“Senyum Terakhir Untuk Anggi”

god's gift

((..Senyum Terakhir Untuk Anggi..))


8 November 2008

Malam itu setelah berpuluh-puluh kali Wisnu mencoba menghubungi nomor Anggi.. tiba-tiba rasa pusing yang dulu sering bersarang di kepalanya sejak ia masih duduk di Sekolah Dasar itu  ia rasakan kembali, (tapi setelah masuk SMA rasa sakit kepala yang sering ia rasakan itu berangsur-angsur hilang, hanya kadang sesekali datang.. ia tak pernah mengira jika ternyata rasa sakit yang seringkali bertandang di kepalanya adalah sesuatu yang begitu menakutkan) tapi kali ini begitu sakit.. rasanya seperti di tusuk beribu-ribu jarum.. hingga akhirnya ia tertidur setelah lama menatapi sebuah lukisan cantik di dinding kamarnya dengan pandangan matanya yang nanar karena  menahan sakit di kepalanya.

Di pagi buta yang masih berkabut dingin.. Wisnu terjaga dari tidurnya, setelah beberapa saat ia mengidupkan handphone-nya.. terdengar lagu White Lion dengan vocal indah Mike Tramp mengalun merdu menyayat “Till death do us part”, bisa di pastikan bahwa ada sms masuk dari belahan hatinya.. karena Wisnu memang memasang nada sms khusus untuk gadis pujaannya itu.. “receive 7 New Message” dibukanya sms-sms dari Anggi tersebut..

Nama itulah yang telah menemani hari-hari sedih maupun bahagia Wisnu.. nama itulah yang telah membuat Wisnu berani melambungkan harapannya ke awan biru, bahkan menembus batas langit sekalipun.. dengan mata yang masih terpejam, rasa pening dan kantuk yang masih saja bergelayut.. Wisnu membuka matanya yang masih bengkak karena menangis semalam.. yach.. sebenarnya memang tak perlu malu untuk menangis, sekalipun sebagai laki-laki.. dan semalam, Wisnu harus mengakui bahwa keputusan Anggi yang lebih memilih untuk berpisah dan tak mau sama sekali menerima penjelasannya terasa begitu menyesakkan.. Wisnu tak pernah menyangka jika salah faham dengan Anggi semalam akan menghantarkan hubungan mereka menuju kehancuran..

Wisnu bangun dan menyibakkan selimutnya.. masih sangat pagi ternyata, jam beker hadiah ulang tahunnya yang ke-20 dari anggi masih menunjukkan pukul 3.00AM.. dingin,, sangat dingin suasana pagi itu,, tak seperti biasanya.. bahkan butir-butir embun nampak mulai meleleh dari kaca jendela kamarnya.. dari depan jendela itulah biasanya Wisnu meluapkan rasa rindu dan sayangnya kepada Anggi lewat handphone-nya.. menyampaikan kata-kata indah,, bercanda.. tertawa.. bertengkar.. kemudian kembali saling memaafkan dan saling merindukan di esok harinya..

Lima tahun sudah cukup terhitung lama untuk ukuran remaja yang mencoba saling mengerti dan melengkapi.. masih begitu hangat dalam ingatan Wisnu, seperti baru beberapa hari yang lalu.. dia dan Anggi mengikrarkan untuk saling melengkapi dan merajut kasih sayang.. Saat itu Anggi adalah murid baru di SMAN 1 Darma Bakhti, SMAN yang sama di mana Wisnu juga adalah murid baru di sana. Bedanya, Anggi pindah karena ikut ayah dan ibunya yang juga pindah ke daerah itu karena tuntutan kerja dinas.. ayah Anggi (Pak Azman) adalah anggota aparat kepolisian dan beliau baru saja di lantik untuk menjadi KAPOLSEK baru di wilayah itu.., karena kredibilitas dan dedikasi Pak Azman memang tidak di ragukan lagi untuk mendapat amanat tersebut.

Begitu juga dengan Wisnu.. ia juga ikut ayah dan ibunya pindah ke daerah itu, tapi bukan dikarenakan Bapak atau Ibunya mendapat Tuntutan Dinas untuk pindah.. karena kesulitan ekonomi-lah mereka memutuskan untuk pindah, bahkan mereka sempat terbelit hutang dengan rentenir yang jelas-jelas mencekik leher mereka.. jangankan untuk makan, untuk sekedar bernafas saja mereka kesulitan waktu itu.

Pak Tarno (ayah Wisnu) tergolong orang yang gigih berusaha, setelah mampu melunasi semua hutangnya walaupun harus kehilangan rumah mereka satu-satunya, mereka memutuskan untuk hijrah ke daerah itu atas bantuan kawan karibnya, dengan harapan mereka bisa mendapatkan penghidupan yang lebih layak.

Beruntunglah Wisnu karena di sela-sela himpitan ekonomi yang membelenggu kehidupan mereka waktu itu, ayahnya masih mampu menutup biaya pendidikannya hingga masuk ke SMA.

Ketika Wisnu semester 1 , Mak Tini.. Ibu Wisnu terpaksa masuk rumah sakit karena sakit Thypus akut yang menyerangnya, dan mereka membutuhkan uang kurang lebih Rp 15 juta (itupun sudah mendapatkan keringanan dari pihak rumah sakit dan bantuan dari tetangga-tetangganya yang juga berpendapatan pas-pasan) untuk biaya perawatannya.. hampir 4 bulan Ibu Wisnu terpaksa opname dan mendekam di sebuah rumah sakit swasta yang cukup mahal biayanya untuk ukuran mereka yang memang berpenghasilan sangat minim.

Ayah Wisnu hanya seorang kuli panggul di sebuah pelabuhan, semakin banyak barang yang masuk dan yang harus di angkat oleh ayah Wisnu berarti semakin banyak upah yang akan di terimanya, dan itu juga berarti sakit pinggang yang sudah di derita bertahun-tahun olehnya juga akan sangat menyiksa ketika nanti ia merebahkan tubuhnya yang lelah untuk beristirahat di dipan kayu yang juga merupakan peninggalan almarhum kakek Wisnu.. tapi tak ada pilihan, ia dan keluarganya harus tetap bertahan hidup dan makan..Wisnu juga harus tetap melanjutkan pendidikannya, ia begitu menyayangi Wisnu dan sebagai ayah ia akan melakukan apa saja, bahkan jika harus merangkak di atas padang pasir sekalipun, Wisnu harus sekolah..!! ..harus..!! sebuah tekad kuat dan mulia dari seorang ayah yang harus di banggakan oleh setiap anaknya..

Wisnu dan ayahnya begitu gembira ketika akhirnya Tuhan memberikan kesembuhan kepada Mak Tini, meskipun mereka hampir kehilangan seluruh harta bendanya.. tapi sampai kapanpun kebahagiaan dari sebuah kebersamaan dan kasih sayang takkan pernah bisa untuk di bandingkan dan terbeli dengan materi.. tanpa sepengetahuan Wisnu dan ibu-nya, ternyata rumah sederhana yang mereka tempati sebentar lagi bukan menjadi milik mereka lagi.. pihak Bank terpaksa harus menyitanya.. karena Ayah Wisnu menjadikan rumah sederhana mereka (lebih tepatnya gubug sederhana dengan ukuran tanah 6×4 tempat mereka melepas lelah dan bercengkerama) itu sebagai jaminan untuk hutang yang di tanggungnya untuk menutup biaya pengobatan mak Tini.

Malam itu, tepatnya malam senin 21 March 2003.. adalah malam terakhir bagi mereka untuk menempati gubug kecil kesayangan mereka.. seharian mereka menata dan memasukkan pakaian mereka ke dalam tas besar usang berwarna hitam dan penuh jahitan itu.. kebetulan pak Tarno menemukan tas besar itu di pelabuhan beberpa minggu lalu, tas itu bertuliskan “Nike”, mungkin “Nike” itu nama pemiliknya.. (pikir pak Tarno).. tas itu di temukannya dalam keadaan basah, kotor dan  tergeletak begitu saja dalam genangan air jalan pelabuhan yang berlobang-lobang (tentu pemiliknya sudah merelakan bagi siapa saja untuk memungutnya karena memang ia sengaja membuangnya). Sementara untuk perabotan, mereka masukkan ke dalam 2 karung bertuliskan “PUSRI” seperti yang biasa di bawa pak Tarno untuk mengganjal tengkuknya ketika harus memanggul barang yang bobotnya selalu melebihi berat bandannya sendiri.. meski begitu, rasa sakit itu masih saja menembus 2 karung yang menutup tengkuknya.. sehingga setiap pulang kerja pak Tarno selalu berjalan dengan kepala tertunduk, bukan karena minder dan kecil hati atas pekerjaannya sebagai kuli angkat barang pelabuhan, tetapi karena rasa ngilu dan pegal-pegal yang setiap hari selalu saja bersarang di tengkuk lehernya.

Wisnu juga mengemasi pakaian-pakaiannya.. Baju biru kotak-kotak pemberian Haji Sabri waktu hari raya Iedul fitri tahun kemarin masih saja ia simpan, dan baju itu masih nampak seperti baru karena ia hanya memakainya pada saat-saat tertentu.. ia juga mengumpulkan buku-buku pelajaran dan seragam sekolahnya.. Setelah semuanya ia masukkan kardus indomie dan diikatnya kardus itu kuat-kuat dengan seutas tali raffia hitam,.. terdengar suara mak Tini memanggilnya..

“Wis.. wisnu, kemari nak…”

Wisnu segera bergegas menuju ruang tengah (yang cukup multifungsi sebenarnya: sebagai ruang tamu sekaligus ruang makan, karena sempitnya rumah Wisnu).. begitu ia mendekat, tercium bau wangi khas yang begitu akrab dalam eratnya kebersamaan mereka..’’ikan asin..’’ mata mak Tini dan pak Tarno nampak berkaca-kaca walaupun telah tersamar oleh cahaya merah kekuningan dari bohlam 5watt, entah perasaan apa yang sedang berkecamuk dalam hati mereka.. dengan suaranya yang lirih, mak Tini berkata.. ”..Wis, ini adalah makan malam sederhana terakhir di rumah tercinta ini, ibu dan bapak tak pernah mampu memberimu tempat dan kehidupan yang layak seperti selayaknya teman-temanmu.. Wisnu, kami bangga mempunyai anak yang berbakti dan penurut sepertimu.. apa kamu bangga mempunyai orang tua seperti bapak ibu-mu ini?..“ Wisnu hanya mampu menjawab dengan cucuran air matanya yang semakin menderas. Seketika Wisnu tak mampu membendung tangisnya dan merengkuh ayah dan ibunya.. sehingga mereka menangis sesenggukan bersama.. setelah tangis mereka mereda, mereka saling menatap dengan tatapan haru,,diam.. sepi.. hanya mata mereka yang saling bercerita bahwa mereka begitu saling menyayangi satu sama lain..

Wisnu memecah kebisuan malam itu dengan berkata..”Mak.. Pak.. Wisnu gak usah nerusin sekolah aja, lebih baik Wisnu bantu bapak cari kerja..”

“..Hush..!! gak usah, kamu harus sekolah.. soal kerja, itu urusan bapak.. kamu gak usah mikir yang aneh-aneh.. apa kamu pengen usaha bapak nyekolahin kamu sampai lulus SMA kandas begitu saja..? Wis.. ijinkan bapakmu yang gak punya apa-apa ini untuk mencoba memberikan yang terbaik untuk kamu.. bapak kepengen Wisnu tetep sekolah.. insyaAllah bapak masih mampu wis..”

Wisnu menganggukkan kepalanya lemah.. ”pak.. tapi Wisnu tetep pengen ngebantu bapak..”

Sambil tersenyum getir.. ‘’Baiklah Wis.. bapak gak keberatan kamu juga cari kerja.. tapi jangan sampai itu mengganggu pelajaran sekolahmu.. bapak gak pengen kamu bodoh seperti bapakmu ini Wis..’’, sementara itu pak Tarno sendiri belum punya gambaran tentang pekerjaannya nanti, tentunya ia harus berusaha keras dengan lingkungan baru untuk mencari pekerjaan, dan ia tahu tak mudah baginya mendapatkan  kerja apalagi hanya bermodalkan “tenaga” dari jasadnya yang mulai renta..

“..Apa bapak ma kamu gak mau makan wis..?, kalau gak pada makan.. mak abisin sendiri lho..” seloroh mak Tini mencairkan suasana sedih malam itu.. pak Tarno menjawab dengan lugas.. “ ya gak bisa gitu tho bu’.. nasi setengah bakul gitu apa mau di habiskan sendiri saja?.. bapak ma Wisnu kan kepengen makan juga.. hehehe…”

Mereka makan dengan sangat lahap, ikan asin dan sambal terasi sisa tadi pagi itu terasa sangatlah nikmat.. sesekali terdengar gurauan mereka.. selepas makan malam, mereka melakukan shalat isya’ berjama’ah.. (Shalat jama’ah terakhir di “istana” tercinta mereka itu) setelah berdo’a dan saling bersalaman, mereka menuju  bilik masing-masing untuk beristirahat.. akhirnya satu-persatu mereka hanyut dalam mimpi masing-masing.. hingga mentari pagi esok akan membangunkan dan mengantarkan mereka ke dalam kehidupan baru mereka.. kehidupan baru yang mereka sendiri belum bisa bayangkan seperti apa nantinya.. yang jelas apapun yang terjadi, sesulit dan sepahit apapun.. mereka akan tetap saling menguatkan dan saling menyayangi.. keluarga yang cukup bahagia, walaupun kehidupan sehari-hari sangatlah jauh dari sekedar kata “sederhana”..

