk dapat terselamatkan sangatlah tipis.. dengan harap-harap cemas mereka segera mencari tanda-tanda keberadaan tubuh Yoga, mereka yakin akan menemukannya walau dalam keadaan paling menyedihkan sekalipun, karena dasar jurang itu tidaklah begitu luas..

Tidak lama kemudian mereka melihat seorang wanita yang berdiri membelakangi mereka, yang hanya berjarak beberapa langkah dari mereka berdiri.. di depannya berbaring tubuh Yoga, aroma harum yang tidak asing bagi para pendaki itu ketika menaiki gunung Sumbing malam tadi tercium begitu tajam di dasar jurang itu.. rasa takut melanda mereka, karena yang mereka tahu bahwa yang berdiri di hadapan mereka saat itu bukanlah manusia.. salah satu dari tim penolong itu mengarahkan torchlight-nya kepada sosok wanita tersebut, ketika mereka akan berjalan mendekatinya.. jantung mereka seakan berhenti berdegup ketika wanita itu menoleh, sosok itu menatap mereka dengan pandangan yang sedih dan sayu, bukan dengan pandangan menakutkan seperti yang telah mereka bayangkan sebelumnya.. walaupun wajahnya di penuhi luka dan darah yang mengalir segar, masih cukup jelas jika ia sebenarnya adalah gadis yang sangat rupawan..

Rena: “Kalian jangan takut, aku tidak akan mengganggu kalian.. kalian tidak perlu mengkhawatirkan Yoga.. dia selamat dan baik-baik saja, sampaikan saja maaf dan rasa terimakasihku kepadanya, sebenarnya aku tidak bermaksud jahat kepada Yoga dan aku tidak berbohong tentang semua yang pernah kukatakan kepadanya.. tolong sampaikan juga jangan pernah berharap untuk kembali menemuiku, apalagi mencariku karena aku tidak akan pernah ia temukan..

Mereka seolah terpaku dan tidak bisa bergerak, ada sesuatu yang mencekat tenggorokan mereka untuk berteriak dan mengunci tubuh mereka untuk bergerak.. perlahan sosok gadis itu lenyap bersama lenyapnya kabut tebal yang memenuhi dasar jurang itu.. sinar matahari mulai menyeruak di antara celah-celah kabut yang terbelah mengangkasa.. di atas mereka nampak puncak Sumbing telah terang oleh fajar yang mulai menyingsing.. gelap dan dingin yang telah mencekam ketakutan mereka bertukar menjadi pagi indah penuh kehangatan yang bersahabat, telah ternoktah kenangan biru dalam kebisuan warna putih bunga Eddelweis yang tumbuh di tepian jurang yang menyaksikan peristiwa itu, embun pagi yang tak pernah bosan membelai kelopaknya layaknya air mata yang senantiasa membasahi dengan beribu kesedihan.**

Yoga mendapati dirinya telah berada di sebuah rumah sakit di daerah Temanggung, teman-temannya menyambutnya dengan senyum ketika ia tersadar.. mereka dengan setia menunggunya selama ia belum sadarkan diri.

Sebuah luka di kepalanya yang cukup parah mengharuskan ia opname selama beberapa hari di rumah sakit. Sebuah luka yang akan membuatnya mengenang keindahan puncak gunung Sumbing dan selalu mengingatkannya kepada “Rena” gadis cantik yang telah membawa pergi hati dan seluruh rasa cinta yang ia miliki hingga sedikitpun tak tersisa.

 

 “TAMAT”

Muhammad Abdul Hakim

Salatiga 16 Januari  2012

 

Created on:

Salatiga, 09 Desember 2011 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.