
((..Senyum Terakhir Untuk Anggi..))
“ 8 November 2008”
Malam itu setelah berpuluh-puluh kali Wisnu mencoba menghubungi nomor Anggi.. tiba-tiba rasa pusing yang dulu sering bersarang di kepalanya sejak ia masih duduk di Sekolah Dasar itu ia rasakan kembali, (tapi setelah masuk SMA rasa sakit kepala yang sering ia rasakan itu berangsur-angsur hilang, hanya kadang sesekali datang.. ia tak pernah mengira jika ternyata rasa sakit yang seringkali bertandang di kepalanya adalah sesuatu yang begitu menakutkan) tapi kali ini begitu sakit.. rasanya seperti di tusuk beribu-ribu jarum.. hingga akhirnya ia tertidur setelah lama menatapi sebuah lukisan cantik di dinding kamarnya dengan pandangan matanya yang nanar karena menahan sakit di kepalanya.
Di pagi buta yang masih berkabut dingin.. Wisnu terjaga dari tidurnya, setelah beberapa saat ia mengidupkan handphone-nya.. terdengar lagu White Lion dengan vocal indah Mike Tramp mengalun merdu menyayat “Till death do us part”, bisa di pastikan bahwa ada sms masuk dari belahan hatinya.. karena Wisnu memang memasang nada sms khusus untuk gadis pujaannya itu.. “receive 7 New Message” dibukanya sms-sms dari Anggi tersebut..
Nama itulah yang telah menemani hari-hari sedih maupun bahagia Wisnu.. nama itulah yang telah membuat Wisnu berani melambungkan harapannya ke awan biru, bahkan menembus batas langit sekalipun.. dengan mata yang masih terpejam, rasa pening dan kantuk yang masih saja bergelayut.. Wisnu membuka matanya yang masih bengkak karena menangis semalam.. yach.. sebenarnya memang tak perlu malu untuk menangis, sekalipun sebagai laki-laki.. dan semalam, Wisnu harus mengakui bahwa keputusan Anggi yang lebih memilih untuk berpisah dan tak mau sama sekali menerima penjelasannya terasa begitu menyesakkan.. Wisnu tak pernah menyangka jika salah faham dengan Anggi semalam akan menghantarkan hubungan mereka menuju kehancuran..
Wisnu bangun dan menyibakkan selimutnya.. masih sangat pagi ternyata, jam beker hadiah ulang tahunnya yang ke-20 dari anggi masih menunjukkan pukul 3.00AM.. dingin,, sangat dingin suasana pagi itu,, tak seperti biasanya.. bahkan butir-butir embun nampak mulai meleleh dari kaca jendela kamarnya.. dari depan jendela itulah biasanya Wisnu meluapkan rasa rindu dan sayangnya kepada Anggi lewat handphone-nya.. menyampaikan kata-kata indah,, bercanda.. tertawa.. bertengkar.. kemudian kembali saling memaafkan dan saling merindukan di esok harinya..
Lima tahun sudah cukup terhitung lama untuk ukuran remaja yang mencoba saling mengerti dan melengkapi.. masih begitu hangat dalam ingatan Wisnu, seperti baru beberapa hari yang lalu.. dia dan Anggi mengikrarkan untuk saling melengkapi dan merajut kasih sayang.. Saat itu Anggi adalah murid baru di SMAN 1 Darma Bakhti, SMAN yang sama di mana Wisnu juga adalah murid baru di sana. Bedanya, Anggi pindah karena ikut ayah dan ibunya yang juga pindah ke daerah itu karena tuntutan kerja dinas.. ayah Anggi (Pak Azman) adalah anggota aparat kepolisian dan beliau baru saja di lantik untuk menjadi KAPOLSEK baru di wilayah itu.., karena kredibilitas dan dedikasi Pak Azman memang tidak di ragukan lagi untuk mendapat amanat tersebut.
Begitu juga dengan Wisnu.. ia juga ikut ayah dan ibunya pindah ke daerah itu, tapi bukan dikarenakan Bapak atau Ibunya mendapat Tuntutan Dinas untuk pindah.. karena kesulitan ekonomi-lah mereka memutuskan untuk pindah, bahkan mereka sempat terbelit hutang dengan rentenir yang jelas-jelas mencekik leher mereka.. jangankan untuk makan, untuk sekedar bernafas saja mereka kesulitan waktu itu.
Pak Tarno (ayah Wisnu) tergolong orang yang gigih berusaha, setelah mampu melunasi semua hutangnya walaupun harus kehilangan rumah mereka satu-satunya, mereka memutuskan untuk hijrah ke daerah itu atas bantuan kawan karibnya, dengan harapan mereka bisa mendapatkan penghidupan yang lebih layak.
Beruntunglah Wisnu karena di sela-sela himpitan ekonomi yang membelenggu kehidupan mereka waktu itu, ayahnya masih mampu menutup biaya pendidikannya hingga masuk ke SMA.
Ketika Wisnu semester 1 , Mak Tini.. Ibu Wisnu terpaksa masuk rumah sakit karena sakit Thypus akut yang menyerangnya, dan mereka membutuhkan uang kurang lebih Rp 15 juta (itupun sudah mendapatkan keringanan dari pihak rumah sakit dan bantuan dari tetangga-tetangganya yang juga berpendapatan pas-pasan) untuk biaya perawatannya.. hampir 4 bulan Ibu Wisnu terpaksa opname dan mendekam di sebuah rumah sakit swasta yang cukup mahal biayanya untuk ukuran mereka yang memang berpenghasilan sangat minim.
Ayah Wisnu hanya seorang kuli panggul di sebuah pelabuhan, semakin banyak barang yang masuk dan yang harus di angkat oleh ayah Wisnu berarti semakin banyak upah yang akan di terimanya, dan itu juga berarti sakit pinggang yang sudah di derita bertahun-tahun olehnya juga akan sangat menyiksa ketika nanti ia merebahkan tubuhnya yang lelah untuk beristirahat di dipan kayu yang juga merupakan peninggalan almarhum kakek Wisnu.. tapi tak ada pilihan, ia dan keluarganya harus tetap bertahan hidup dan makan..Wisnu juga harus tetap melanjutkan pendidikannya, ia begitu menyayangi Wisnu dan sebagai ayah ia akan melakukan apa saja, bahkan jika harus merangkak di atas padang pasir sekalipun, Wisnu harus sekolah..!! ..harus..!! sebuah tekad kuat dan mulia dari seorang ayah yang harus di banggakan oleh setiap anaknya..
Wisnu dan ayahnya begitu gembira ketika akhirnya Tuhan memberikan kesembuhan kepada Mak Tini, meskipun mereka hampir kehilangan seluruh harta bendanya.. tapi sampai kapanpun kebahagiaan dari sebuah kebersamaan dan kasih sayang takkan pernah bisa untuk di bandingkan dan terbeli dengan materi.. tanpa sepengetahuan Wisnu dan ibu-nya, ternyata rumah sederhana yang mereka tempati sebentar lagi bukan menjadi milik mereka lagi.. pihak Bank terpaksa harus menyitanya.. karena Ayah Wisnu menjadikan rumah sederhana mereka (lebih tepatnya gubug sederhana dengan ukuran tanah 6×4 tempat mereka melepas lelah dan bercengkerama) itu sebagai jaminan untuk hutang yang di tanggungnya untuk menutup biaya pengobatan mak Tini.