..7 Mei 2003 6.30 am..,

Wisnu dan sekeluarganya sudah bersiap-siap untuk meninggalkan rumah mereka.. rumah sederhana tempat mereka saling berbagi dalam segala kisah, dimana telah berlangsung sebuah kehidupan sederhana namun penuh dengan kebahagiaan selama berpuluh-puluh tahun. Tiba-tiba terdengar suara mobil mendekat, “.. itu pasti utusan pihak Bank yang akan mengambil rumah kita..” gumam pak Tarno..

Nampak seorang berperawakan tinggi, dengan rambut tersisir rapi turun dari mobil yang cukup mewah dan berkilap.. dan mendekati mereka dengan senyum bersahabat dan wajah yang ramah.. tapi wajah orang itu terasa sangat akrab di mata pak Tarno, tapi pak Tarno ragu-ragu untuk mengenalinya.. mana mungkin seorang seperti dia mempunyai kenalan orang “parlente” seperti orang tersebut.. dengan tertunduk lesu pak Tarno menggenggam erat-erat tangan Wisnu dan istrinya, “kita sudah banyak kehilangan.. dan sekarang tempat kita berteduh dari hujan dan panas-pun harus kita relakan.., tapi itu tidak berarti kita kehilangan segalanya, kita masih saling memiliki.. dan bapak tidak akan pernah membiarkan kalian kelaparan nantinya.. bapak akan berusaha semampu bapak agar kebersamaan ini tetap menjadi sesuatu yang cukup indah untuk kita jalani nanti..”

..”Assalamualaikum.. wah.. wah.. mau pada ke mana ini?, apa sudah tau kalau aku mau ke sini, terus kalian malah  mau bepergian dan nelantarin tamu yang jauh-jauh mengunjungi kalian gitu..?”

Suara itu langsung bisa di kenali oleh pak Tarno, meski telah lewat berpuluh-puluh tahun lamanya.. “Mahmud.. iya.. tak salah lagi.. itu suara Mahmud..” (kawan baik pak Tarno sejak kecil di kampung dulu, sebelum akhirnya pak Tarno memutuskan untuk pergi mengadu nasib ke kota yang ternyata kehidupannya justru lebih sulit untuk orang-orang kecil seperti mereka), mereka terlibat dalam obrolan yang cukup panjang, entah apa yang mereka bicarakan.. mungkin saling melepas rindu sebagai kawan karena sudah lama mereka tidak berjumpa, sebelum akhirnya mereka ikut masuk ke mobil pak Mahmud..

Pak Mahmud meminta pak Tarno untuk menjadi mandor di salah satu perkebunannya.. Kebetulan pak Mahmud juga mempunyai sebuah rumah yang cukup besar, dan hampir setengah tahun rumah itu di kosongkan.. sebelumnya rumah itu adalah rumah yang ia sediakan untuk mandor perkebunannya yang terdahulu. tapi karena telah berulang kali teledor dalam pekerjaan bahkan berani menyalahgunakan kepercayaan pak Mahmud dengan menggelapkan hasil panen, akhirnya ia di pecat dari pekerjaannya.

Pak Tarno dan keluarganya begitu bersyukur atas “keajaiban” dari Tuhan tersebut.. dengan suka cita mereka menerima uluran tangan pak Mahmud walaupun mereka sempat merasa segan karena merasa tak pantas menerima kebaikan pak Mahmud tersebut.

Setelah beristirahat dan menginap di rumah pak Mahmud satu malam, esok paginya mereka di antarkan pak Mahmud menuju rumah baru dan kehidupan baru mereka karena memang terletak cukup jauh dari daerah tersebut, di mana mereka akan bersama-sama mencoba membangun mimpi dan mewujudkan kembali harapan-harapan mereka yang sempat pudar bahkan hilang sama sekali.

Memang tepat keputusan pak Mahmud mengangkat pak Tarno menjadi orang kepercayaannya.. di samping ulet dan teliti, ia juga pandai bergaul dan mengambil hati para pekerja dengan kesopanan dan sikapnya yang selalu ramah dengan para pekerja.. hingga suasana kerja perkebunan tersebut selalu terasa harmonis dan menyenangkan.

Setelah 2 bulan, kehidupan mereka mulai membaik dan pulih.. bahkan jauh dari “ketakutan” yang mereka bayangkan sebelumnya.. Tuhan memang selalu mendengar rintihan hamba-Nya dan mempunyai rencana dan berbagai rahasia yang indah untuk setiap makhluk-Nya ..  Wisnu juga mendaftar sekolah kembali walaupun sempat terhenti selama 2 bulan, dan disanalah ia bertemu “Anggi” seorang gadis cantik yang menjadi idola teman-teman sekelas bahkan di seluruh sekolahnya.. dengan senyum manis dan bola mata bersinar yang akan mempesona siapapun, termasuk dirinya.

Wisnu termasuk anak yang cukup pandai hingga tak sulit baginya untuk mengejar materi pelajaran yang sempat tertinggal, dari segi wajah ia juga cukup rupawan.. dan kawan-kawan barunya pun menerima ia dengan baik.

Dalam hati, ia menaruh simpati dan  tertarik dengan Anggi, tapi ia tak pernah berani untuk mengungkapkan perasaannya kepada Anggi.. ia merasa berkecil hati karena Anggi adalah anak dari seorang yang cukup kenamaan di daerah itu, tanpa sepengetahuannya ternyata Anggi memendam perasan yang sama dengannya, hingga suatu hari..Anggi, Wisnu dan beberapa temannya (Dani, Indra, Sofi dan Imel) mendapatkan tugas kelompok dan setelah melalui persetujuan mereka semua akhirnya disepakati bahwa selepas pulang sekolah nanti mereka akan langsung menuju rumah Wisnu untuk mengerjakanya, karena kebetulan hari itu dewan guru mengadakan rapat, jadi para murid terpaksa dipulangkan lebih awal dari biasanya.

Begitu sampai di rumah Wisnu, mereka disambut dengan hangat oleh mak Tini.. setoples keripik singkong, dua piring pisang goreng dan teh hangat juga ikut menyambut kedatangan mereka.

“Ayo dimakan.. mumpung masih anget, beberapa hari lalu bapak Wisnu memetik  pisang dibelakang rumah dan sekarang sudah matang, jadi ibu goreng saja.. kebetulan kalian ke sini.. ibu sendiri yang goreng lho” dengan begitu ramah mak Tini mempersilahkan mereka untuk mencicipi jajanan buatannya.. “iya bu’..terimakasih”, sahut Anggi mewakili teman-temannya.. melihat bet nama di dada Anggi, “oo.. ini tho yang namanya nak Anggi.. cantik.. pantas saja Wisnu sering cerita ke ibu’ kalau di sekolahnya ada bidadari yang mau pakai seragam abu-abu” candaan ibu Wisnu membuat wajah Anggi merah menahan malu, ternyata Wisnu juga mengalami perubahan mimik muka yang sama.. merah, karena malu.. Anggi melirik Wisnu dengan agak menunduk dan disaat yang sama pandangan matanya yang redup bertemu dengan tatapan mata Wisnu yang juga sedang menatapnya.. entah, apa yang mereka rasakan siang itu.. malu namun bahagia.. dan itu tak bisa mereka sembunyikan.. “eeee..malah pada bengong gitu..”, celetuk Dani.. ”..kayaknya ada yang lagi jatuh pingsan ni yeeee.. kalau jatuh cinta kayaknya gak mungkin deh” Dani meledek mereka berdua, hingga Anggi nampak semakin malu.. ”apaan sih Dan..”, “iya tuh si Dani, ikutan aja..” sahut Wisnu dengan muka yang juga masih nampak malu.. Dani pun tak mau kalah, “Nha kan kompakan gitu.. dah ketahuan tuh kalau ada udang di balik gimbal.. udah, mending cepet-cepet jadian aja deh.. lagipula menurut ramalan para saintis pada tahun 2012 bakalan ada komet besar yang garis edar dan orbitnya berpotensi besar untuk masuk ke orbit bumi dan menabraknya, dah pada dengar tentang planet ” X” yang di sebut “Nibiru” tuh kan? dan kalau tuh ternyata mang bener, berarti kiamat udah dekat nggi’.. hehehehe…”

“Eh, mendingan kita shalat dzuhur dulu deh.. dah hampir jam 2 lho.. abis tuh baru kita kerjain tugasnya, gimana?” Wisnu mengajak teman-temannya untuk shalat dzuhur terlebih dulu. (masih dalam keadaan kalut karena malu dengan teman-temannya, Wisnu melupakan “sesuatu” dikamarnya, sesuatu yang justru nantinya akan merubah kehidupannya menjadi lebih indah.. sesuatu yang akhirnya menjadikan Anggi sebagai belahan hatinya).

Akhirnya mereka shalat bergantian di kamar Wisnu, Anggi-lah yang mendapat giliran pertama, Wisnu teringat bahwa ada sesuatu di kamarnya yang seharusnya hanya menjadi rahasianya sendiri dan tidak ada orang lain yang patut mengetahuinya, ..tapi itu terlambat, Anggi’ sudah masuk ke kamarnya untuk shalat dzuhur.. begitu masuk ke kamar Wisnu.. ia terpegun.. antara percaya dan tidak.. ia merasa seperti berkaca ketika memandang sebuah lukisan indah sesosok gadis cantik yang menggenggam setangkai mawar berwarna putih yang terpampang di dinding kamar Wisnu, dan di tepi bawah lukisan itu tertulis dengan cukup jelas.. ”akan kusimpan perasaan ini hingga waktu menghentikan langkahku.. akan ku pendam gejolak rasa ini bersama tergelincirnya mentari sore hari.. meski sebenarnya aku akan selalu membutuhkanmu seperti layaknya gelap malam yang membutuhkan kerlip sang bintang..” !! kata-kata dalam lukisan itu membuai Anggi, indah.. sangat indah.. Anggi berbicara seorang diri.., “apakah benar kau menyukaiku Wis.. kenapa kau tak pernah mengatakan itu kepadaku.. kenapa..?” tak terasa air mata Anggi menetes, air mata bahagia karena sekarang ia tahu jika Wisnu juga diam-diam menyukainya.. tapi kenapa harus diam?? dalam Shalat-pun Anggi tak bisa tenang, hatinya terlalu berbunga-bunga untuk menahan rasa bahagia yang meledak-ledak itu.. begitu keluar dari kamar, ia melihat Wisnu sedang duduk di teras depan sendirian.. tidak canggung seperti biasanya Anggi menghampiri Wisnu dan berkata..”Wis, lukisan dikamar kamu bagus.. ternyata kamu pandai melukis ya.. puisinya juga indah, tapi aku kasihan dengan gadis yang ada dalam lukisanmu itu.. apa kau tak pernah bisa mengartikan pandangan matanya setiap kali ia menatapmu? seperti aku menatapmu kali ini.. maaf Wis jika “gadis” yang ada di lukisan itu ternyata bukan aku, maaf juga jika aku lancang.. sebagai seorang yang mungkin hanya kau anggap sebagai teman tak seharusnya aku berbicara seperti ini denganmu.. “

Wisnu menjawab “Nggi’ mungkin seharusnya kau tidak perlu tahu tentang hal itu, cukup aku saja yang merasakannya.. aku masih mampu menahan semua rasa ini.. tapi sekarang sudah terlambat, sebenarnya.. dari awal kita bertemu.. saat pertama aku mengenalmu di perkenalan kelas sebagai murid baru waktu itu.. aku mulai menyukaimu, dan hari demi hari rasa sukaku padamu semakin tumbuh dan tumbuh.. tapi aku harus sadar siapa aku dan aku juga harus tahu siapa kau Nggi’.. aku tak mau suatu saat terlalu kecewa jika tak mampu mewujudkan harapanku untuk bersama kamu, karena kehidupan kita memang sangat jauh berbeda Nggi.. aku hanya anak yang terlahir di keluarga yang serba sederhana bahkan mungkin kekurangan.. tidak seperti kamu.. dan semenjak aku menyadari perbedaan kita itu, aku mulai belajar menghapus bahkan membunuh perasaan ini Nggi’.. kamu faham maksudku kan?.. saat ini aku sudah cukup bahagia jadi sahabatmu dan aku tak akan berharap lebih dari itu.. mengenalmu dan bisa menjadi sahabatmu adalah hadiah indah dari Tuhan yang harus aku syukuri..

“Kamu egois Wis.. apa kamu pernah mencoba untuk sedikit mengerti apa yang aku rasakan ma kamu juga? kenapa harus kau sembunyikan sendiri semua indah yang harusnya dapat kita bagi bersama ini?.. mengapa harus kau tahan sendiri kerinduan dan rasa sayangmu, yang seharusnya kita rasakan bersama? aku juga menyimpan rasa ini Wis.. tapi sebagai seorang wanita, aku tak pernah punya kekuatan untuk mengungkapkannya.. hingga apa yang aku alami hari ini membuatku mengambil keputusan untuk berani jujur kepadamu.. “ kamu egois Wis. .egois..!!, dengan wajah marah bercampur sedih, Anggi masuk ke dalam rumah meninggalkan Wisnu yang masih bingung sendirian.. entah apa yang harus ia lakukan untuk meredam kejadian ini dan menjelaskan semuanya dengan Anggi’ agar dia bisa menerima dan mengerti apa yang sebenarnya ingin ia sampaikan, tanpa harus menyakiti perasaan Anggi tentunya.. tanpa mereka sadari, Dani, Imel, dan Sofi mendengarkan pembicaraan mereka dari dalam.