Malam itu, tepatnya malam senin 21 March 2003.. adalah malam terakhir bagi mereka untuk menempati gubug kecil kesayangan mereka.. seharian mereka menata dan memasukkan pakaian mereka ke dalam tas besar usang berwarna hitam dan penuh jahitan itu.. kebetulan pak Tarno menemukan tas besar itu di pelabuhan beberpa minggu lalu, tas itu bertuliskan “Nike”, mungkin “Nike” itu nama pemiliknya.. (pikir pak Tarno).. tas itu di temukannya dalam keadaan basah, kotor dan tergeletak begitu saja dalam genangan air jalan pelabuhan yang berlobang-lobang (tentu pemiliknya sudah merelakan bagi siapa saja untuk memungutnya karena memang ia sengaja membuangnya). Sementara untuk perabotan, mereka masukkan ke dalam 2 karung bertuliskan “PUSRI” seperti yang biasa di bawa pak Tarno untuk mengganjal tengkuknya ketika harus memanggul barang yang bobotnya selalu melebihi berat bandannya sendiri.. meski begitu, rasa sakit itu masih saja menembus 2 karung yang menutup tengkuknya.. sehingga setiap pulang kerja pak Tarno selalu berjalan dengan kepala tertunduk, bukan karena minder dan kecil hati atas pekerjaannya sebagai kuli angkat barang pelabuhan, tetapi karena rasa ngilu dan pegal-pegal yang setiap hari selalu saja bersarang di tengkuk lehernya.
Wisnu juga mengemasi pakaian-pakaiannya.. Baju biru kotak-kotak pemberian Haji Sabri waktu hari raya Iedul fitri tahun kemarin masih saja ia simpan, dan baju itu masih nampak seperti baru karena ia hanya memakainya pada saat-saat tertentu.. ia juga mengumpulkan buku-buku pelajaran dan seragam sekolahnya.. Setelah semuanya ia masukkan kardus indomie dan diikatnya kardus itu kuat-kuat dengan seutas tali raffia hitam,.. terdengar suara mak Tini memanggilnya..
“Wis.. wisnu, kemari nak…”
Wisnu segera bergegas menuju ruang tengah (yang cukup multifungsi sebenarnya: sebagai ruang tamu sekaligus ruang makan, karena sempitnya rumah Wisnu).. begitu ia mendekat, tercium bau wangi khas yang begitu akrab dalam eratnya kebersamaan mereka..’’ikan asin..’’ mata mak Tini dan pak Tarno nampak berkaca-kaca walaupun telah tersamar oleh cahaya merah kekuningan dari bohlam 5watt, entah perasaan apa yang sedang berkecamuk dalam hati mereka.. dengan suaranya yang lirih, mak Tini berkata.. ”..Wis, ini adalah makan malam sederhana terakhir di rumah tercinta ini, ibu dan bapak tak pernah mampu memberimu tempat dan kehidupan yang layak seperti selayaknya teman-temanmu.. Wisnu, kami bangga mempunyai anak yang berbakti dan penurut sepertimu.. apa kamu bangga mempunyai orang tua seperti bapak ibu-mu ini?..“ Wisnu hanya mampu menjawab dengan cucuran air matanya yang semakin menderas. Seketika Wisnu tak mampu membendung tangisnya dan merengkuh ayah dan ibunya.. sehingga mereka menangis sesenggukan bersama.. setelah tangis mereka mereda, mereka saling menatap dengan tatapan haru,,diam.. sepi.. hanya mata mereka yang saling bercerita bahwa mereka begitu saling menyayangi satu sama lain..
Wisnu memecah kebisuan malam itu dengan berkata..”Mak.. Pak.. Wisnu gak usah nerusin sekolah aja, lebih baik Wisnu bantu bapak cari kerja..”
“..Hush..!! gak usah, kamu harus sekolah.. soal kerja, itu urusan bapak.. kamu gak usah mikir yang aneh-aneh.. apa kamu pengen usaha bapak nyekolahin kamu sampai lulus SMA kandas begitu saja..? Wis.. ijinkan bapakmu yang gak punya apa-apa ini untuk mencoba memberikan yang terbaik untuk kamu.. bapak kepengen Wisnu tetep sekolah.. insyaAllah bapak masih mampu wis..”
Wisnu menganggukkan kepalanya lemah.. ”pak.. tapi Wisnu tetep pengen ngebantu bapak..”
Sambil tersenyum getir.. ‘’Baiklah Wis.. bapak gak keberatan kamu juga cari kerja.. tapi jangan sampai itu mengganggu pelajaran sekolahmu.. bapak gak pengen kamu bodoh seperti bapakmu ini Wis..’’, sementara itu pak Tarno sendiri belum punya gambaran tentang pekerjaannya nanti, tentunya ia harus berusaha keras dengan lingkungan baru untuk mencari pekerjaan, dan ia tahu tak mudah baginya mendapatkan kerja apalagi hanya bermodalkan “tenaga” dari jasadnya yang mulai renta..
“..Apa bapak ma kamu gak mau makan wis..?, kalau gak pada makan.. mak abisin sendiri lho..” seloroh mak Tini mencairkan suasana sedih malam itu.. pak Tarno menjawab dengan lugas.. “ ya gak bisa gitu tho bu’.. nasi setengah bakul gitu apa mau di habiskan sendiri saja?.. bapak ma Wisnu kan kepengen makan juga.. hehehe…”
Mereka makan dengan sangat lahap, ikan asin dan sambal terasi sisa tadi pagi itu terasa sangatlah nikmat.. sesekali terdengar gurauan mereka.. selepas makan malam, mereka melakukan shalat isya’ berjama’ah.. (Shalat jama’ah terakhir di “istana” tercinta mereka itu) setelah berdo’a dan saling bersalaman, mereka menuju bilik masing-masing untuk beristirahat.. akhirnya satu-persatu mereka hanyut dalam mimpi masing-masing.. hingga mentari pagi esok akan membangunkan dan mengantarkan mereka ke dalam kehidupan baru mereka.. kehidupan baru yang mereka sendiri belum bisa bayangkan seperti apa nantinya.. yang jelas apapun yang terjadi, sesulit dan sepahit apapun.. mereka akan tetap saling menguatkan dan saling menyayangi.. keluarga yang cukup bahagia, walaupun kehidupan sehari-hari sangatlah jauh dari sekedar kata “sederhana”..
..7 Mei 2003 6.30 am..,
Wisnu dan sekeluarganya sudah bersiap-siap untuk meninggalkan rumah mereka.. rumah sederhana tempat mereka saling berbagi dalam segala kisah, dimana telah berlangsung sebuah kehidupan sederhana namun penuh dengan kebahagiaan selama berpuluh-puluh tahun. Tiba-tiba terdengar suara mobil mendekat, “.. itu pasti utusan pihak Bank yang akan mengambil rumah kita..” gumam pak Tarno..
Nampak seorang berperawakan tinggi, dengan rambut tersisir rapi turun dari mobil yang cukup mewah dan berkilap.. dan mendekati mereka dengan senyum bersahabat dan wajah yang ramah.. tapi wajah orang itu terasa sangat akrab di mata pak Tarno, tapi pak Tarno ragu-ragu untuk mengenalinya.. mana mungkin seorang seperti dia mempunyai kenalan orang “parlente” seperti orang tersebut.. dengan tertunduk lesu pak Tarno menggenggam erat-erat tangan Wisnu dan istrinya, “kita sudah banyak kehilangan.. dan sekarang tempat kita berteduh dari hujan dan panas-pun harus kita relakan.., tapi itu tidak berarti kita kehilangan segalanya, kita masih saling memiliki.. dan bapak tidak akan pernah membiarkan kalian kelaparan nantinya.. bapak akan berusaha semampu bapak agar kebersamaan ini tetap menjadi sesuatu yang cukup indah untuk kita jalani nanti..”
..”Assalamualaikum.. wah.. wah.. mau pada ke mana ini?, apa sudah tau kalau aku mau ke sini, terus kalian malah mau bepergian dan nelantarin tamu yang jauh-jauh mengunjungi kalian gitu..?”
Suara itu langsung bisa di kenali oleh pak Tarno, meski telah lewat berpuluh-puluh tahun lamanya.. “Mahmud.. iya.. tak salah lagi.. itu suara Mahmud..” (kawan baik pak Tarno sejak kecil di kampung dulu, sebelum akhirnya pak Tarno memutuskan untuk pergi mengadu nasib ke kota yang ternyata kehidupannya justru lebih sulit untuk orang-orang kecil seperti mereka), mereka terlibat dalam obrolan yang cukup panjang, entah apa yang mereka bicarakan.. mungkin saling melepas rindu sebagai kawan karena sudah lama mereka tidak berjumpa, sebelum akhirnya mereka ikut masuk ke mobil pak Mahmud..