Wisnu menyusul Anggi dan teman-temannya masuk ke dalam, begitu ia masuk..ia mendapati Anggi sedang menangis terisak-isak di pelukan Sofi.. “Maaf sebelumnya Wis, karena aku tak berhak ikut campur masalah kalian.. sebenarnya Anggi juga suka ma kamu.. sejak perkenalan pertama kalian itu.. denganku-lah ia selalu bercerita apapun tentang kamu, tapi Anggi memintaku untuk menyembunyikannya dari kamu, kadang seorang perempuan lebih memilih untuk menangis jika ia tak punya keberanian untuk mengungkap apa yang dirasakannya , aku yakin kamu pun tahu jika Anggi juga memendam rasa ma kamu.. tapi kamu Cuma diam.. dan semua yang Anggi katakan, semua itu benar Wis.. ”..

..”Sof, tak ada gunanya kamu bicara dengan dia.. percuma..!!” sergah Anggi’ dengan muka masam..

“ Wis, kalau bener kamu masih nganggep kita bertiga ini teman kamu,.. kamu selesaikan masalahmu ma Anggi dulu sebelum kita bersama-sama ngerjain tugas..’ kita ikutan ngerasa gak enak kalau kalian cuman diem-dieman kayak gini.. yang jelas kalau ntar tugasnya dah kelar, besok kalian harus traktir kita-kita makan bakso.. seperti biasa, porsi special buat aku.. 2 mangkuk.. dan aku gak mau tahu duit sapa ntar yang buat bayar.. hehehe..” anak yang jarang serius seperti Dani juga bisa mengambil keputusan bijak ketika menyikapi keadaan seperti itu, ia mengambil inisiatif untuk mengerjakan tugas kelompoknya bertiga..

“..Nggi’ ada yang mau aku omongin ma kamu.. ke depan bentar yuk? Anggi’ mengangguk malu..”yuk”.. “cieeee…cieeee…mo pada bicarain apaan ne.. kok pake ke depan segala, ke belakang apa ke samping rumah gitu kek.. hehehe..” ledek Imel, hingga muka Anggi’ nampak semakin merah menahan malu.. semenjak hari itulah mereka berikrar untuk saling menjaga dan menyayangi.

Hari-hari yang mereka jalani begitu indah,.. pak Hermawan dan bu Ratih (ibu Anggi) pun tak keberatan ketika ia tahu putri kesayangannya menjalin hubungan dengan Wisnu, bahkan ia begitu menyukai Wisnu.. karena ia tahu Wisnu anak yang baik dan dapat di percaya walaupun ia berasal dari keluarga yang sederhana.

Kisah mereka berlanjut hingga ke perguruan tinggi, mereka masuk ke Perguruan Tinggi swasta yang sama… karena keadaan ekonomi keluarga Wisnu sudah pulih bahkan jauh lebih baik dari sebelumnya.. Wisnu pun tidak membebankan biaya kuliah sepenuhnya kepada keluarganya.. dia bekerja part time di sebuah renthall computer.

Wisnu mengambil jurusan Informatika, sedang Anggi’ lebih suka bidang Akuntansi.. dan hubungan mereka tetap baik-baik saja sampai suatu malam, terjadi kesalahpahaman antara Wisnu dan Anggi’..

Wisnu mempunyai seorang kawan di fakultasnya yang bernama “Tias”.. Anggi’ juga mengenalnya dengan baik.. Wisnu termasuk anak yang aktif dalam berbagai kegiatan kampus dan ia terpilih menjadi ketua BEM dan kebetulan Tias menjabat sebagai ketua 2-nya, mereka nampak sangat kompak dalam menjalankan program kerja mereka.. bahkan sempat beredar gossip tentang kedekatan Tias dan Wisnu, Anggi’ juga mendengarnya..

Sebenarnya tidak terjadi apa-apa diantara mereka, Wisnu dan Tias hanya bersahabat dan kegiatan demi kegiatan memang mengharuskan mereka untuk sering bersama-sama.. Wisnu sudah menganggap Tias seperti saudarinya sendiri (walau sikap Tias kerap kali membuat Wisnu bertanya-tanya, “jangan-jangan benar apa yang dikatakan kawan-kawan.. Tias menyukai aku.. tapi tidak mungkin, aku tak boleh salah menilai dia..).

Anggi’ juga menangkap sesuatu yang lain pada Tias.., dari cara Tias memandang, berbicara dan perhatiannya terlihat sangat mengistimewakan Wisnu.. “..Ahh.. mungkin itu hanya karena rasa sayangku yang berlebih kepada Wisnu hingga aku malah menanggapi kebaikan Tias sebagai sesuatu yang pantas aku cemburui dan aku curigai.. aku salah besar jika berfikir seperti itu..”

Anggi’ mencoba meyakinkan dirinya sendiri, walau memang ia akui rasa cemburu dan curiga itu memang ia rasakan) malam itu adalah malam inagurasi, malam penutupan orientasi kampus.., Wisnu merasa ada yang aneh dengan Tias beberapa hari terakhir ini.. Tias terkesan agak menjauhi dan menjaga jarak dengan Wisnu, dia lebih sering memilih diam dan termenung sendiri.. tidak seperti biasanya..ceria..dan suka bercanda dengan siapapun. Dari kejauhan Wisnu nampak Tias yang sedang termenung.. Wisnu menghampiri Tias yang sedang duduk sendiri di samping stand pentas dengan pandangan yang kosong.. “Maaf, kalau ganggu.. Tias kenapa se? aku lihat beberapa hari ini Tias nampak sedih, kalau Tias gak keberatan.. Tias boleh cerita ma aku.. sapa tahu aku bisa ngebantu masalah Tias..”

Tias tersentak dari lamunannya..“ Kamu Wis.., ngagetin aja.. ak gak kenapa-napa kok, lagi suntuk aja..”

Setelah diam beberapa saat dan memandang Wisnu dengan tatapan mata yang seolah menyimpan berjuta rahasia, Tias mulai berani ber cerita.. ”Sebenarnya, ini ada sedikit kaitannya dengan kita.. maaf Wis, mungkin kamu juga dengar gossip yang beredar tentang kita akhir-akhir ini, banyak yang menuduh aku ingin merebutmu dari Anggi’.. itu tidak benar Wis.. tolong jelaskan hal itu ke Anggi’.. aku tak mau hubungan kalian terganggu gara-gara aku, selain itu aku memang punya masalah pribadi dengan keluargaku..“

“..Sudahlah, biarin aja yas.. kita kan gak ada hubungan apa-apa selain cuman berteman..jadi buat apa difikir dalem-dalem, ntar lama-lama juga pada capek sendiri orang-orang yang pada suka nge-gossipin kita yang nggak-nggak tuh..” sambil menepuk-nepuk bahu Anggi’..

“..Wis, kamu sibuk gak sekarang?.. rasanya aku tak kuat menahan beban ini sendiri, apa kau punya waktu untuk mendengarkan keluh kesahku Wis?” .. tatapan mata Tias yang begitu sendu dan seakan telah kehilangan gairah hidup itu mengundang simpati Wisnu.. nampak ada beban berat yang coba Tias samarkan, tapi tetap saja beban berat jelas terlihat dari pancaran matanya yang redup itu.

“..Yas, aku sudah menganggapmu seperti adikku sendiri.. kamu cerita saja masalahmu denganku.., aku akan coba ngebantu Tias semampu aku..”

“..Wis, sebelumnya aku pengen kamu mau janji ma aku.. apapun yang aku ceritakan nanti, aku mau kamu merahasiakannya dari siapapun.. termasuk Anggi’.. tapi aku takut kamu akan marah ma aku Wis jika nanti yang aku ceritakan juga ada kaitannya dengan kamu.. apa kamu akan marah ma aku Wis..?”

Wisnu mengira (sesuatu yang terkait dengannya itu adalah gossip seputar kedekatannya dengan Tias, untuk apa harus marah?). “ Yas, aku gak akan marah ma kamu, aku janji.. cerita malam ini hanya akan menjadi rahasia kamu dan aku saja..”.

Sementara itu Anggi’ sedang bersungut-sungut karena kesal.. lebih dari belasan kali ia coba men-dial nomor Wisnu, tapi Wisnu sama sekali tak mengangkat phone call darinya.. hanya NSP dari “vanishing rise/ air supply” dengan “good bye”-nya yang menyambut setiap kali handphone Wisnu berdering.. “Wis.. dimana kamu..?” ia pun segera meluncur menuju fakultas Wisnu, “..Aku kenapa sih?.. Wisnu pun biasanya terlambat datang jika janji ketemu aku, dan itu karena dia bertanggung jawab dengan amanat yang di tanggungnya (apalagi malam ini ada acara penutupan orientasi kampus untuk mahasiswa baru) dan dia pun selalu berusaha membagi waktu untuk meluangkan waktu di sela-sela kesibukan kuliah dan kegiatannya .. tapi kenapa malam ini terasa lain.. entah apa yang aku takutkan malam ini.. ahh.. mungkin aku hanya terlalu kangen dengan Wisnu..”.

Hampir satu jam Anggi’ menunggu Wisnu di depan pos panitia inagurasi.

Rio, kawan Wisnu datang dan membuyarkan lamunan Anggi “ Hey cewe’ jelek.. ngapain manyun gitu? tadi sore mandinya gak pakai sabun ya.. apa kehabisan shampoo? hehehe…  kangen ma Wisnu ne, kayaknya tadi aku lihat Wisnu gi ngobrol ma Tias di samping  stand pentas no 2 tuh deh.. samperin ke sana aja Nggi’..“

Wisnu terpegun mendengar cerita Tias, ternyata bapak dan ibunya telah menjodohkan Tias dengan seseorang.. tentu saja hal itu telah melalui persetujuan Tias sendiri.. bapak ibunya takkan memaksakan kehendak mereka jika Tias memang menolaknya. Seorang pemuda tampan yang masih ada hubungan kerabat dengannya.. (Mas Guntur, begitulah Tias biasa memanggilnya.. Tias tak sempat mencurigai seringnya kedatangan Mas Guntur ke rumahnya, bahkan mas Guntur juga sering mengantarnya ke kampus, Wisnu pun sempat dikenalkan dengan mas Guntur oleh Tias.. ia kira kedatangannya itu hanya bersilaturrahmi biasa, karena  mereka memang masih berkerabat walau dengan hubungan kerabat yang cukup jauh. Sampai suatu hari Mas Guntur menyatakan perasaannya kepada Tias, bahkan ia sanggup membuktikan keseriusannya dengan melamarnya.

Mas Guntur cukup baik dan menarik sebenarnya, dan selama ini ia cukup sabar menghadapi sikap Tias terkadang acuh dengannya. Tias pun tak mampu menolak Mas Guntur, ia pun menerima cinta Mas Guntur.. karena memang ia pun menaruh hati dengannya, walau sebenarnya ada sesuatu yang masih ia sembunyikan..

Hari pertunangan mereka telah di tentukan.. 1,5 bulan mendatang, Mengenai pernikahan mereka nantinya, Mas Guntur tidak keberatan menunggu hingga Tias meraih gelar S1-nya.

“..Wis, aku telah belajar untuk mencoba menerima uluran cinta Mas Guntur.., tapi itu sulit meski aku akui benih rasa “sayang” itu mungkin mulai tumbuh dalam hatiku.. Mas Guntur orang yang baik, dia juga begitu menyayangiku Wis .., dia berjanji akan menjaga dan mencintaiku sepenuhnya.. dan aku percaya jika mas Guntur tidak pernah bohong tentang itu.. sebenarnya mudah bagi seorang pemuda seperti Mas Guntur untuk mendapatkan wanita yang lebih segalanya daripada aku.. tapi ia berkata, jika aku-lah yang telah ia pilih.. aku masih ingat saat Mas Guntur mengungkapkan perasaannya padaku waktu itu, “ Yas, sebagai laki-laki aku mempunyai hak untuk mencintai dan memilih siapa yang akan menjadi pasangan hidupku, dengan ijin TUHAN tentunya.. tapi bukan berarti itu adalah wujud dari rasa egois seorang laki-laki.. sebaliknya seorang perempuan juga memiliki hak untuk menerima atau bahkan  menolaknya.. bukankah itu cukup adil?..

Mas Guntur begitu sabar menghadapi aku, apapun keputusanku.. Mas Guntur berjanji akan menerimanya dengan lapang dada..” ia pernah menuliskan beberapa kata yang ia tujukan untukku..

“..Cinta itu tidak pernah meminta..

,tapi diberi..

Cinta itu tidak pernah memaksa..

,tapi ikhlas dan penuh kerelaan,..

Cinta itu api..

,tapi hangat dan tidak membakar..

Cinta itu air..

,membasahi tapi tidak menenggelamkan..

Cinta itu cahaya..

,terang tapi tidak menyilaukan..

“..Dan aku mencintaimu dengan ihklas.. meski harus ada terbersit sedikit kecewa jika suatu saat kau terpaksa menepis rasa cinta yang aku bawakan untukmu.”.

Kata-kata Mas Guntur begitu menyentuh hatiku Wis, andai saja masih banyak tersisa ruang kosong dalam hatiku, tentu akan sangat mudah bagiku untuk menerima kehadiran Mas Guntur dalam hidupku.. tapi sayang, sudah ada seseorang yang diam-diam aku cintai.. seseorang yang diam-diam aku rindukan.. seseorang yang diam-diam telah menyita seluruh perhatianku.. seseorang yang diam-diam telah membuatku banyak belajar tentang arti persahabatan.. cinta sejati dan kasih sayang..”

“..Wis, maafkan aku..”

“..Maaf.. maaf untuk apa Yas?..” Jawaban Tias begitu mengejutkan dan membuat Wisnu tercengang.. “..Maaf, karena waktu itu aku lebih memilih untuk mencintaimu Wis.. dan aku telah membiarkan rasa ini tumbuh, begitu juga.. aku akan membiarkannya bilapun suatu saat nanti rasa ini harus mati.., walau di satu sisi aku merasa bersalah dengan Mas Guntur karena membalas cintanya yang tulus dengan sebuah pengkhianatan.. karena dia tak pernah tahu jika aku mencintai orang lain..”