Pak Mahmud meminta pak Tarno untuk menjadi mandor di salah satu perkebunannya.. Kebetulan pak Mahmud juga mempunyai sebuah rumah yang cukup besar, dan hampir setengah tahun rumah itu di kosongkan.. sebelumnya rumah itu adalah rumah yang ia sediakan untuk mandor perkebunannya yang terdahulu. tapi karena telah berulang kali teledor dalam pekerjaan bahkan berani menyalahgunakan kepercayaan pak Mahmud dengan menggelapkan hasil panen, akhirnya ia di pecat dari pekerjaannya.
Pak Tarno dan keluarganya begitu bersyukur atas “keajaiban” dari Tuhan tersebut.. dengan suka cita mereka menerima uluran tangan pak Mahmud walaupun mereka sempat merasa segan karena merasa tak pantas menerima kebaikan pak Mahmud tersebut.
Setelah beristirahat dan menginap di rumah pak Mahmud satu malam, esok paginya mereka di antarkan pak Mahmud menuju rumah baru dan kehidupan baru mereka karena memang terletak cukup jauh dari daerah tersebut, di mana mereka akan bersama-sama mencoba membangun mimpi dan mewujudkan kembali harapan-harapan mereka yang sempat pudar bahkan hilang sama sekali.
Memang tepat keputusan pak Mahmud mengangkat pak Tarno menjadi orang kepercayaannya.. di samping ulet dan teliti, ia juga pandai bergaul dan mengambil hati para pekerja dengan kesopanan dan sikapnya yang selalu ramah dengan para pekerja.. hingga suasana kerja perkebunan tersebut selalu terasa harmonis dan menyenangkan.
Setelah 2 bulan, kehidupan mereka mulai membaik dan pulih.. bahkan jauh dari “ketakutan” yang mereka bayangkan sebelumnya.. Tuhan memang selalu mendengar rintihan hamba-Nya dan mempunyai rencana dan berbagai rahasia yang indah untuk setiap makhluk-Nya .. Wisnu juga mendaftar sekolah kembali walaupun sempat terhenti selama 2 bulan, dan disanalah ia bertemu “Anggi” seorang gadis cantik yang menjadi idola teman-teman sekelas bahkan di seluruh sekolahnya.. dengan senyum manis dan bola mata bersinar yang akan mempesona siapapun, termasuk dirinya.
Wisnu termasuk anak yang cukup pandai hingga tak sulit baginya untuk mengejar materi pelajaran yang sempat tertinggal, dari segi wajah ia juga cukup rupawan.. dan kawan-kawan barunya pun menerima ia dengan baik.
Dalam hati, ia menaruh simpati dan tertarik dengan Anggi, tapi ia tak pernah berani untuk mengungkapkan perasaannya kepada Anggi.. ia merasa berkecil hati karena Anggi adalah anak dari seorang yang cukup kenamaan di daerah itu, tanpa sepengetahuannya ternyata Anggi memendam perasan yang sama dengannya, hingga suatu hari..Anggi, Wisnu dan beberapa temannya (Dani, Indra, Sofi dan Imel) mendapatkan tugas kelompok dan setelah melalui persetujuan mereka semua akhirnya disepakati bahwa selepas pulang sekolah nanti mereka akan langsung menuju rumah Wisnu untuk mengerjakanya, karena kebetulan hari itu dewan guru mengadakan rapat, jadi para murid terpaksa dipulangkan lebih awal dari biasanya.
Begitu sampai di rumah Wisnu, mereka disambut dengan hangat oleh mak Tini.. setoples keripik singkong, dua piring pisang goreng dan teh hangat juga ikut menyambut kedatangan mereka.
“Ayo dimakan.. mumpung masih anget, beberapa hari lalu bapak Wisnu memetik pisang dibelakang rumah dan sekarang sudah matang, jadi ibu goreng saja.. kebetulan kalian ke sini.. ibu sendiri yang goreng lho” dengan begitu ramah mak Tini mempersilahkan mereka untuk mencicipi jajanan buatannya.. “iya bu’..terimakasih”, sahut Anggi mewakili teman-temannya.. melihat bet nama di dada Anggi, “oo.. ini tho yang namanya nak Anggi.. cantik.. pantas saja Wisnu sering cerita ke ibu’ kalau di sekolahnya ada bidadari yang mau pakai seragam abu-abu” candaan ibu Wisnu membuat wajah Anggi merah menahan malu, ternyata Wisnu juga mengalami perubahan mimik muka yang sama.. merah, karena malu.. Anggi melirik Wisnu dengan agak menunduk dan disaat yang sama pandangan matanya yang redup bertemu dengan tatapan mata Wisnu yang juga sedang menatapnya.. entah, apa yang mereka rasakan siang itu.. malu namun bahagia.. dan itu tak bisa mereka sembunyikan.. “eeee..malah pada bengong gitu..”, celetuk Dani.. ”..kayaknya ada yang lagi jatuh pingsan ni yeeee.. kalau jatuh cinta kayaknya gak mungkin deh” Dani meledek mereka berdua, hingga Anggi nampak semakin malu.. ”apaan sih Dan..”, “iya tuh si Dani, ikutan aja..” sahut Wisnu dengan muka yang juga masih nampak malu.. Dani pun tak mau kalah, “Nha kan kompakan gitu.. dah ketahuan tuh kalau ada udang di balik gimbal.. udah, mending cepet-cepet jadian aja deh.. lagipula menurut ramalan para saintis pada tahun 2012 bakalan ada komet besar yang garis edar dan orbitnya berpotensi besar untuk masuk ke orbit bumi dan menabraknya, dah pada dengar tentang planet ” X” yang di sebut “Nibiru” tuh kan? dan kalau tuh ternyata mang bener, berarti kiamat udah dekat nggi’.. hehehehe…”
“Eh, mendingan kita shalat dzuhur dulu deh.. dah hampir jam 2 lho.. abis tuh baru kita kerjain tugasnya, gimana?” Wisnu mengajak teman-temannya untuk shalat dzuhur terlebih dulu. (masih dalam keadaan kalut karena malu dengan teman-temannya, Wisnu melupakan “sesuatu” dikamarnya, sesuatu yang justru nantinya akan merubah kehidupannya menjadi lebih indah.. sesuatu yang akhirnya menjadikan Anggi sebagai belahan hatinya).
Akhirnya mereka shalat bergantian di kamar Wisnu, Anggi-lah yang mendapat giliran pertama, Wisnu teringat bahwa ada sesuatu di kamarnya yang seharusnya hanya menjadi rahasianya sendiri dan tidak ada orang lain yang patut mengetahuinya, ..tapi itu terlambat, Anggi’ sudah masuk ke kamarnya untuk shalat dzuhur.. begitu masuk ke kamar Wisnu.. ia terpegun.. antara percaya dan tidak.. ia merasa seperti berkaca ketika memandang sebuah lukisan indah sesosok gadis cantik yang menggenggam setangkai mawar berwarna putih yang terpampang di dinding kamar Wisnu, dan di tepi bawah lukisan itu tertulis dengan cukup jelas.. ”akan kusimpan perasaan ini hingga waktu menghentikan langkahku.. akan ku pendam gejolak rasa ini bersama tergelincirnya mentari sore hari.. meski sebenarnya aku akan selalu membutuhkanmu seperti layaknya gelap malam yang membutuhkan kerlip sang bintang..” !! kata-kata dalam lukisan itu membuai Anggi, indah.. sangat indah.. Anggi berbicara seorang diri.., “apakah benar kau menyukaiku Wis.. kenapa kau tak pernah mengatakan itu kepadaku.. kenapa..?” tak terasa air mata Anggi menetes, air mata bahagia karena sekarang ia tahu jika Wisnu juga diam-diam menyukainya.. tapi kenapa harus diam?? dalam Shalat-pun Anggi tak bisa tenang, hatinya terlalu berbunga-bunga untuk menahan rasa bahagia yang meledak-ledak itu.. begitu keluar dari kamar, ia melihat Wisnu sedang duduk di teras depan sendirian.. tidak canggung seperti biasanya Anggi menghampiri Wisnu dan berkata..”Wis, lukisan dikamar kamu bagus.. ternyata kamu pandai melukis ya.. puisinya juga indah, tapi aku kasihan dengan gadis yang ada dalam lukisanmu itu.. apa kau tak pernah bisa mengartikan pandangan matanya setiap kali ia menatapmu? seperti aku menatapmu kali ini.. maaf Wis jika “gadis” yang ada di lukisan itu ternyata bukan aku, maaf juga jika aku lancang.. sebagai seorang yang mungkin hanya kau anggap sebagai teman tak seharusnya aku berbicara seperti ini denganmu.. “
Wisnu menjawab “Nggi’ mungkin seharusnya kau tidak perlu tahu tentang hal itu, cukup aku saja yang merasakannya.. aku masih mampu menahan semua rasa ini.. tapi sekarang sudah terlambat, sebenarnya.. dari awal kita bertemu.. saat pertama aku mengenalmu di perkenalan kelas sebagai murid baru waktu itu.. aku mulai menyukaimu, dan hari demi hari rasa sukaku padamu semakin tumbuh dan tumbuh.. tapi aku harus sadar siapa aku dan aku juga harus tahu siapa kau Nggi’.. aku tak mau suatu saat terlalu kecewa jika tak mampu mewujudkan harapanku untuk bersama kamu, karena kehidupan kita memang sangat jauh berbeda Nggi.. aku hanya anak yang terlahir di keluarga yang serba sederhana bahkan mungkin kekurangan.. tidak seperti kamu.. dan semenjak aku menyadari perbedaan kita itu, aku mulai belajar menghapus bahkan membunuh perasaan ini Nggi’.. kamu faham maksudku kan?.. saat ini aku sudah cukup bahagia jadi sahabatmu dan aku tak akan berharap lebih dari itu.. mengenalmu dan bisa menjadi sahabatmu adalah hadiah indah dari Tuhan yang harus aku syukuri..
“Kamu egois Wis.. apa kamu pernah mencoba untuk sedikit mengerti apa yang aku rasakan ma kamu juga? kenapa harus kau sembunyikan sendiri semua indah yang harusnya dapat kita bagi bersama ini?.. mengapa harus kau tahan sendiri kerinduan dan rasa sayangmu, yang seharusnya kita rasakan bersama? aku juga menyimpan rasa ini Wis.. tapi sebagai seorang wanita, aku tak pernah punya kekuatan untuk mengungkapkannya.. hingga apa yang aku alami hari ini membuatku mengambil keputusan untuk berani jujur kepadamu.. “ kamu egois Wis. .egois..!!, dengan wajah marah bercampur sedih, Anggi masuk ke dalam rumah meninggalkan Wisnu yang masih bingung sendirian.. entah apa yang harus ia lakukan untuk meredam kejadian ini dan menjelaskan semuanya dengan Anggi’ agar dia bisa menerima dan mengerti apa yang sebenarnya ingin ia sampaikan, tanpa harus menyakiti perasaan Anggi tentunya.. tanpa mereka sadari, Dani, Imel, dan Sofi mendengarkan pembicaraan mereka dari dalam.
Wisnu menyusul Anggi dan teman-temannya masuk ke dalam, begitu ia masuk..ia mendapati Anggi sedang menangis terisak-isak di pelukan Sofi.. “Maaf sebelumnya Wis, karena aku tak berhak ikut campur masalah kalian.. sebenarnya Anggi juga suka ma kamu.. sejak perkenalan pertama kalian itu.. denganku-lah ia selalu bercerita apapun tentang kamu, tapi Anggi memintaku untuk menyembunyikannya dari kamu, kadang seorang perempuan lebih memilih untuk menangis jika ia tak punya keberanian untuk mengungkap apa yang dirasakannya , aku yakin kamu pun tahu jika Anggi juga memendam rasa ma kamu.. tapi kamu Cuma diam.. dan semua yang Anggi katakan, semua itu benar Wis.. ”..
..”Sof, tak ada gunanya kamu bicara dengan dia.. percuma..!!” sergah Anggi’ dengan muka masam..
“ Wis, kalau bener kamu masih nganggep kita bertiga ini teman kamu,.. kamu selesaikan masalahmu ma Anggi dulu sebelum kita bersama-sama ngerjain tugas..’ kita ikutan ngerasa gak enak kalau kalian cuman diem-dieman kayak gini.. yang jelas kalau ntar tugasnya dah kelar, besok kalian harus traktir kita-kita makan bakso.. seperti biasa, porsi special buat aku.. 2 mangkuk.. dan aku gak mau tahu duit sapa ntar yang buat bayar.. hehehe..” anak yang jarang serius seperti Dani juga bisa mengambil keputusan bijak ketika menyikapi keadaan seperti itu, ia mengambil inisiatif untuk mengerjakan tugas kelompoknya bertiga..
“..Nggi’ ada yang mau aku omongin ma kamu.. ke depan bentar yuk? Anggi’ mengangguk malu..”yuk”.. “cieeee…cieeee…mo pada bicarain apaan ne.. kok pake ke depan segala, ke belakang apa ke samping rumah gitu kek.. hehehe..” ledek Imel, hingga muka Anggi’ nampak semakin merah menahan malu.. semenjak hari itulah mereka berikrar untuk saling menjaga dan menyayangi.
Hari-hari yang mereka jalani begitu indah,.. pak Hermawan dan bu Ratih (ibu Anggi) pun tak keberatan ketika ia tahu putri kesayangannya menjalin hubungan dengan Wisnu, bahkan ia begitu menyukai Wisnu.. karena ia tahu Wisnu anak yang baik dan dapat di percaya walaupun ia berasal dari keluarga yang sederhana.
Kisah mereka berlanjut hingga ke perguruan tinggi, mereka masuk ke Perguruan Tinggi swasta yang sama… karena keadaan ekonomi keluarga Wisnu sudah pulih bahkan jauh lebih baik dari sebelumnya.. Wisnu pun tidak membebankan biaya kuliah sepenuhnya kepada keluarganya.. dia bekerja part time di sebuah renthall computer.
Wisnu mengambil jurusan Informatika, sedang Anggi’ lebih suka bidang Akuntansi.. dan hubungan mereka tetap baik-baik saja sampai suatu malam, terjadi kesalahpahaman antara Wisnu dan Anggi’..
Wisnu mempunyai seorang kawan di fakultasnya yang bernama “Tias”.. Anggi’ juga mengenalnya dengan baik.. Wisnu termasuk anak yang aktif dalam berbagai kegiatan kampus dan ia terpilih menjadi ketua BEM dan kebetulan Tias menjabat sebagai ketua 2-nya, mereka nampak sangat kompak dalam menjalankan program kerja mereka.. bahkan sempat beredar gossip tentang kedekatan Tias dan Wisnu, Anggi’ juga mendengarnya..
Sebenarnya tidak terjadi apa-apa diantara mereka, Wisnu dan Tias hanya bersahabat dan kegiatan demi kegiatan memang mengharuskan mereka untuk sering bersama-sama.. Wisnu sudah menganggap Tias seperti saudarinya sendiri (walau sikap Tias kerap kali membuat Wisnu bertanya-tanya, “jangan-jangan benar apa yang dikatakan kawan-kawan.. Tias menyukai aku.. tapi tidak mungkin, aku tak boleh salah menilai dia..).
Anggi’ juga menangkap sesuatu yang lain pada Tias.., dari cara Tias memandang, berbicara dan perhatiannya terlihat sangat mengistimewakan Wisnu.. “..Ahh.. mungkin itu hanya karena rasa sayangku yang berlebih kepada Wisnu hingga aku malah menanggapi kebaikan Tias sebagai sesuatu yang pantas aku cemburui dan aku curigai.. aku salah besar jika berfikir seperti itu..”