“..Maaf Wis.., walau begitu adanya.. sedikitpun aku tak pernah berniat mengganggu hubungan kalian, aku telah mengandaskan dan memasrahkan sepenuhnya harapan untuk memilikimu dengan menangis.. mengadu.. bersujud dan berdo’a kepada-Nya..  Tuhan pasti berkenan mendengarkan tangisanku, kalaupun aku mampu memilih.. aku akan memilih untuk tidak memiliki perasaan seperti ini kepadamu Wis..”

Tias tak mampu lagi membendung kesedihannya.. air matanya menderas, dan mengguyur malam tanpa mendung itu dengan hujan tangisannya.

Malam telah turun dan semakin basah, seakan membekukan hati Tias yang kedinginan. Tiba-tiba, masih dengan air mata dan isak tangisnya, Tias memeluk tubuh Wisnu dan menyandarkan kepalanya di bahu Wisnu.. seakan ia ingin menumpahkan segala sedih yang menderanya dan meletakkan beban berat yang selama ini ia tanggung.

“..Wis.. kamu tak keberatan kan jika aku memelukmu malam ini, malam ini saja Wis.. aku tak sanggup menahan semua ini.. mungkin hanya dengan ini aku akan menjadi kuat.. aku berjanji Wis, setelah ini akan ku kubur sedalam-dalamnya perasaan ini..  Aku tahu bahwa hati dan perasaanmu adalah milik Anggi’ seutuhnya..  Aku tahu kau takkan mungkin membagi perasaanmu dengan orang lain, termasuk aku.. aku sadar, semua ini adalah kehendak Tuhan.. mempertemukanku denganmu dan membuatku jatuh hati kepadamu, tapi mengapa ia hanya menciptakan “cinta ini di hatiku saja.. tapi tidak di hatimu?”  meski aku juga meyakini bahwa Tuhan selalu menciptakan segala sesuatu dengan disertai kebaikan di dalamnya, seburuk apapun hal itu menurut pandangan kita.. “. Wisnu hanya mampu berdiam diri, entah kenapa ia juga merasa bersalah dengan Tias “apakah salah bila orang lain mencintai kita dan kita sama sekali tidak mungkin membalasnya??”.. mungkin karena ia merasa bahwa ia tak mampu berbuat apa-apa untuk membantu meringankan beban Tias.

Perlahan Tias melepaskan dekapannya dari tubuh Wisnu.. “..Terima kasih Wis dan maaf atas semuanya, aku lega sekarang.. setidaknya mulai sekarang aku bisa belajar untuk menghilangkan perasaanku ini”..

“..Yas, gak ada yang perlu dimaafkan.., Tias gak salah kok, mencintai dan dicintai adalah hak setiap orang.. aku sudah menganggap Tias seperti adikku sendiri.. kita masih bisa tetap bersama.. sebagai teman tentunya.. Mas Guntur orang yang baik, dia pantas mendampingi Tias.. kalau aku lihat, kalian sangat serasi lho, mas Guntur-nya ganteng dan Tias-nya cakep.. kalau Tias gak mau, ntar mas Gunturnya keburu di makan kucing lho..“

“..Mangnya ikan asin, pake di makan kucing segala?..” akhirnya mereka bersenda gurau berdua. Sepasang mata mengawasi mereka berdua dari kejauhan sejak beberapa saat lalu, mata itu memancarkan amarah…. dan dari amarah itu nampak butiran kecewa menggantung di pelupuk matanya “Anggi”..

Karena Anggi hanya melihat mereka dari jarak yang cukup jauh, Anggi tak dapat mendengar percakapan mereka.. ia hanya nampak ketika Tias memeluk Wisnu dengan hangat, dan setelah itu mereka berdua nampak bercanda dengan cukup mesra.. hati Anggi hancur berkeping-keping, dan tentu sangat berat untuk kembali menyatukan kepingan-kepingan yang telah berserak itu.  Anggi’ segera meninggalkan tempat itu, dengan setengah berlari dan kini air matanya semakin tak dapat terbendung..

Anggi mengambil motornya yang ia parkir di dekat stand panitia, “..Hey cewe’ jelek.. tadi manyun..sekarang malah nangis.. kenapa? tengkar ma pak presiden ya? malah diem aja ne cewe’.., eeee.. mo kemana? gak nunggu Wisnu dulu Nggi’? tapi Anggi’ tak menggubris Rio yang nyerocos bertanya kepadanya, ia langsung menghilang bersama suara motornya yang menderu..

Wisnu baru tersadar jika tadi sore ia berjanji ma Anggi’ untuk makan malam bersama, dan handphone-nya pun tertinggal di sekretariat.. “Up’s.., kita balik ke stand yuk.. Anggi pasti dah nungguin aku dari tadi di gerbang kampus..” lepas sudah semua beban yang mengganjal perasaan Tias, mulai esok.. ada seseorang yang lebih berhak dan layak untuk ia perhatikan yaitu mas Guntur, dan mulai esok Wisnu adalah seorang kakak baginya.. dan ia takkan pernah lagi berharap lebih.

“..Wis, tadi Anggi nyariin tuh.. tapi dia cuman bentar aja di sini, sorry ne.. apa kalian bertengkar? kayaknya tadi aku liat dia nangis Wis.. aku tanyain dia tadi.. Anggi’nya cuman monyong ma diem aja..”

“Dia gak bilang apa-apa ma kamu yo’..?”

“Bego banget se.. yang namanya diem tuh ya gak ngomong Wis.. hehehe..”

20 misscall dari Anggi telah menghiasi screen handphone Wisnu.. dan 5 sms kosong.. entah apa maksud Anggi dengan mengirimkan sms-sms kosong tersebut.. “ Anggi pasti marah ma aku, aku dah buat dia nunggu lama banget.. sebaiknya aku call dia sekarang..”. Sebelum ia sempat men-dial nomor Anggi’, handphone Wisnu berdering lebih dulu..

“..Hallo, .. Nggi’.. tadi handphone-ku tertinggal di stand,.. Anggi dimana sekarang? Anggi masih nunggu aku kan? ..Anggi jangan marah ya..

“..Aku termasuk cewe’ tak punya otak kalau masih aja mau nungguin cowoknya yang malah asyik peluk-pelukan ma cewe’ lain.. ”

“.. Nggi’ denger dulu.. aku bisa jelasin semuanya..

“..Apa lagi yang mau kamu jelasin Wis, kamu mau jelasin kalau semua gossip itu memang benar?.. kamu mau jelasin kalau kamu mang bener-bener suka dan selingkuh ma Tias?.. kamu mau jelasin kalau selama ini kamu telah berhasil membohongi aku? kamu tentu puas sekarang Wis..!!   ternyata benar apa yang di bicarakan dan di gosipkan oleh teman-teman, ternyata terbukti “rasa gundahku” malam ini.. bahkan aku telah melihat dengan mata kepalaku sendiri, kau benar-benar menduakan aku dengan Tias..!!, aku terlalu bodoh.. hingga aku selalu percaya semua yang kau katakan.. aku terlalu mencintaimu.. hingga mataku tertutup bahkan enggan melihat kebenaran yang jelas-jelas terpampang di depanku.. kau benar-benar telah mempecundangi aku.. kau membalas cintaku dengan pengkhianatan keji dan menyakitkan seperti ini.. kau tak berperasaan Wis.. apa maumu sebenarnya Wis? apa..?

“..Nggi, please.. dengerin dulu.. sekarang Anggi’ dimana?..  Anggi’ boleh marah ma aku.. tapi please, aku perlu ketemu Anggi’..

“..Ok Wis.. aku di gerbang.. aku tunggu sekarang..”

Tias mendengar percakapan Wisnu,”.. Wis, aku ikut.. aku akan jelasin ke Anggi’ kalau semua itu gak bener. .kalaupun ada yang pantas untuk disalahkan, orang itu bukan kamu.. tapi aku Wis..”

“..Gak usah Yas.. aku bisa kok jelasin ke Anggi.. aku yakin dia pasti mau ngerti ”

Wisnu segera menuju gerbang kampus, dan Anggi’ telah menunggu dengan sejuta kecewanya disana..

“Nggi’..  dugaan kamu salah, kejadian tadi itu tidak seperti yang kamu fikirkan..”

“Wis, sekarang semuanya sudah jelas.. jadi tak perlu untuk lebih di perjelas.. itu hanya akan menambah rasa sakitku saja.. setelah bertahun-tahun aku menaruh kepercayaanku , ternyata hanya dengan “seperti inilah” kau menanggapinya.. aku benar-benar menyayangimu Wis.. tapi sekarang aku benar-benar kecewa Wis.. dan mulai detik ini, kita tak ada hubungan apa-apa lagi.. anggap saja kau tak pernah mengenalku Wis.. aku pun akan beranggapan seperti itu kepadamu.. sekarang kau bebas menentukan pilihanmu..  dan aku tak akan mau untuk jadi salah satu di antara sekian banyak pilihanmu.. maaf, selamat malam..”

Anggi menghidupkan motor dan memacunya kencang-kencang meninggalkan Wisnu yang masih diliputi rasa bersalah.. malam itu ia telah menyakiti hati seseorang yang begitu ia cintai.. seseorang yang begitu ia sayangi.. “ Nggi’.. aku masih mencintaimu dan akan tetap mencintaimu, hingga kapanpun.. aku yakin suatu saat kau pasti akan mengerti.. jika apa yang aku katakan adalah benar adanya.. aku tak pernah mengkhianatimu Nggi’..  jangankan untuk melakukannya, untuk berniatpun aku tak sanggup.. kau terlalu berarti untuk aku sakiti Nggi’..”

(Tias yang langsung tanggap akan kejadian itu, segera pergi ke rumah Anggi’  untuk menjelaskan semuanya, sebelum semuanya menjadi semakin kacau dan ialah yang akan sangat merasa berdosa jika sesuatu yang buruk terjadi atas hubungan mereka..

Tias menceritakan tentang semuanya, akhirnya Anggi’ pun mau menerima penjelasan Tias, bahkan ia meminta maaf kepada Tias dan turut bersimpati kepadanya.. “Maaf Yas, aku sempat mencurigaimu dan berfikir yang bukan-bukan tentang kalian.. aku bisa mengerti bagaimana perasaanmu.. kita sama-sama wanita Yas, aku tak bisa menyalahkanmu jika kau mempunyai rasa seperti yang aku rasakan kepada Wisnu..”

“Nggi’.. aku begitu terharu malam ini, Wisnu justru berkenan menganggapku sebagai adiknya sendiri.. aku bahagia karena mempunyai saudara laki-laki sekarang.. dan juga saudara perempuan yang baik sepertimu.. mengenai Wisnu, kau tak perlu meragukannya Nggi’.. ia benar-benar menyayangimu.. kau-lah wanita pertama dan terakhir yang akan selalu ia cintai.. ia sering bercerita kepadaku tentang impiannya kelak bersamamu… tentang sebuah rumah sederhana yang akan ia bangun dengan penuh cinta.. tentang anak-anak lucu dan sehat yang kelak akan kau lahirkan sebagai buah hati kalian.. tentang harapannya untuk hidup bersamamu hingga datangnya masa yang akan memisahkan dan mempertemukan kalian kembali kelak di kehidupan yang akan datang..) Anggi’ yang begitu merasa bersalah langsung men-dial nomor Wisnu.. tapi tak ada respon, hanya NSP dari Air Supply dengan goodbye-nya itulah yang selalu menyambutnya..

8 November 3.15 AM

..Wisnu terjaga dari lamunannya, dibukanya SMS dari Anggi satu- persatu.. dan semuanya berisi tentang permintaan maaf Anggi, yang salah satunya berisi: “Assalamualaikum.. Wisnu pasti marah ma aku ya?, maafin Anggi’ wis.. gak seharusnya Anggi’ marah-marah gitu.. harusnya Anggi mau dengerin penjelasan Wisnu dulu tadi.. Tias sudah menceritakan semuanya.. kamu mau kan maafin aku..? Wisnu segera menggerakkan jari-jarinya untuk membalas sms Anggi.. sedikitpun ia tak marah dengan Anggi’.. justru sebaliknya ia sangat merasa bersalah dan ia-lah yang lebih pantas untuk meminta maaf karena telah membuat Anggi’ bersedih. Belum selesai ia menuangkan kata-kata dalam sms-nya.. tiba-tiba semuanya seakan berputar-putar dalam pandangannya.. seiring dengan rasa sakit yang semakin mendera kepalanya.. hingga kemudian redup dan semakin meredup, hingga akhirnya semua berubah menjadi gelap..

Ketika tersadar.. Wisnu terkejut.. ruangan itu sangatlah asing baginya, semuanya serba putih.. dari pakaiannya sampai seisi kamar itu juga di dominasi warna putih.. dan ketika ia mencoba mengangkat kepalanya..  rasa sakit itu terasa semakin menggerogoti isi kepalanya.. “..Di mana aku.. kenapa aku bisa sampai di tempat ini..?” beberapa saat kemudian semuanya kembali gelap dalam pandangannya.. ia merasa seperti berjalan dalam lorong yang sangat gelap, tiba-tiba muncul dihadapannya sebuah cahaya yang seolah memandu perjalanannya.. ia mengikuti cahaya tersebut yang menghantarkannya ke sebuah tempat luas yang di penuhi kabut warna.. seorang lelaki tua yang berdiri di terlihat melambaikan tangannya dengan tersenyum…

Seorang suster muda menghampiri pak Tarno “Maaf pak, sekarang anda di tunggu Pak Hermawan di ruangan beliau..”