Anggi’ mencoba meyakinkan dirinya sendiri, walau memang ia akui rasa cemburu dan curiga itu memang ia rasakan) malam itu adalah malam inagurasi, malam penutupan orientasi kampus.., Wisnu merasa ada yang aneh dengan Tias beberapa hari terakhir ini.. Tias terkesan agak menjauhi dan menjaga jarak dengan Wisnu, dia lebih sering memilih diam dan termenung sendiri.. tidak seperti biasanya..ceria..dan suka bercanda dengan siapapun. Dari kejauhan Wisnu nampak Tias yang sedang termenung.. Wisnu menghampiri Tias yang sedang duduk sendiri di samping stand pentas dengan pandangan yang kosong.. “Maaf, kalau ganggu.. Tias kenapa se? aku lihat beberapa hari ini Tias nampak sedih, kalau Tias gak keberatan.. Tias boleh cerita ma aku.. sapa tahu aku bisa ngebantu masalah Tias..”
Tias tersentak dari lamunannya..“ Kamu Wis.., ngagetin aja.. ak gak kenapa-napa kok, lagi suntuk aja..”
Setelah diam beberapa saat dan memandang Wisnu dengan tatapan mata yang seolah menyimpan berjuta rahasia, Tias mulai berani ber cerita.. ”Sebenarnya, ini ada sedikit kaitannya dengan kita.. maaf Wis, mungkin kamu juga dengar gossip yang beredar tentang kita akhir-akhir ini, banyak yang menuduh aku ingin merebutmu dari Anggi’.. itu tidak benar Wis.. tolong jelaskan hal itu ke Anggi’.. aku tak mau hubungan kalian terganggu gara-gara aku, selain itu aku memang punya masalah pribadi dengan keluargaku..“
“..Sudahlah, biarin aja yas.. kita kan gak ada hubungan apa-apa selain cuman berteman..jadi buat apa difikir dalem-dalem, ntar lama-lama juga pada capek sendiri orang-orang yang pada suka nge-gossipin kita yang nggak-nggak tuh..” sambil menepuk-nepuk bahu Anggi’..
“..Wis, kamu sibuk gak sekarang?.. rasanya aku tak kuat menahan beban ini sendiri, apa kau punya waktu untuk mendengarkan keluh kesahku Wis?” .. tatapan mata Tias yang begitu sendu dan seakan telah kehilangan gairah hidup itu mengundang simpati Wisnu.. nampak ada beban berat yang coba Tias samarkan, tapi tetap saja beban berat jelas terlihat dari pancaran matanya yang redup itu.
“..Yas, aku sudah menganggapmu seperti adikku sendiri.. kamu cerita saja masalahmu denganku.., aku akan coba ngebantu Tias semampu aku..”
“..Wis, sebelumnya aku pengen kamu mau janji ma aku.. apapun yang aku ceritakan nanti, aku mau kamu merahasiakannya dari siapapun.. termasuk Anggi’.. tapi aku takut kamu akan marah ma aku Wis jika nanti yang aku ceritakan juga ada kaitannya dengan kamu.. apa kamu akan marah ma aku Wis..?”
Wisnu mengira (sesuatu yang terkait dengannya itu adalah gossip seputar kedekatannya dengan Tias, untuk apa harus marah?). “ Yas, aku gak akan marah ma kamu, aku janji.. cerita malam ini hanya akan menjadi rahasia kamu dan aku saja..”.
Sementara itu Anggi’ sedang bersungut-sungut karena kesal.. lebih dari belasan kali ia coba men-dial nomor Wisnu, tapi Wisnu sama sekali tak mengangkat phone call darinya.. hanya NSP dari “vanishing rise/ air supply” dengan “good bye”-nya yang menyambut setiap kali handphone Wisnu berdering.. “Wis.. dimana kamu..?” ia pun segera meluncur menuju fakultas Wisnu, “..Aku kenapa sih?.. Wisnu pun biasanya terlambat datang jika janji ketemu aku, dan itu karena dia bertanggung jawab dengan amanat yang di tanggungnya (apalagi malam ini ada acara penutupan orientasi kampus untuk mahasiswa baru) dan dia pun selalu berusaha membagi waktu untuk meluangkan waktu di sela-sela kesibukan kuliah dan kegiatannya .. tapi kenapa malam ini terasa lain.. entah apa yang aku takutkan malam ini.. ahh.. mungkin aku hanya terlalu kangen dengan Wisnu..”.
Hampir satu jam Anggi’ menunggu Wisnu di depan pos panitia inagurasi.
Rio, kawan Wisnu datang dan membuyarkan lamunan Anggi “ Hey cewe’ jelek.. ngapain manyun gitu? tadi sore mandinya gak pakai sabun ya.. apa kehabisan shampoo? hehehe… kangen ma Wisnu ne, kayaknya tadi aku lihat Wisnu gi ngobrol ma Tias di samping stand pentas no 2 tuh deh.. samperin ke sana aja Nggi’..“
Wisnu terpegun mendengar cerita Tias, ternyata bapak dan ibunya telah menjodohkan Tias dengan seseorang.. tentu saja hal itu telah melalui persetujuan Tias sendiri.. bapak ibunya takkan memaksakan kehendak mereka jika Tias memang menolaknya. Seorang pemuda tampan yang masih ada hubungan kerabat dengannya.. (Mas Guntur, begitulah Tias biasa memanggilnya.. Tias tak sempat mencurigai seringnya kedatangan Mas Guntur ke rumahnya, bahkan mas Guntur juga sering mengantarnya ke kampus, Wisnu pun sempat dikenalkan dengan mas Guntur oleh Tias.. ia kira kedatangannya itu hanya bersilaturrahmi biasa, karena mereka memang masih berkerabat walau dengan hubungan kerabat yang cukup jauh. Sampai suatu hari Mas Guntur menyatakan perasaannya kepada Tias, bahkan ia sanggup membuktikan keseriusannya dengan melamarnya.
Mas Guntur cukup baik dan menarik sebenarnya, dan selama ini ia cukup sabar menghadapi sikap Tias terkadang acuh dengannya. Tias pun tak mampu menolak Mas Guntur, ia pun menerima cinta Mas Guntur.. karena memang ia pun menaruh hati dengannya, walau sebenarnya ada sesuatu yang masih ia sembunyikan..
Hari pertunangan mereka telah di tentukan.. 1,5 bulan mendatang, Mengenai pernikahan mereka nantinya, Mas Guntur tidak keberatan menunggu hingga Tias meraih gelar S1-nya.
“..Wis, aku telah belajar untuk mencoba menerima uluran cinta Mas Guntur.., tapi itu sulit meski aku akui benih rasa “sayang” itu mungkin mulai tumbuh dalam hatiku.. Mas Guntur orang yang baik, dia juga begitu menyayangiku Wis .., dia berjanji akan menjaga dan mencintaiku sepenuhnya.. dan aku percaya jika mas Guntur tidak pernah bohong tentang itu.. sebenarnya mudah bagi seorang pemuda seperti Mas Guntur untuk mendapatkan wanita yang lebih segalanya daripada aku.. tapi ia berkata, jika aku-lah yang telah ia pilih.. aku masih ingat saat Mas Guntur mengungkapkan perasaannya padaku waktu itu, “ Yas, sebagai laki-laki aku mempunyai hak untuk mencintai dan memilih siapa yang akan menjadi pasangan hidupku, dengan ijin TUHAN tentunya.. tapi bukan berarti itu adalah wujud dari rasa egois seorang laki-laki.. sebaliknya seorang perempuan juga memiliki hak untuk menerima atau bahkan menolaknya.. bukankah itu cukup adil?..
Mas Guntur begitu sabar menghadapi aku, apapun keputusanku.. Mas Guntur berjanji akan menerimanya dengan lapang dada..” ia pernah menuliskan beberapa kata yang ia tujukan untukku..
“..Cinta itu tidak pernah meminta..
,tapi diberi..