“Baik sus, saya segera ke sana.. Ibu’ tunggu di sini saja, bapak ketemu Pak Hermawan sebentar.. kita berdo’a saja semoga tidak terjadi apa-apa dengan anak kita bu..”

Dengan hati berdebar-debar Pak Tarno memasuki ruangan pak Hermawan, keringat dingin mulai mengalir membasahi bajunya.. ruangan itu terasa begitu menakutkan baginya.

“Pak, dengan sangat menyesal saya harus mengatakan bahwa sebenarnya rasa sakit di kepala Wisnu itu adalah “kanker otak” dan sel kanker itu telah menyebar, dalam paparan medis kami sebut itu sebagai kanker stadium 4, dan kondisi fisik Wisnu tiba-tiba turun drastic, pada beberapa kasus hal seperti ini sering juga terjadi, bahwa si penderita jarang mengalami gejala-gejala terkait dengan kanker  tersebut, bisa jadi penderita hanya merasakan pusing-pusing ringan saja atau tidak merasakan kelainan apapun, hingga dengan tiba-tiba saja, kondisi fisik-nya langsung down bahkan cenderung mengalami berhentinya fungsi sebagian organ-organ vital, dan itu sangat fatal dan bahkan menyebabkan kematian .. Wisnu termasuk kuat, rata-rata penderita tak mampu lagi bertahan jika keadaannya sudah seperti Wisnu saat ini.

Kanker otak dapat disebabkan oleh berbagai macam hal. Penyebabnya bisa satu atau lebih, dan secara umum dapat dibagi menjadi dua kategori:

Faktor dari dalam

Merupakan faktor yang datang dari dalam diri sendiri. Yang utama adalah faktor keturunan/genetik. Jika ada sanak saudara yang punya riwayat menderita kanker otak, berarti peluang Anda terkena kanker otak lebih besar daripada mereka yang keluarganya tidak ada penderita kanker otak.

Faktor kedua yang dapat memicu terjadinya kanker otak adalah riwayat benturan (jika bagian kepala pernah terbentur). Benturan ini dapat menyebabkan trauma pada jaringan otak, sehingga bisa jadi penyebab tumbuhnya jaringan abnormal dalam otak (yang kemudian dapat berkembang menjadi kanker otak).

Faktor external, merupakan faktor yang datang dari luar tubuh, pada umumnya berupa makanan dan radiasi. Obat-obatan tertentu yang diminum secara terus-menerus berpotensi menyebabkan kanker. Faktor-faktor lainnya:

  • Pola hidup yang kurang sehat: seperti kebiasaan merokok, pengkonsumsian alcohol yang berlebih, makanan berlemak dan berkolesterol tinggi, kurangnya serat, dsb.
  • Bahan karsiogenik: minyak goreng yang dipakai berulang-ulang, bahan kimia yang termakan.
  • Radiasi: paparan radiasi (radiasi computer, radiasi gelombang mikro dari phone selluler) yang dalam kadar gelombang tertentu dapat memicu berkembangnya sel kanker.

“..Menurut pengamatan kami.. dalam kasus ini, Wisnu telah mewarisi sel kanker tersebut dari kakeknya..  Sebaiknya Wisnu harus segera di operasi untuk mengangkat sel-sel kanker yang telah cukup kuat mengakar itu dari kepalanya, jika tidak akibatnya akan sangat fatal.. tapi tidak dengan kondisi fisik Wisnu seperti saat ini, seharusnya kami harus menunggu kondisi fisiknya agak membaik.. tapi melihat keadaannya yang kritis saat ini, kami harus segera bertindak.. dan tentunya kami harus mendapat persetujuan dari keluarga untuk menjalankan operasi tersebut.. bagaimana menurut bapak?, sebaiknya bapak membincangkan usulan kami ini dengan ahli keluarga terlebih dahulu sebelum memutuskannya.. karena resiko operasi ini cukup serius, dan nyawa anak bapak menjadi taruhannya.. tentu saja kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkannya tapi sebagai manusia kita harus sadar bahwa semuanya berpulang kepada kehendak dan kuasa Tuhan..“

“..Dok, kami percaya bahwa Dokter pasti akan melakukan yang terbaik untuk kami dan insyaAllah kami ikhlas dan ridha dengan apapun kehendak-Nya nanti..”

Samar-samar terdengar tangis Mak Tini, sementara itu Pak Tarno mengelus-elus kepala istrinya dengan lembut sembari berkata.. ”Sabar bu’.. kita serahkan saja semuanya kepada Allah, Dia-lah yang berkuasa atas segala sesuatu di jagad raya ini.. termasuk hidup kita.. sebagai manusia kita harus sadar bahwa apapun yang kita miliki saat ini adalah titipan-Nya.. –Dia lah yang sebenarnya berhak atas semuanya bu’..”

“Pak, aku jadi teringat almarhum kakek Wisnu.. beliau mangkat waktu usia beliau masih cukup muda.. belum genap 5 tahun usia perkawinannya dengan alm. mak.. aku baru berumur 3 tahun waktu itu, ketika bapak meninggal dunia.. dan menurut cerita almarhum mak, beliau sering merasakan pusing-pusing yang kadang sampai membuat beliau pingsan.. aku takut kalau memang apa yang di katakan Dokter tentang “kanker” itu ternyata benar, bahwa Wisnu menuruni penyakit alm.kakeknya itu..

“Bu’.. kita pasrahkan saja semuanya bu’.. dan pasrah kita bukan berarti kita menyerah kepada keadaan begitu saja.. tapi sebaliknya, kita harus berusaha semampu kita untuk mendapatkan yang terbaik, Bapak akan lakukan apapun demi kesembuhan anak kita bu ..”

Anggi’ benar-benar shock ketika mendengar kabar bahwa Wisnu dirawat di rumah sakit dan masih dalam keadaan kritis, pantas saja tak ada sms/ cal dari Wisnu yang ia tunggu sejak semalam, dan pagi itu juga ia dan ayahnya langsung menuju rumah sakit untuk menjenguk Wisnu..

Begitu sampai.. ia mendapati Pak Tarno dan Mak Tini yang menatapnya dengan pandangan kosong, bekas air mata sangat nampak dari mata mereka yang sembab dan merah.

Anggi tak mampu lagi menahan tangisnya.. ia memeluk Mak Tini erat-erat dan menumpahkan kesedihan yang ia rasakan,.. “Nggi, jika kondisi fisiknya sudah agak membaik, Wisnu akan menjalani operasi.. kita berdo’a saja semoga takdir-Nya masih selaras dan mau berpihak kepada harapan kita semua..”

Dari balik jendela kaca sebuah ruangan praktek, seorang laki-laki berseragam putih berdiri termangu melihat drama nyata yang menyedihkan itu.. “Dokter Hermawan”.. menurut pengalaman dan pengamatannya sebagai Dokter, harapan Wisnu untuk sembuh sangatlah tipis walau dengan menjalani operasi sekalipun (10/90 untuk peluang keselamatan Wisnu) dan menurut perkiraannya kemampuan bertahan hidup Wisnu hanyalah tinggal beberapa saat saja. Sungguh suatu keajaiban yang masih membuat Wisnu masih bertahan hidup hingga saat ini. Tapi sebagai seorang Dokter, ia takkan menyerah begitu saja dan ia berkomitmen untuk melakukan yang terbaik bagi siapa saja yang membutuhkan pertolongannya.

10 November 2009

Dokter Hermawan dan staff-staffnya mulai membahas persiapan operasi Wisnu, mengingat kondisi fisik Wisnu yang justru semakin mengkhawatirkan.

“Eeeegghhh……” dokter jaga terkejut melihat Wisnu tersadar setelah hampir 2 hari tak sadarkan diri, wajah Wisnu yang sebelumnya terlihat sangat pucat.. pagi itu wajahnya nampak sangat cerah dan berseri-seri.. seolah-olah tidak ada sesuatupun yang terjadi dengannya.

“Bagaimana rasanya dik?”

“Saya tak merasakan apa-apa lagi Dok.. kepala saya sudah tidak sakit lagi.. sebenarnya saya sakit apa Dok?”

“..Kamu kecapek’an dan demam saja.. untuk itu kamu harus banyak-banyak istirahat biar kondisi fisikmu cepat pulih..” Dengan senyum getir yang nampak sekali dipaksakan, dokter jaga itu terpaksa membohongi Wisnu.. karena Wisnu pasti akan sangat terpukul jika ia mengetahui yang sebenarnya..

Dok, tolong panggilkan Anggi’ dan bapak ibu saya .. saya ingin berjumpa mereka..”

“..Baik dik..” Dokter jaga itu segera keluar untuk menemui pak Tarno dan istrinya.. Mak Tini mengajak Anggi’ untuk sekalian masuk menjenguknya.

“..Wis, hampir 2 hari kamu pingsan.. dan selama itulah airmata ibu-mu tak pernah berhenti mengalir sembari mendo’akanmu.. dan doa’ ibumu telah terjawab hari ini..”

“..Pak.. Mak.. apa selama ini Wisnu sudah mengecewakan bapak mamak? Wisnu merasa belum mampu menjadi anak yang baik untuk bapak mamak.. Wisnu minta maaf mak.. pak.. Wisnu telah banyak berbuat dosa kepada Bapak dan mak.. sebenarnya Wisnu punya banyak harapan dan angan-angan untuk bisa membahagiakan bapak dan mak, tapi ”..semalam Wisnu mimpi bertemu Mbah kakung.. dia mengajak Wisnu ke suatu tempat yang sangat indah dan luas.. Mbah kakung berkata.. “di sini semuanya terasa tenang dan penuh kedamaian.. diantara penghuninya tidak pernah ada kebencian.. amarah.. dendam…. rasa ketidak puasan.. kepura puraan  dan kebohongan.. semuanya saling jujur, mengerti dan menyayangi satu sama lain… Pak, Wisnu merasa hidup Wisnu tidak akan lama lagi.. Walaupun Wisnu tidak tahu pasti apa sebenarnya penyakit Wisnu.. tapi sepertinya Dokter, bapak dan mamak menyembunyikan sesuatu dari Wisnu.. bapak mamak gak boleh sedih kalau Wisnu gak bisa lagi berkumpul dengan bapak mamak.. Wisnu yakin suatu saat nanti, entah kapan waktunya kita pasti bisa bersama-sama kembali..”

Dengan menahan rasa sesak yang membuat tenggorokannya terasa sangat kering, Pak Tarno mencium kening anak semata wayangnya itu.. kemudian dengan setengah berbisik di telinga Wisnu “..Kami bangga dan sangat bahagia mempunyai anak sepertimu Wis.. sudah jangan banyak bergerak dan bicara dulu, lebih baik kamu istirahat lagi.. kamu pasti sembuh nak..”

“..Nggi’ maafin aku.. aku sering ngecewain bahkan mungkin nyakitin perasaan Anggi.. tapi aku janji setelah ini aku tak akan ngecewain Anggi’ lagi.. Nggi’ aku mau kamu berjanji satu hal denganku..”

“Iya Wis.. aku janji..”

“Nggi.. jika suatu saat Tuhan memanggil a..”

“Sssttt.. cukup Wis.. jangan lanjutkan.. kamu tak boleh berbicara seperti itu” jari telunjuk Anggi’ menyentuh bibir Wisnu dengan begitu lembut.

“Nggi’.. biarkan aku selesai bicara dulu.. aku mohon.. aku benar-benar takut jika setelah ini aku tak punya kesempatan lagi untuk menggerakkan bibirku walau sekedar untuk menyampaikan beberapa kata kepadamu.. aku mau Anggi’ janji.. apapun yang terjadi denganku nantinya.. aku gak mau Anggi’ terlalu larut bersedih.. aku mau Anggi’ tetep tersenyum, tegar dan tetap bersemangat untuk menjalani kehidupan Anggi’ walau aku tak ada di samping Anggi’ lagi.. carilah seorang yang benar-benar bisa melindungi dan membimbing kehidupan Anggi’ kelak.. seseorang yang benar-benar tulus mencintai dan menyayangi Anggi’.. seseorang yang kelak akan menunjukkan betapa kehidupan di dunia ini adalah sesuatu yang begitu istimewa.. seseorang yang akan selalu mengisi setiap detikmu dengan kasih sayang.. semua ini adalah kehendak Tuhan, tak ada pilihan bagi kita selain menjalaninya.. sepahit dan sesakit apapun rasanya.. itulah yang sebenarnya terbaik untuk kita..

..Aku pernah berjanji untuk selalu disamping Anggi’ sampai kapanpun waktunya.. dan hari ini aku ingin mencabut janjiku itu Nggi’.. karena aku merasa tak akan punya kesempatan untuk mewujudkannya.. sepertinya waktuku tak akan lama lagi.. maaf untuk semuanya Nggi’..

Dokter Hermawan masuk dan bermaksud menyampaikan perihal operasi pembedahan kanker dari kepala Wisnu yang harus segera dilakukan.. “Sebentar Dok… biarkan kami saling melepas rindu sekejap..”

Dokter Hermawan hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda persetujuannya .. dalam hatinya bergumam..“aneh.. wajah Wisnu tidak lagi pucat seperti semalam.. dengan wajah yang berseri-seri itu ia lebih pantas menyandang predikat sebagai seseorang yang betul-betul fit dan sehat.. seakan kondisinya telah pulih seperti sedia kala.. ”

Seisi kamar itu penuh sesak dengan rasa haru.. pagi yang sebelumnya begitu cerah itu seakan turut mengerti apa yang sedang mereka rasakan.. suara gemuruh dari setiap penjuru angkasa seolah menggetarkan seluruh bumi dan isinya.. mendung tiba-tiba datang bergulung-gulung dan menutup birunya langit pagi itu dengan sekejap mata..