Cinta itu tidak pernah memaksa..
,tapi ikhlas dan penuh kerelaan,..
Cinta itu api..
,tapi hangat dan tidak membakar..
Cinta itu air..
,membasahi tapi tidak menenggelamkan..
Cinta itu cahaya..
,terang tapi tidak menyilaukan..
“..Dan aku mencintaimu dengan ihklas.. meski harus ada terbersit sedikit kecewa jika suatu saat kau terpaksa menepis rasa cinta yang aku bawakan untukmu.”.
Kata-kata Mas Guntur begitu menyentuh hatiku Wis, andai saja masih banyak tersisa ruang kosong dalam hatiku, tentu akan sangat mudah bagiku untuk menerima kehadiran Mas Guntur dalam hidupku.. tapi sayang, sudah ada seseorang yang diam-diam aku cintai.. seseorang yang diam-diam aku rindukan.. seseorang yang diam-diam telah menyita seluruh perhatianku.. seseorang yang diam-diam telah membuatku banyak belajar tentang arti persahabatan.. cinta sejati dan kasih sayang..”
“..Wis, maafkan aku..”
“..Maaf.. maaf untuk apa Yas?..” Jawaban Tias begitu mengejutkan dan membuat Wisnu tercengang.. “..Maaf, karena waktu itu aku lebih memilih untuk mencintaimu Wis.. dan aku telah membiarkan rasa ini tumbuh, begitu juga.. aku akan membiarkannya bilapun suatu saat nanti rasa ini harus mati.., walau di satu sisi aku merasa bersalah dengan Mas Guntur karena membalas cintanya yang tulus dengan sebuah pengkhianatan.. karena dia tak pernah tahu jika aku mencintai orang lain..”
“..Maaf Wis.., walau begitu adanya.. sedikitpun aku tak pernah berniat mengganggu hubungan kalian, aku telah mengandaskan dan memasrahkan sepenuhnya harapan untuk memilikimu dengan menangis.. mengadu.. bersujud dan berdo’a kepada-Nya.. Tuhan pasti berkenan mendengarkan tangisanku, kalaupun aku mampu memilih.. aku akan memilih untuk tidak memiliki perasaan seperti ini kepadamu Wis..”
Tias tak mampu lagi membendung kesedihannya.. air matanya menderas, dan mengguyur malam tanpa mendung itu dengan hujan tangisannya.
Malam telah turun dan semakin basah, seakan membekukan hati Tias yang kedinginan. Tiba-tiba, masih dengan air mata dan isak tangisnya, Tias memeluk tubuh Wisnu dan menyandarkan kepalanya di bahu Wisnu.. seakan ia ingin menumpahkan segala sedih yang menderanya dan meletakkan beban berat yang selama ini ia tanggung.
“..Wis.. kamu tak keberatan kan jika aku memelukmu malam ini, malam ini saja Wis.. aku tak sanggup menahan semua ini.. mungkin hanya dengan ini aku akan menjadi kuat.. aku berjanji Wis, setelah ini akan ku kubur sedalam-dalamnya perasaan ini.. Aku tahu bahwa hati dan perasaanmu adalah milik Anggi’ seutuhnya.. Aku tahu kau takkan mungkin membagi perasaanmu dengan orang lain, termasuk aku.. aku sadar, semua ini adalah kehendak Tuhan.. mempertemukanku denganmu dan membuatku jatuh hati kepadamu, tapi mengapa ia hanya menciptakan “cinta ini di hatiku saja.. tapi tidak di hatimu?” meski aku juga meyakini bahwa Tuhan selalu menciptakan segala sesuatu dengan disertai kebaikan di dalamnya, seburuk apapun hal itu menurut pandangan kita.. “. Wisnu hanya mampu berdiam diri, entah kenapa ia juga merasa bersalah dengan Tias “apakah salah bila orang lain mencintai kita dan kita sama sekali tidak mungkin membalasnya??”.. mungkin karena ia merasa bahwa ia tak mampu berbuat apa-apa untuk membantu meringankan beban Tias.
Perlahan Tias melepaskan dekapannya dari tubuh Wisnu.. “..Terima kasih Wis dan maaf atas semuanya, aku lega sekarang.. setidaknya mulai sekarang aku bisa belajar untuk menghilangkan perasaanku ini”..
“..Yas, gak ada yang perlu dimaafkan.., Tias gak salah kok, mencintai dan dicintai adalah hak setiap orang.. aku sudah menganggap Tias seperti adikku sendiri.. kita masih bisa tetap bersama.. sebagai teman tentunya.. Mas Guntur orang yang baik, dia pantas mendampingi Tias.. kalau aku lihat, kalian sangat serasi lho, mas Guntur-nya ganteng dan Tias-nya cakep.. kalau Tias gak mau, ntar mas Gunturnya keburu di makan kucing lho..“
“..Mangnya ikan asin, pake di makan kucing segala?..” akhirnya mereka bersenda gurau berdua. Sepasang mata mengawasi mereka berdua dari kejauhan sejak beberapa saat lalu, mata itu memancarkan amarah…. dan dari amarah itu nampak butiran kecewa menggantung di pelupuk matanya “Anggi”..
Karena Anggi hanya melihat mereka dari jarak yang cukup jauh, Anggi tak dapat mendengar percakapan mereka.. ia hanya nampak ketika Tias memeluk Wisnu dengan hangat, dan setelah itu mereka berdua nampak bercanda dengan cukup mesra.. hati Anggi hancur berkeping-keping, dan tentu sangat berat untuk kembali menyatukan kepingan-kepingan yang telah berserak itu. Anggi’ segera meninggalkan tempat itu, dengan setengah berlari dan kini air matanya semakin tak dapat terbendung..
Anggi mengambil motornya yang ia parkir di dekat stand panitia, “..Hey cewe’ jelek.. tadi manyun..sekarang malah nangis.. kenapa? tengkar ma pak presiden ya? malah diem aja ne cewe’.., eeee.. mo kemana? gak nunggu Wisnu dulu Nggi’? tapi Anggi’ tak menggubris Rio yang nyerocos bertanya kepadanya, ia langsung menghilang bersama suara motornya yang menderu..
Wisnu baru tersadar jika tadi sore ia berjanji ma Anggi’ untuk makan malam bersama, dan handphone-nya pun tertinggal di sekretariat.. “Up’s.., kita balik ke stand yuk.. Anggi pasti dah nungguin aku dari tadi di gerbang kampus..” lepas sudah semua beban yang mengganjal perasaan Tias, mulai esok.. ada seseorang yang lebih berhak dan layak untuk ia perhatikan yaitu mas Guntur, dan mulai esok Wisnu adalah seorang kakak baginya.. dan ia takkan pernah lagi berharap lebih.
“..Wis, tadi Anggi nyariin tuh.. tapi dia cuman bentar aja di sini, sorry ne.. apa kalian bertengkar? kayaknya tadi aku liat dia nangis Wis.. aku tanyain dia tadi.. Anggi’nya cuman monyong ma diem aja..”
“Dia gak bilang apa-apa ma kamu yo’..?”
“Bego banget se.. yang namanya diem tuh ya gak ngomong Wis.. hehehe..”
20 misscall dari Anggi telah menghiasi screen handphone Wisnu.. dan 5 sms kosong.. entah apa maksud Anggi dengan mengirimkan sms-sms kosong tersebut.. “ Anggi pasti marah ma aku, aku dah buat dia nunggu lama banget.. sebaiknya aku call dia sekarang..”. Sebelum ia sempat men-dial nomor Anggi’, handphone Wisnu berdering lebih dulu..
“..Hallo, .. Nggi’.. tadi handphone-ku tertinggal di stand,.. Anggi dimana sekarang? Anggi masih nunggu aku kan? ..Anggi jangan marah ya..
“..Aku termasuk cewe’ tak punya otak kalau masih aja mau nungguin cowoknya yang malah asyik peluk-pelukan ma cewe’ lain.. ”
“.. Nggi’ denger dulu.. aku bisa jelasin semuanya..
“..Apa lagi yang mau kamu jelasin Wis, kamu mau jelasin kalau semua gossip itu memang benar?.. kamu mau jelasin kalau kamu mang bener-bener suka dan selingkuh ma Tias?.. kamu mau jelasin kalau selama ini kamu telah berhasil membohongi aku? kamu tentu puas sekarang Wis..!! ternyata benar apa yang di bicarakan dan di gosipkan oleh teman-teman, ternyata terbukti “rasa gundahku” malam ini.. bahkan aku telah melihat dengan mata kepalaku sendiri, kau benar-benar menduakan aku dengan Tias..!!, aku terlalu bodoh.. hingga aku selalu percaya semua yang kau katakan.. aku terlalu mencintaimu.. hingga mataku tertutup bahkan enggan melihat kebenaran yang jelas-jelas terpampang di depanku.. kau benar-benar telah mempecundangi aku.. kau membalas cintaku dengan pengkhianatan keji dan menyakitkan seperti ini.. kau tak berperasaan Wis.. apa maumu sebenarnya Wis? apa..?
“..Nggi, please.. dengerin dulu.. sekarang Anggi’ dimana?.. Anggi’ boleh marah ma aku.. tapi please, aku perlu ketemu Anggi’..
“..Ok Wis.. aku di gerbang.. aku tunggu sekarang..”
Tias mendengar percakapan Wisnu,”.. Wis, aku ikut.. aku akan jelasin ke Anggi’ kalau semua itu gak bener. .kalaupun ada yang pantas untuk disalahkan, orang itu bukan kamu.. tapi aku Wis..”
“..Gak usah Yas.. aku bisa kok jelasin ke Anggi.. aku yakin dia pasti mau ngerti ”
Wisnu segera menuju gerbang kampus, dan Anggi’ telah menunggu dengan sejuta kecewanya disana..
“Nggi’.. dugaan kamu salah, kejadian tadi itu tidak seperti yang kamu fikirkan..”
“Wis, sekarang semuanya sudah jelas.. jadi tak perlu untuk lebih di perjelas.. itu hanya akan menambah rasa sakitku saja.. setelah bertahun-tahun aku menaruh kepercayaanku , ternyata hanya dengan “seperti inilah” kau menanggapinya.. aku benar-benar menyayangimu Wis.. tapi sekarang aku benar-benar kecewa Wis.. dan mulai detik ini, kita tak ada hubungan apa-apa lagi.. anggap saja kau tak pernah mengenalku Wis.. aku pun akan beranggapan seperti itu kepadamu.. sekarang kau bebas menentukan pilihanmu.. dan aku tak akan mau untuk jadi salah satu di antara sekian banyak pilihanmu.. maaf, selamat malam..”
Anggi menghidupkan motor dan memacunya kencang-kencang meninggalkan Wisnu yang masih diliputi rasa bersalah.. malam itu ia telah menyakiti hati seseorang yang begitu ia cintai.. seseorang yang begitu ia sayangi.. “ Nggi’.. aku masih mencintaimu dan akan tetap mencintaimu, hingga kapanpun.. aku yakin suatu saat kau pasti akan mengerti.. jika apa yang aku katakan adalah benar adanya.. aku tak pernah mengkhianatimu Nggi’.. jangankan untuk melakukannya, untuk berniatpun aku tak sanggup.. kau terlalu berarti untuk aku sakiti Nggi’..”
(Tias yang langsung tanggap akan kejadian itu, segera pergi ke rumah Anggi’ untuk menjelaskan semuanya, sebelum semuanya menjadi semakin kacau dan ialah yang akan sangat merasa berdosa jika sesuatu yang buruk terjadi atas hubungan mereka..
Tias menceritakan tentang semuanya, akhirnya Anggi’ pun mau menerima penjelasan Tias, bahkan ia meminta maaf kepada Tias dan turut bersimpati kepadanya.. “Maaf Yas, aku sempat mencurigaimu dan berfikir yang bukan-bukan tentang kalian.. aku bisa mengerti bagaimana perasaanmu.. kita sama-sama wanita Yas, aku tak bisa menyalahkanmu jika kau mempunyai rasa seperti yang aku rasakan kepada Wisnu..”
“Nggi’.. aku begitu terharu malam ini, Wisnu justru berkenan menganggapku sebagai adiknya sendiri.. aku bahagia karena mempunyai saudara laki-laki sekarang.. dan juga saudara perempuan yang baik sepertimu.. mengenai Wisnu, kau tak perlu meragukannya Nggi’.. ia benar-benar menyayangimu.. kau-lah wanita pertama dan terakhir yang akan selalu ia cintai.. ia sering bercerita kepadaku tentang impiannya kelak bersamamu… tentang sebuah rumah sederhana yang akan ia bangun dengan penuh cinta.. tentang anak-anak lucu dan sehat yang kelak akan kau lahirkan sebagai buah hati kalian.. tentang harapannya untuk hidup bersamamu hingga datangnya masa yang akan memisahkan dan mempertemukan kalian kembali kelak di kehidupan yang akan datang..) Anggi’ yang begitu merasa bersalah langsung men-dial nomor Wisnu.. tapi tak ada respon, hanya NSP dari Air Supply dengan goodbye-nya itulah yang selalu menyambutnya..
8 November 3.15 AM
..Wisnu terjaga dari lamunannya, dibukanya SMS dari Anggi satu- persatu.. dan semuanya berisi tentang permintaan maaf Anggi, yang salah satunya berisi: “Assalamualaikum.. Wisnu pasti marah ma aku ya?, maafin Anggi’ wis.. gak seharusnya Anggi’ marah-marah gitu.. harusnya Anggi mau dengerin penjelasan Wisnu dulu tadi.. Tias sudah menceritakan semuanya.. kamu mau kan maafin aku..? Wisnu segera menggerakkan jari-jarinya untuk membalas sms Anggi.. sedikitpun ia tak marah dengan Anggi’.. justru sebaliknya ia sangat merasa bersalah dan ia-lah yang lebih pantas untuk meminta maaf karena telah membuat Anggi’ bersedih. Belum selesai ia menuangkan kata-kata dalam sms-nya.. tiba-tiba semuanya seakan berputar-putar dalam pandangannya.. seiring dengan rasa sakit yang semakin mendera kepalanya.. hingga kemudian redup dan semakin meredup, hingga akhirnya semua berubah menjadi gelap..
Ketika tersadar.. Wisnu terkejut.. ruangan itu sangatlah asing baginya, semuanya serba putih.. dari pakaiannya sampai seisi kamar itu juga di dominasi warna putih.. dan ketika ia mencoba mengangkat kepalanya.. rasa sakit itu terasa semakin menggerogoti isi kepalanya.. “..Di mana aku.. kenapa aku bisa sampai di tempat ini..?” beberapa saat kemudian semuanya kembali gelap dalam pandangannya.. ia merasa seperti berjalan dalam lorong yang sangat gelap, tiba-tiba muncul dihadapannya sebuah cahaya yang seolah memandu perjalanannya.. ia mengikuti cahaya tersebut yang menghantarkannya ke sebuah tempat luas yang di penuhi kabut warna.. seorang lelaki tua yang berdiri di terlihat melambaikan tangannya dengan tersenyum…
Seorang suster muda menghampiri pak Tarno “Maaf pak, sekarang anda di tunggu Pak Hermawan di ruangan beliau..”
“Baik sus, saya segera ke sana.. Ibu’ tunggu di sini saja, bapak ketemu Pak Hermawan sebentar.. kita berdo’a saja semoga tidak terjadi apa-apa dengan anak kita bu..”
Dengan hati berdebar-debar Pak Tarno memasuki ruangan pak Hermawan, keringat dingin mulai mengalir membasahi bajunya.. ruangan itu terasa begitu menakutkan baginya.