“..Untuk terakhir kalinya.. aku mohon kepada kalian.. tersenyumlah.. aku tak akan pernah bisa pergi dengan tenang jika melihat kalian bersedih… aku tak akan pergi dengan tenang jika kalian mengiringinya dengan isak tangis kalian..

Mereka menyeka airmata masing-masing.. mengubur dan memendam dalam-dalam kepiluan mereka serta menggantinya dengan mengembangkan senyum manis mereka.. senyum yang di dalamnya tersimpan beribu kesedihan.. senyum yang di dalamnya tersimpan tangis dan jerit sakit sebuah perpisahan.. Wisnu meraih tangan Anggi’ dan menggenggam jemarinya erat-erat.. seolah-olah ia tak mau melepaskannya lagi.

Wisnu-pun tersenyum.. wajahnya terlihat begitu cerah.. “sudah tiba waktuku.. aku menyayangi kalian semua.. aku yakin.. suatu saat.. kita a..kan berkum..pul kem..ba..li..”..

Perlahan-lahan Wisnu memejamkan matanya.. dan senyumannya tetap tersungging di bibirnya.. tangannya yang erat menggenggam jemari Anggi’ perlahan-lahan terlepas.. beberapa saat setelah itu hujan pun turun dengan begitu deras.. sangat deras.. membasahi pagi haru itu dengan guyuran air matanya yang tak jua kunjung berhenti.. suara petir yang berulang kali bergelegar seakan menjadi pengganti jerit dan isak tangis mereka yang tertahan.. senyum tetap terkembang di bibir mereka.. mengiringi perjalanan Wisnu…

Di luar ruangan itu.. seorang gadis nampak sangat sedih dan terpukul.. ia sandarkan tubuhnya yang basah kuyup pada dinding.. hingga akhirnya ia jatuh terduduk dan lemah tanpa daya.. genangan air mata nampak memenuhi sudut-sudut matanya.. tapi ia tak membiarkan airmatanya terjatuh.. lantai itu telah cukup basah oleh tetesan air hujan yang mengguyur tubuhnya beberapa saat lalu.. Tias.. gadis itu adalah Tias.. “..Kau telah menemukan kehidupan yang sebenarnya, menjalani waktu di dunia ini layaknya menjalani sebuah mimpi.. dan kini Tuhan telah membangunkanmu.. Selamat jalan Wis.. aku berjanji.. akan selalu ku perdengarkan doa’ku untukmu dalam tiap kesepian yang senantiasa menjaga lelapnya malamku”

Langit-pun berhenti menumpahkan air matanya.. sinar mentari mulai memberanikan diri mengintip di sela-sela gumpalan mendung yang masih menghitam.. bias warna-warni sang pelangi nampak terlukis indah di ujung cakrawala.. burung-burungpun mengepakkan sayap mereka sembari menyenandungkan sebuah kidung tentang kehidupan dan misteri yang tersimpan dengan rapi di dalamnya. Angin yang bertiup lembut seperti sedang membaca harapan-harapan samar yang tertera pada dedaunan hijau yang bergoyang.

Walau beberapa asa dan impian telah di pupuskan dan berakhir hari itu.. namun masih ada beberapa hati rapuh yang mencoba membangun kembali hari esok mereka.. untuk kembali mengarungi getir, pahit, bahkan duka yang mungkin lebih menyakitkan dari apa yang mereka rasakan saat ini…


(freeway is only provided for the free man)

“..it’s begin from nothing..

and gonna be back to nothing..”

did u knew if there’s so many deal’s that need to get an approvement?


“akhir dari sebuah penutup”

malam ini..

bergugurlah kelopak mawar merah yang kau titipkan..

malam ini..

berkecailah sebuah harapan yang pernah kau sandarkan..

malam ini..

berhamburlah impian-impian menuju peraduannya..

bergemalah rasa sakit atas penjelasan sebuah kenyataan..

malam ini..

yang terlahir akan kembali dipanggil..

malam ini..

yang datang akan kembali terpulangkan..



love rest place

“..JUST FOR REMIND.. IF SOMEDAY, SOMETIME..

WE ‘LL GOING HOME..”

AKIM

“..wake me up from this dream quickly..!!”

P@y@ be@ch in memmori@”

..23 NOVEMBER 2009..

“TENTANGMU”

dragon_ball_z_27

Perasaan ini kian menguasaiku..

Merasuk jauh menembus dinding-dinding kalbu yang mengukirkan indahnya penantian tentang terwujudnya janji untuk saling menyatukan impian..

Dari bukit terjal berbatu ku kirimkan sebuah senyuman..

Untuk sekedar membuatmu mengerti..

Bahwa memang akulah yang berharap suatu hari memetik keindahan kuntum cintamu..

Terdengar ringkikan kuda putih-Mu di padang rumput hijau yang terbentang ..

Sekejap kemudian kau datang.. dengan selendang biru yang tersampir dengan pantas di bahumu yang indah..

Kemilau hitam rambutmu yang tertiup sang bayu,

Menutupi sebagian paras cantikmu yang semakin menawanku..

Redup tatapan matamu mengajariku tentang betapa berartinya waktu untuk di lewatkan dengan begitu saja..

Cinta ini kian terasa melenakan..

Hingga akhirnya kuputuskan untuk mengabdikan segenap perasaan ini kepada satu hati yang telah mampu memautku..

..Hatimu..

Satu yang telah mampu menyempurnakan kehidupanku….

NEVER BLAME U FOR THIS UN-BELIEVEBLE FELT

THE ONLY ONE WHO LOVING U SO..!!

@K!M.

P@Y@ BE@CH, TIOM@N ISL@ND

12 SEPTEMBER 2009

…” wonderfull story at the pain-full journey “…

Abstract Wallpapers (52)

Jam 10 pagi suasana di terminal Magelang sudah mulai panas. Ditemani pak Wandi yang membantuku membawakan tasku, aku berjalan menuju bis “EKA” yang akan membawaku ke terminal solo 4 jam kemudian. Sesaat sebelum berangkat, kucium tangan pak’e dan kuucapkan maaf dan terimakasih karena telah mau merawatku hingga kini aku berada di terminal ini untuk pulang.
Beberapa saat kemudian bis mulai merangkak perlahan dan beberapa kali terantuk antuk di atas jalan beraspal yang kadang bolong bolong hingga menimbulkan getaran hebat dan mengguncang perut satu dua penumpang yang kebetulan satu bis denganku siang itu.
Sisa meriang yang memang sudah menyambangiki semenjak aku pulang dari kepulauan seribu beberapa hari yang lalu masih saja enggan pergi dari tubuhku yang tampak terlihat pucat saat kuperhatikan dengan seksama dari pantulan kaca kaca bis yang pias.

Rasa nyeri di sumsum tulang belakangku masih saja menyisakan aliran sebak yang memeningkan kepalaku meski telah dua hari tiga malam ku istirahatkan di desa pager ruyung, parakan sebaran, kendal… di rumah kekasihku. Goncangan badan bis mulai membuat perutku mual, gastrin di lambungku mulai memproduksi enterogastron yang menyuplai asam lambung berlebihan tanpa satu makananpun bisa dipecah untuk metabolisme. Kurasakan perih dan mual meremas remas perutku. Kusandarkan kepalaku untuk mengurangi rasa lemas, menahan agar tak lagi kumuntahkan cairan pahit dan racun dari pankreansku.
Satu persatu daerah menuju terminal solo kulewati, kurasakan lama saat bis melintas dan terbatuk batuk di daerah kartasura. 4 jam menuju terminal solo terasa bagai 400 tahun kemudian. Aku tampak kusam, lesu dan tua. Terpuruk menahan gejolak hebat dari saluran pencernaanku. Airmataku mulai menetes netes menahan sakit yang kurasakan. Saat untuk kesekian kalinya bis mulai bergoyang, kutekap mulutku, berjaga jaga jika isi lambungku memaksa keluar dari tempat cernanya.
4 jam semenjak jam 10 pagi dan saat pertahanan terakhirku hampir jebol, kulihat lah plang besar yang bertuliskan “ terminal tirtonadi ”. Aku seakan melonjak girang karena telah sampai di solo yang aku nantikan semenjak kubuka mataku tadi pagi. Begitu bis parkir, langsung kujinjing tas tempat baju dan plastik yang berisi jambu merah yang diam diam dimasukkan mak Marsih waktu aku berangkat tadi. Kuinjakkan kakiku untuk pertama kali dalam hidupku di terminal itu. Dingin menyambut kedua kakiku, dalam hati aku bersyukur karena mba azi’ memaksaku untuk memakai celananya tadi pagi. Jika tidak mungkin saat ini aku sudah merasakan ngilu di kakiku akibat tamparan semilir angin yang bertubi tubi.
Sepoi angin yang laju di dataran itu membuatku semakin pusing. Pandanganku kabur dan aku berjalan sempoyongan di sambut kuli jinjing tua yang menawarkan jasanya. ”kemana mbak? Surabaya? Jakarta?” dan entah berapa kota lagi yang dikicaukannya untuk menanyakan tujuanku. Diambilnya tas dari tanganku, dan dengan suka rela kulepaskan.
” pacitan pak” dan kemudian pak tua yang tak sempat kutanyakan siapa namanya itu membawaku menuju pintu masuk terminal. Sampai di depan penjaga tak sempat terpikir olehku untuk sebuah recehan yang telah kupersiapkan tadi malam. Kurogoh kantung jaket besarku dan lembaran limaribuan kutarik dan kuserahkan kepada petugas terminal itu. ” ambil saja kembalinya pak” begitu kataku sambil ngeloyor mengikuti kuli yang menjinDSCN0635jing tas bajuku di pundaknya.
Letter L telah kususuri dengan pangan buramku, aku sedikir mengeluh menghadapi medan terminal solo yang begitu luas dan membawaku ke ujung berung hanya untuk menemukan los sempit yang bertuliskan ” agen bis aneka jaya”. Kupesan kepada pak kuli itu ” pak tolong naikkan tas saya kedalam bis yang menuju daerah pacitan dan tolong tunggu saya disana.. saya mau ke toilet dahulu” kataku ngawur dan percaya sepenuh hati kepada tunkang panggul tua itu. Kurasakan gerak gerilya dari lambungku mulai naik menuju laringku… cairan pahit itu telah seratus persen siap untuk aku muntahkan. Kuputar arah kearah plang yang bertuliskan toilet , tanpa peduli jikapun kuli tua itu buruk hati dan membawa lari baju dan laptopku.
Remang pandangan mataku menangkap cahaya yang membentuk tulisan ”toilet wanita” kuhamburkan diri kesalah satu pintu. Bau apek,pesing dan kumuh mempermudah naiknya isi pencernaanku. Segera lumatan menjijikkan berwarna pink, coklat dan berbuih buih aku muntahkan tanpa sempat menutup pintu kamar mandi sempir bin kotor itu. Gudek istimewa yang dibuatkan mak marsih untuk sarapan pagiku habis tak bersisa menjaci cairan pahit yang memberontak dari perutku, juga rosela asam asam manis yang di buatkan mba azi’. Makanan dan minuman yang dibuat penuh cinta itu turut larut dalam buih muntahku.
Berulang kali dan berulang lagi aku tersedak sedak terdorong cairan dari pencernaanku itu sampai kurasakan tubuhku lemas dan lunglai, gemetar seakan tulangku dilolosi satu persatu. Kuambil air menggunakan gayung bocor dari bak kecil rendah yang mungkin air nya telah bercampur kencing berpuluh puluh orang. Kubersihkan mulutku dengan menyikat gigi. Lalu aku bersihkan kamar mandi kumal itu. Air dingin terasa manusuk dan mengulitiku saat bersentuhan dengan kulit ariku. Segera satelah bisa kukumpulkan sisa kekuatanku aku beranjak dari sana dan membayar kepada bapak bapak gagu yang menceracau tak jelas. Kuucapkan terimakasih dan kucoba persembahkan senyum termanisku.
Celingak celinguk kucoba menemukan agen bis aneka jaya yang menuju daerah pacitan. Dan akirnya terlihat juga bis aneka jaya, satu satunya bis yang menuju daerah pacitan. Dengan harapan besar segera melihat terminal pacitan, kuseret langkahku menuju bis itu. Bis ekonomi ”bogrek” tanpa ac dan aku masuk kedalamnya bersama keranjang keranjang sayur mayur, ayam, kardus kardus bau, dan juga orang orang yang bau dan aku yang bau muntahan pula. ”Telah kompak penderitaanku” begitu bisikku lirih dalam hati.
Dari jajaran bangku tengah bertempatduduk dua kulihat pak tua tadi melambaikan tangan. Kukeluarkan lembaran lima ribu.. nominal yang sangat rendah untuk membayar sebuah kejujuran di masa seperti ini. Serupa tipuan pandangan mata, kulihat senyum tulus pak tua kuli panggul itu menerima lembaran itu. Tanpa banyak cing cong diterimanya penuh syukur uang kumal itu dan segera bilang ” terimakasih” lalu turun dari bis, mungkin untuk mencari barang berikutnya yang siap dia bebankan di pundak ringkihnya. Diiringi pandangan melongoku pak tua itu turun dari bis. Sempat aku berpikir ”kenapa pak tua itu tak menetapka tarif yang tinggi untuk apa yang di perbuatnya padaku” tapi pening di kepalaku mengalahkan fikiran lain. Sesegara mungkin kududuki singgasana robek sana sini penuh abu rokok itu. Sampingku masih kosong, kududukkan tasku disana untuk menganjal kepalaku ”Tuhan inikah rasanya jika mau mati” begitulah aku mencoba protes pada Tuhan, padahal kuyakinkan diri bahwa duhur, asar, maghrib, dan isyaku bakalan luput hari ini. Juga subuhku di esok hari.
Sambil menunggu penumpang berikutnya terangkut bis berbau apek ini, kuambil permenkaret ”LOTTE Xylitol” dari dalam tasku. Permen karet rasa jeruk nipis dengan xylitol yang di percaya mengurangi resiko karies gigi karena mengandung furonan dan kalsium fosfat dari ekstrak rumput laut tersebut kutuang seluruh isinya kedalam mulutku hingga terasa penuh berjubel mulutku dengan 20 butir permen dengan mint itu.
Kukunyah dengan kesal permen itu, berharap pemanis buatan yang menyebar di rongga mulutku bisa memberikan sedikit suplai glukosa setelah dipecah oleh enzim enzim dalam cairan air liur di mulutku. Tapi efek mustajab dari permen tersebut hanya sebentar saja, energi 3 gram karbohidrat yang tersimpan dalam tiap butir permen tersebut hanya bisa mensuplai 60 gram kebutuhan karbohidratku, karena aku mengunyah 20 permen sekali waktu. Walau begitu suplai energi tersebut sanggup membantuku membuka mataku dalam beberapa menit. Tampak banyak calo berteriak teriak, pedagang asongan merayu penumpang dengan mulut manis, para calon penumpang yang berebut tempat duduk, anak anak bayi yang menangis karena panas dan uap berbau busuk dari celah celah ketiak para bapak dan ibu yang mungkin tadi pagi lupa memakai deodorant.
Pemandangan itu bagai putaran drama dalam film yang membosankan tanpa jeda iklan satu menitpun. Dan beberapa saat kemudian kurasa mual kembali bersenda gurau dalam saluran pencernaanku. Kuambil plastik loreng berwarna hitam yang dengan khidmat ku persiapkan untuk membungkus cairan lambungku jika nanti kembali memaksa untuk melihat dunia luar. Kepalaku mulai berputar putar kembali. Dan lagi kututup kedua mataku karena energi dalam tubuhku telah tak sanggup untuk mensuplai pupilku untuk terus terjaga dan menerima warna cahaya. Aku tergelosor lagi dalam bangku sempit nan bau tersebut. Pening !!!!
Selama satu setengah jam terlantar aku di terminal solo, setengah jam tanpa mau kubuka mataku untuk melihat sekitarku. Burung burung kecil seakan berdengung dengung memenuhi pendengaranku. Kepalaku perih, dan badanku seakan tak mau diajak untuk berebut menghirup oksigen yang telah dahulu dihisap beratus ratus orang orang sehat diterminal itu. Tubuhku makin lemas, kekurangan cairan dan asam urat serta alkohol kurasa mulai menggantikan glukosa dari hasil metabolisme. Sitim tubuhku yang kekurangan oksigen memilih metabolisme an aerob yang dilangsungkan tanpa oksigen. Asam urat yang menyebar juga pompa darah yang semakin lemah membuat kakiku perlahan mulai keram, juga tanganku dan tubuhku. Membuat badanku menggigil gigil tak terkendali tanpa bisa kuperintahkan untuk normal.
Jam di kepala bis aneka jaya mununjukkan pukul stengah empat saat bis degan sertifikat bobrok itu mulai meninggalkan terminal solo. Selang beberapa lama, bis menikung dan cahaya orange menyilet pandangan mataku, kukejapkan dan sempat kulihat tanda bahwa kini daerah wonogiri telah menyambut. Bibirku pecah, kisut dan kering kerontang perih. Mual masih saja menyambangiku akibat dendangan dangdut yang meraung dari tape recorder pak sopir, rasa hati ingin meremukkkan benda kecil itu agar suara mendesah pedangdut berpakaian tak lengkap itu berhenti menggema. Satu persatu pengamen jalanan dengan berbagai aliran musik mulai naik dan mengalahkan suara mesum pedangdut gendeng yang mungkin telah diperkosa puluhan orang itu.
Satu pedagang asongan naik kedalam bis dan mulai menjajakkan dagangannya. Wajahnya sederhana dan terlihat sedang berjuang demi keluarganya. Kulitnya coklat hitam terbakar matahari dibalut kaos putih panjang dan celana katun berwarna hitam yang juga panjang. Topi hitamnya melindungi rambutnya yang sudah mulai memutih. Sesampainya di depanku disodorkannya botol aqua. Kuangkat kepalaku untuk mencari minuman bersoda yang kupikir akan kugunakan sebagai agen basa yang menguras dan menormalkan asam dilambungku hingga pH menjadi netral dan asam lambung berhenti mencerna dinding mukosa dalam lambungku sendiri. Tapi tak kutemukan agen basa beralkohol yang kuanggap sebagai penolong itu.
Dari pojok kardus kecilnya kulihat minuman ion penambah cairan ”pocari sweat”. Tanpa pikir lagi kuambil botol satu satunya dengan tutup putih yang mulai menghitam karena debu debu wonogiri yang tak mau reda saat terik seperti ini. Kutanyakan berapa harganya, dan bapak itu menjawab ” delapan rebu aja neng, murah!!……. kalu di luar harganya sembilan rebu.. neng mau?” begitulah katanya. Dalam hati aku berkata ”pak, jikapun bapak menawarkan satu botol ion penambah cairan ini dengan harga seratus ribupun aku berjanji akan membelinya”. Kuambil lembaran sepuluh ribu dari dompet kecilku yang dahulu merupakan pemberian teman smaku yang bernama hengki kurniawan saat pulang dari Singapura. Botol ion itu diserahkannya kepadaku bersama seribuan kucel yang kuterima dengan penuh terimakasih.
Bis masih terlonjak lonjak di daerah perkotaan wonogiri yang ramah dengan hamparan sawah sawah dan jajaran pohon trembesi di sepanjang jalanan selebar kurang lebih lima meter itu. Kubuka minuman ion itu. Dengan bismillah kutaguk 150 ml pertama dari 500 ml dalam botol itu. Gerak peristaltik membawa cairan elektrolit berupa Na+, k+, Ca2+, dan Mg2+ sebagai kation dan Cl-, citrate3- dan lactate- sebagai anion. Crasss gejolak hebat kurasakan menampar nampar saluran pencernaanku. Elektrolit, air, gula, asam sitrat, natrium sitrat, natrium klorida, kalium klorida, kalsium laktat, magnesium karbonat, dan perisa sitrus yang membuat rasa penambah ion itu sedikit asam bergabung denga asam lambung yang sedang bercengkerama membuat perlukaan pada mukosa dinding dalam lambungku.
Kurasa keram mengakukan tanganku, aku bergetar menerima tumpahan pertama penambah ion itu. Kation dan anion berebut pasangan agar menjadi aliran listrik dalam tubuhku. Saling tampat saling tendang untuk memperebutkan pasangannya. Mual terasa melonjak lonjak di lambungku. Tapi hal tersebuh tak bertahan lama, sepuluh menit kemudian kudengar nafasku yang sempat terengah engah disertai keringan dingin mulai berhembus teratur. Bahkan saat angin membelai kulitkupun sudah kurasakan nyaman. Kehebatan penambah ion itu memang sesuai dengan iklannya. Tubuhku kurasa dapat menyerap anion dan kation tersebut untuk menambal lemahnya metabolisme tubuhku. Osmolaritasnya yang baik dan terdiri dari ion ion kurasa dapat dengan baik menggantikan cairan tubuhku. Aliran anion yang telah disatukan dengan kation dan ATP ATP dari sisa sisa metabolismeku membuat aliran listrik menuju kepalaku. Pandanganku mulai kurasa cerah. Pening di kepalaku berangsur sedikit demi sedikit menghilang. Kuberanikan untuk membuka mataku lebih lama kali ini, kusapukan pandangan pada padang padang datar yang diantaranya membentang rumah rumah kecil dari batu bata diantara sawah sawah.
Dari sisi samping sebuah rumah, aku melihat sebuah bunga yang berwarna pink, ungu muda dan putih.. ya bunga yang tumbuh di salah satu pantai di daerah punung. Bunga yang dulu menjadi penanda betapa cintaku pernah memintanya menjadi saksi. Dari kenangan… bunga itu kemudian menjadi harapan untukku. Ya, harapan akan penentianku terhadap kekasih tercintaku di belahan pulau sana. Yang berjanji akan membawaku pada suatu hari dimana kita akan menanam bunga itu bersama sama.
Lalu terlintas harapan harapan putih lain seputih cepiring cepiring wangi yang membawaku pada lintasan rindu yang bergema di hatiku. ”hakim, aku kangen kamu” bisikku lirih pada kaca kaca putih di sampingku.
Saat itu warna nila mulai menampakkan indahnya, mengikuti garis edar matahari yang tunduk pada ufuk yang hampir menenggelamkannya. Dari atas jalanan, bis masih saja berderik derik nakal. Dan kali ini aku begitu menikmatinya. Aku yang biasa benci bila harus duduk di jajaran belakang, kali ini selalu saja tersenyum. Aku mulai cerah seakan baru lolos dari kepungan samaraku, malaikat maut yang sewaktu tadi kurasa begitu dekat dengan urat nadi nafasku kurasa mulai menjauh dan membiarkan aku tersenyum denga imijinasiku.
Aku sangat bersyukur atas nafasku kali ini, nafas yang kukira telah akan meninggalkanku terpuruk dalam bis reyot ini. Dan aku berjanji bila suatu hari nanti aku akan menceritakan kepada banyak manusia betapa berartinya satu tarikan nafas bagi orang orang yang masih punya harapan.
Bis terus saja melaju di atas kelak kelok jalanan wonogiri, kali ini sudah bergerak menuju daerah perbatasan antara gemilang kota menuju rumah penduduk di desanya yang sederhana. Lima belas menit semenjak tegukan minuman isotonik pocari sweat yang pertama, kurasakan kepalaku mulai meredup lagi. Jarak perjalanan masih menyisakan kisaran 300 kilo berikutnya, dan cairan dalam botol itu tinggal 350 ml lagi, dan jika 100 ml minuman itu bertahan untuk 10 menit pasokan ion bagi tubuhku, maka aku perlu makanan lain untuk menyuplai kekurangan glukosa tubuhku. Dan kuuingat akan jambu merah di plastik hitam yang tersembunyi dalam tas plastik hijauku. Kuteguk lagi kira kira 100 ml cairan isotonik itu dan juga ku keluarkan jambu. Memandangi jambu itu aku merasakan cinta yang besar disana.
Ingatanku melayang akan tiga malam yang lalu saat pertama kali aku menginjakkan kakiku di rumah bercat putih di daerah pager ruyung. Malam itu sunyi dan tenang. Bapak menjemputku di rumah makan ”Sari Rasa” di daerah Waleri. Sesampainya di rumah, ma’e dan mba azi’ sudah cemas menyambutku yang acak acakan dan tak selayaknya merupakan kata yang sopan untuk ukuran orang yang akan bertamu. Aku yang lemah tak sanggup untuk banyak basa basi dan langsung meminta untuk di tunjukkan kamar mandi untuk memuntahkan cairanku yang kesekian kalinya. Rupanya ma’e sudah menjarangkan air untukku semenjak jam tiga sore tadi, padahal saat itu aku datang jam stengah sepuluh malam.
Sehabis mandi, ternyata baju tidur sudah disiapkan untukku, juga makan malam untuk mengisi perutku. Dan malam pertama di rumah kekasihku itu kuhabiskan untuk ngobrol dan muntah muntah menyusahkan ma’e yang kuminta untuk menemaniku tidur.
Pagi di parakan sebaran adalah pagi yang indah. Azan subuh mengalun jam stengah lima pagi, membuatku terjaga dari tidur tak nyenyakku. Pak’e bergegas berangkat ke masjid yang terletak beberapa rumah dari rumah pa’e. Kubangunkan ma’e dan kutanyakan apa biasanya para wanita juga kemasjid untuk subuh, jawabannya sangat melegakan karena dibilangnya bahwa wanita cukup subuh di rumah saja. Kuteruskan tidurku hingga tak sadar ma’e sudah bangun terlibih dahlu dan membangunkanku saat jam stengah enam pagi. Aku nyengir malu karena ulahku di hari pertamaku yang sangat tidak sopan itu. Lalu kubangunkan tubuhku yang nyeri nyeri dan kuberesi tempat tidur untuk subuh dan dimulailah hari baru dalam sejarah hidupku. Cerita tentang betapa rendahnya aku yang telah menghinakan diriku untuk datang ke rumah lelaki terlebih dahulu.
Bis terlonjak hebat saat melewati lobang menganga jalanan aspal yang mulai rapuh tergilas roda roda dan terkikis air. Lamunanku terputus, pening kurasa menderaku lagi. Kumakan jambu merah yang kupegang sedari tadi, jambu yang kata pa’e adalah tanaman hakim saat mau berangkat ke Malaysia, dan istimewanya ini adalah buah pertamanya sehingga pa’e menyebut bahwa jambu merah ini adalah jambu yang di tanamkan hakim untukku.
Sampai di daerah Sengon, bis berhenti untuk menaikkan beberapa panumpang. Karena bis mulai penuh maka ku geser tas yang sedari tadi aku gunakan untuk bersandar. Maka kemudian duduklah seorang nona menor di sampingku. Kusambut dengan senyum terlebarku dan dibalasnya senyumku manis memperlihatkan jajaran gigi tonggos wanita muda tersebut. Terlintas pikiran nakal di kepalaku ” ya Tuhan bagaimana makhluk ini jika berciuman dengan kekasihnya” dan aku tersenyum sendiri dan berkata lagi dalam hati ” akh bagaimanapun ciuman selalu membawa sesuatu yang menyenangkan dan tak pernah ada orang yang berdarah darah karena gigi tonggos…. semoga!!!!” dan aku tersenyum sendiri.
Senja kuning mulai berubah merah karena cahaya matahai yang mulai terbenam dan terhalang awan awan putih. Rasa rindu, berat mulai menggelayuti hatiku. Kuambil headset dan kuputar ”you took my heart away” yang dialunkan MLTR dengan lembut dari nokia 3250ku yang sangat setia menemaniku dan menjadi penghubung jutaan kali dengan beberapa hati yang pernah singgah dalam hidupku. Teringat olehku alunan suara serak yang selalu membuatku kangen itu. Alunan yang berbaur dengan denting guitar di januari 2009 yang indah. Dalam balutan kembang api indonesia yang berbunga di udara, saat itu berbunga pulalah cinta dalam hatiku. Indah dan berbinar binar, membuatku selalu tersenyum. Ya ….sebuah awal yang sangat indah yang menjadi paragraf pertama kisah cintaku bersama Muhammad abdul hakim. Lelaki tinggi asal kendal itu begitu sabar hingga mempesonaku dalam indah tuturnya yang begitu membuatku nyaman.
Love you muach dear …………….
Love you……….
Love you………………

33SC066

Lalu perlahan tanganku mulai mengetikkan beberapa puisi di note pada nokiaku…

kekasihku
lihat di langit merah itu
disana camar bernyanyi
menemaniku akan lamanya menanti dan merindukanmu

kekasihku
terasa hangat cinta mendukungku
melalui angin di sekitarku yang terus memaksaku membisikkan
bahwa aku mencintaimu
sangat dan berat
semerah ufuk yang cahayanya bias

hakimku
diantara jauh yang memisahkan kita
aku begitu merindukanmu
akankah kau disana juga serupa??/

kekasihku
aku menyayangimu
mencintaimu
wonogiri, 8 agustus 2009

Jalanan mulai mendaki dan berkelak kelok, lampu lampu dari rumah sederhana di pinggir pinggir jalan mulai dihidupkan. Cahayanya redup dan merah tak begitu terang sehingga tak mampu mengalahkan kilau bintang di atap langit.
Kejora berkelap kelip indah. Dua malam yang lalu dari jendela kamar di rumah kekasihku, aku duduk menekuk lutut dan memandang langit. Dari sana kejora juga seindah malam ini. Gugus gugus trapesium, layang layang dan beribu gugus menerangi langit pager ruyung dan hatiku malam itu. Begitu bahagia kurasa saat keberadaanku bisa diterima disana, padahal bisa dikatakan penampilanku malam itu saat memilih nelangkahkan diri untuk meminto tolong kepada mereka penampilanku sangat ganjil. Rambutku yang aku ikat keatas tampak acak acakan karena bekas kepalaku beradu dengan sandaran kasar jendela aneka jaya yang menjadi penopang setia saat aku tertunduk lesu di bis yang mengangkutku dari jakarta menuju waleri. Celanaku pendek coklat dengan jaket hijau dan baju pantai dan kukenakan belt hitam di perutku. Bau amis memenuhi menjadi aroma tubuhku yang menjijikkan.
Akh, hari hari di rumah pasangan bapak ibu suwandi tersebut sangat mengesankan. Sebagai sejarah pertama dalam hidupku mendatangi rumah seorang pria yang menjadi kekasihku


By:

“@Nn@ tHe OrcH!D”

writed at 8 August 2009

“menjemput bayangmu”

026


“MENJEMPUT BAYANGMU”


Mentari yang hangat semakin menjauh, Berlari kecil menuju pelukan warna jingga sore hari.

Bunga-bunga telah mengatupkan kuntumnya, dan bersembunyi di balik kelopak-kelopak pelindungnya..

Angin semilir melafalkan pemujaan terhadap-”Nya” yang telah mengatur semua dengan begitu sempurnanya..

Batu-batu bertasbih menyebut nama-Nya..

Riak gelombang pantai di lautan luas menyanyikan “99″ nama suci-Nya..di iringi arak-arakan mega yang pulang bersama menuju peraduan yang telah di sediakan untuk mereka..

Malam telah menjemput Bulan dan Bintang untuk kembali bermesraan bersama dalam hamparan langit luas  tanpa batas..

Dan malam ini.. akan ku jemput bayangmu untuk menemaniku..

Hingga esok, wujud nyatamu akan benar-benar menjadi milikku..

“AKU SAYANG ANNA”

039


@k1M,

Paya Beach.Tioman Island

26 August 2009

“setangkai bunga di pelukan senja”

 

ROSE2

GEMERLAPMU MEMENUHI ANGKASA RAYA..

KETIKA RINDU BERGOLAK DAN MENGGERAM KERAS MEROBEK KAKI LANGIT,..

ALAM BERSELIMUT SENYUM DIANTARA HIASAN BIBIR-BIBIR SEKAR YANG MEREKAH..
TELAGA ITU MASIH MEMANCARKAN BERBAGAI WARNA,..

WALAU KEHENDAK DEMI KEHENDAK TELAH MENCOBA MEMUDARKANNYA.
DARI PUNCAK TEBING ITU KITA PASTI MAMPU MENYAKSIKAN, HAMPARAN BUNGA MAWAR YANG AKAN MEKAR BERSAMA TERBITNYA SANG FAJAR..

AKIM,

PAYA BEACH..TIOMAN ISLAND

2 AUGUST 2009

……just trying to understand……….

064

MENCOBA MEMAHAMI

pukul 2 lewat tengah malam, kusandarkan diriku pada pilunya sepi yang mengangkasakan kisahku dan kisahmu… aku menghanyutkan diriku pada lemahnya nyanyian sunyi, nanar memandangimu dalam inci inci di layarku… sesak, sangat sesak rasa rindu ini menggelayutiku, dan kutau waktu itu masih belum juga ramah untuk terlalu cepat memepertemukan kita

dalam satu hari bersama manisnya bunga cinta dalam hati kita, kudapati kamu begitu berusaha untuk ada untukku, meluangkan waktumu yang kadang sebak tak menyisakan ruang untuk merindukan nafasmu sendiri. CARAMU MENYUKAIKU BEGITU SEMPURNA diantara keterbatasan yang kamu miliki.

disini aku masih menunggumu, seperti kutunggu nila di ufuk sana yang akan kupandang berlama lama dengan alunan lagu MLTR “you took my heart away” rasanya lirik itu begitu dalam membawamu kedalam kisahku… seperti yang kau alunkan dibawah gilar gilarnya kembang api tahun baru 2009. kini bulan ke 7 telah menjalankan tugasnya….. membawaku semakin dekat kedalam peluh rindumu

Aku  masih disini… dan selalu menunggumu untuk kamu datang dan menjemputku kedalam manisnya rumah yang kau bangunkan untukku—–> dihatimu<——–   aku merindukanmu

……where is it?………

Abstract Wallpapers (24)

DIMANA RASA TERIMAKASIH ITU IA SIMPAN

Ibarat tanah yang masih merah jika perumpamaan ini adalah sebuah pemakaman. masih terngiang pesta pernikahan dengan senyum yang dipasangkan itu belum jua hilang gemanya… tapi kenapa, kenapa telah hilang lagi rasa malu itu dari wajah kakak tercintaku.

Mengecewakan, rasanya sungguh mengecewakan.

Hari ini berkali kali kutengok jalanan depan rumahku, berharap ada motor kakakku bertandang ke rumah, karena hari ini tetangga sebelah kami mengkhitankan anaknya dan mengundang kami sekeluarga.

Mungkin kisahnya jadi lain jika kemaren tak ada undangan untuk bapak lupi (yang sekarang sedang mengkhitankan anaknya) ke acara nikahannya kakakku tau bapak lupi gak dateng kesana.

Masalah utamanya adalah ketika dengan santainya dia bersikap seperti itu apa dia tidak malu kepada paman dan tanteku yang juga sahabat dekat keluarga bapak lupi. Padahal untuk acara pernikahannya kemaren mereka rela tidak mendapatkan perlakuan yang selayaknya diberikan orang yang sehrausnya berterimakasih. Mereka rela didudukkan di bawa terik matahair padahal di dalam gedung ada ruangan sejuk dengan hembusan ac, bahkan untuk minuman semurah kopi pun mereka harus membelinya sendiri…

Aku jelas sangat kecewa dengan sikap kakakku, menurutku untuk orang yang sudah menyandang S2.. sikap itu sangat tidak sepadan.. rasa malunya mungkin sudah pindah ke dengkul

andai saja ayah dan ibuku tau… pasti pilu tak akan dapat mereka sembunyikan dari raut sederhana mereka

we make it together…

Frangipani Flowers

tawamu adalah satu yg mengindahkannya

dan bayanganmu yang selalu menemani sunyinya waktuku..

adalah satu yang menenangkanku..

lambatnya waktu seakan seperti enggan berganti..

seakan sengaja membiarkan aku terpuruk dalam sepi..

aku mengharapkan pendar sinarmu malam ini..

aku d sini menunggu hadirmu

membawakan matahari lewat pandangan matamu,

dan rembulan dalam gapaian tanganmu..

suaramu..

serasa dekatnya harapan dan nafasku

dalam lambatnya waktu ini,

sedetik saja hadirmu..

cukup untuk membasuh semua kerinduan..

yang selama ini seperti menertawakanku..

fotho fotho kuwwwwwww

aha ha ha ha

DSC01339

ir.drs.prof. triliyana.Me.Spd.SSi

sedang melakukan praktikum menguji keefektifan bioetanol dari limbah ikan

mangtabbb joni dah pokoe

DSC01350

sebelum membadah mayat, ada baiknya membedah ikan terlebih dahulu  … hwekekeke… udah di bedah tyus di goreng.. trus makan dah.. sip markusip, tob markotob, maknyus maknyus, makblarrrrrrrrr

SA400952

nah yang ini crew teknologi pengolahan limbah angkatan 2006, dari kiri ke kanan (sagita, ayu, pichie, nuna, aidha, manda, titin, n akhhuuuu)

PICT0212

yang inih sama sahabat gw yang namanya asma, orangnya baeeee buanget n dia tahan ketempat sapi tanpa masker…. okle marokle dah pokoknya

na na na na na

SEBEL SAMA makhluk kendal yang super nyebelin bernama MUHAMAD ABDUL HAKIMMMMMMMMMMMMM

(dipanggil bedul kayak orang cebol di deket rumah gw jjuga boleh, dipanggil nakin kayak tukang rongsokan di deket rumah gw juga boleh, dipanggil cumi dan bebek wek wek  juga silahkan)

25062009(003)

Minggu berawal dengan cicit burung burung hijau di antara pagar rumahku. Berisik dan menyebalkan. Semenjak semalam setelah lepas merangkum pelajaran, laptopku masih saja menyala. Film ”yes man” berputar berulang ulang disana, paling tidak sudah berulang selama 3 kali jika dari jam sebelas malam tadi aku manyalakannya. Kulihat hpku, ebuddy masih saja menyala disana. Ada beberara message yang belum sempat aku baca karena aku ketiduran saat chat sama temen temenku.

Tapi tak ada satupun pesan dari  akimakim@ymail.com yang semenjak sore aku tunggu, juga gak ada permintaan maaf secara resmi lewat sms karena telah membiarkan aku menunggu dan  dia gada nongol di line (sebenernya memang gak harus minta maaf juga keli yaaaa… hik hik…. tapi aku berharap bebek itu minta maaf sama aku). Siaul memang tuh manusia. ”iya sih, sekarang semua memang telah berbeda, tapi rasanya sangat menyebalkan tidak di prioritaskan”  ):

Seeeeeeeeebbbbbbbeeeeeeelllll. Mau karaoke, dah deket ujian dan pasti temen temen gada yang mau angkat pantat jika aku ajak. Mikir karaoke sendirian di box…  hah dah kayak orang sableng sajha.. terutama juga sableng karena bayarnya sehhhh … hik hik… Mau jalan…. males juga kalo sendirian. Mau belajar…… akhhhhh langsung kaku tubuh gw kalo lihad buku……………… Hari ini menyedihkan sangad hidup kuwwww

Telepon pertama yang masuk dari si pendek, jelek, dan bau kaki, serta pendukung masa PDI pula, langsung kena imbas marahku. Dan aku yakin di ujung telepon sana dia cuma bengong kaya odong odong. Sepagi aku manyun di depan mesin cuci, ngambek ……………. males latian silat (aneh, kayak orang gila aja ya… marah sama siapa juga ya mbak?.. doh doh aneh deh pokoe)…. eh .. eh malah kepikiran pula si hakim telpon cewek lainlah….. huahhhh  panci rasanya juga pengan tak masukin mesin cuci n gludak gludug tak giling…..

Eh gak berapa lama .. sarjiman nongol, karena lagi bad mood langsung aku kasih muka paling jelek saja …………. eh dia malah bilang ” kalau lagi ngambek jelek banget” dengan gaya sok cool dan jelas jelas tak menghargai aku yang sedang monyong …… kontan ulu hatiku kaku menahan tawa (tapi malu mau ketawa)…… hwekekekekekekeke (masih lucu aja kalo inget)

Haaaddddddddodddddddddddooohhhh, gak lagi lagi deh ngarep di perhatiin tuh cowok. Sialannnnn (mohon dibaca dengan gaya bertolak pinggang sambil menekuk muka paling kesal)   >_<

Hah ……. tunggu pembalasanku manusia menyebalkan bernama ” muhammad abdul hakiiiim”

Lo udah bikin gw nunggu (pekerjaan yang paling menyebalkan sepanjamg masa) dan yang paling parah lo udah bikin gw kangennnn (hal yang akir akir ini menjadi hal yang paling gw benci)

Gw doain lo keseloe dan gak bisa jalan baru tauk rasa. weeeeeeeekkkkkk