“Pak, dengan sangat menyesal saya harus mengatakan bahwa sebenarnya rasa sakit di kepala Wisnu itu adalah “kanker otak” dan sel kanker itu telah menyebar, dalam paparan medis kami sebut itu sebagai kanker stadium 4, dan kondisi fisik Wisnu tiba-tiba turun drastic, pada beberapa kasus hal seperti ini sering juga terjadi, bahwa si penderita jarang mengalami gejala-gejala terkait dengan kanker tersebut, bisa jadi penderita hanya merasakan pusing-pusing ringan saja atau tidak merasakan kelainan apapun, hingga dengan tiba-tiba saja, kondisi fisik-nya langsung down bahkan cenderung mengalami berhentinya fungsi sebagian organ-organ vital, dan itu sangat fatal dan bahkan menyebabkan kematian .. Wisnu termasuk kuat, rata-rata penderita tak mampu lagi bertahan jika keadaannya sudah seperti Wisnu saat ini.
Kanker otak dapat disebabkan oleh berbagai macam hal. Penyebabnya bisa satu atau lebih, dan secara umum dapat dibagi menjadi dua kategori:
Faktor dari dalam
Merupakan faktor yang datang dari dalam diri sendiri. Yang utama adalah faktor keturunan/genetik. Jika ada sanak saudara yang punya riwayat menderita kanker otak, berarti peluang Anda terkena kanker otak lebih besar daripada mereka yang keluarganya tidak ada penderita kanker otak.
Faktor kedua yang dapat memicu terjadinya kanker otak adalah riwayat benturan (jika bagian kepala pernah terbentur). Benturan ini dapat menyebabkan trauma pada jaringan otak, sehingga bisa jadi penyebab tumbuhnya jaringan abnormal dalam otak (yang kemudian dapat berkembang menjadi kanker otak).
Faktor external, merupakan faktor yang datang dari luar tubuh, pada umumnya berupa makanan dan radiasi. Obat-obatan tertentu yang diminum secara terus-menerus berpotensi menyebabkan kanker. Faktor-faktor lainnya:
- Pola hidup yang kurang sehat: seperti kebiasaan merokok, pengkonsumsian alcohol yang berlebih, makanan berlemak dan berkolesterol tinggi, kurangnya serat, dsb.
- Bahan karsiogenik: minyak goreng yang dipakai berulang-ulang, bahan kimia yang termakan.
- Radiasi: paparan radiasi (radiasi computer, radiasi gelombang mikro dari phone selluler) yang dalam kadar gelombang tertentu dapat memicu berkembangnya sel kanker.
“..Menurut pengamatan kami.. dalam kasus ini, Wisnu telah mewarisi sel kanker tersebut dari kakeknya.. Sebaiknya Wisnu harus segera di operasi untuk mengangkat sel-sel kanker yang telah cukup kuat mengakar itu dari kepalanya, jika tidak akibatnya akan sangat fatal.. tapi tidak dengan kondisi fisik Wisnu seperti saat ini, seharusnya kami harus menunggu kondisi fisiknya agak membaik.. tapi melihat keadaannya yang kritis saat ini, kami harus segera bertindak.. dan tentunya kami harus mendapat persetujuan dari keluarga untuk menjalankan operasi tersebut.. bagaimana menurut bapak?, sebaiknya bapak membincangkan usulan kami ini dengan ahli keluarga terlebih dahulu sebelum memutuskannya.. karena resiko operasi ini cukup serius, dan nyawa anak bapak menjadi taruhannya.. tentu saja kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkannya tapi sebagai manusia kita harus sadar bahwa semuanya berpulang kepada kehendak dan kuasa Tuhan..“
“..Dok, kami percaya bahwa Dokter pasti akan melakukan yang terbaik untuk kami dan insyaAllah kami ikhlas dan ridha dengan apapun kehendak-Nya nanti..”
Samar-samar terdengar tangis Mak Tini, sementara itu Pak Tarno mengelus-elus kepala istrinya dengan lembut sembari berkata.. ”Sabar bu’.. kita serahkan saja semuanya kepada Allah, Dia-lah yang berkuasa atas segala sesuatu di jagad raya ini.. termasuk hidup kita.. sebagai manusia kita harus sadar bahwa apapun yang kita miliki saat ini adalah titipan-Nya.. –Dia lah yang sebenarnya berhak atas semuanya bu’..”
“Pak, aku jadi teringat almarhum kakek Wisnu.. beliau mangkat waktu usia beliau masih cukup muda.. belum genap 5 tahun usia perkawinannya dengan alm. mak.. aku baru berumur 3 tahun waktu itu, ketika bapak meninggal dunia.. dan menurut cerita almarhum mak, beliau sering merasakan pusing-pusing yang kadang sampai membuat beliau pingsan.. aku takut kalau memang apa yang di katakan Dokter tentang “kanker” itu ternyata benar, bahwa Wisnu menuruni penyakit alm.kakeknya itu..
“Bu’.. kita pasrahkan saja semuanya bu’.. dan pasrah kita bukan berarti kita menyerah kepada keadaan begitu saja.. tapi sebaliknya, kita harus berusaha semampu kita untuk mendapatkan yang terbaik, Bapak akan lakukan apapun demi kesembuhan anak kita bu ..”
Anggi’ benar-benar shock ketika mendengar kabar bahwa Wisnu dirawat di rumah sakit dan masih dalam keadaan kritis, pantas saja tak ada sms/ cal dari Wisnu yang ia tunggu sejak semalam, dan pagi itu juga ia dan ayahnya langsung menuju rumah sakit untuk menjenguk Wisnu..
Begitu sampai.. ia mendapati Pak Tarno dan Mak Tini yang menatapnya dengan pandangan kosong, bekas air mata sangat nampak dari mata mereka yang sembab dan merah.
Anggi tak mampu lagi menahan tangisnya.. ia memeluk Mak Tini erat-erat dan menumpahkan kesedihan yang ia rasakan,.. “Nggi, jika kondisi fisiknya sudah agak membaik, Wisnu akan menjalani operasi.. kita berdo’a saja semoga takdir-Nya masih selaras dan mau berpihak kepada harapan kita semua..”
Dari balik jendela kaca sebuah ruangan praktek, seorang laki-laki berseragam putih berdiri termangu melihat drama nyata yang menyedihkan itu.. “Dokter Hermawan”.. menurut pengalaman dan pengamatannya sebagai Dokter, harapan Wisnu untuk sembuh sangatlah tipis walau dengan menjalani operasi sekalipun (10/90 untuk peluang keselamatan Wisnu) dan menurut perkiraannya kemampuan bertahan hidup Wisnu hanyalah tinggal beberapa saat saja. Sungguh suatu keajaiban yang masih membuat Wisnu masih bertahan hidup hingga saat ini. Tapi sebagai seorang Dokter, ia takkan menyerah begitu saja dan ia berkomitmen untuk melakukan yang terbaik bagi siapa saja yang membutuhkan pertolongannya.
“10 November 2009”
Dokter Hermawan dan staff-staffnya mulai membahas persiapan operasi Wisnu, mengingat kondisi fisik Wisnu yang justru semakin mengkhawatirkan.
“Eeeegghhh……” dokter jaga terkejut melihat Wisnu tersadar setelah hampir 2 hari tak sadarkan diri, wajah Wisnu yang sebelumnya terlihat sangat pucat.. pagi itu wajahnya nampak sangat cerah dan berseri-seri.. seolah-olah tidak ada sesuatupun yang terjadi dengannya.
“Bagaimana rasanya dik?”
“Saya tak merasakan apa-apa lagi Dok.. kepala saya sudah tidak sakit lagi.. sebenarnya saya sakit apa Dok?”
“..Kamu kecapek’an dan demam saja.. untuk itu kamu harus banyak-banyak istirahat biar kondisi fisikmu cepat pulih..” Dengan senyum getir yang nampak sekali dipaksakan, dokter jaga itu terpaksa membohongi Wisnu.. karena Wisnu pasti akan sangat terpukul jika ia mengetahui yang sebenarnya..
Dok, tolong panggilkan Anggi’ dan bapak ibu saya .. saya ingin berjumpa mereka..”
“..Baik dik..” Dokter jaga itu segera keluar untuk menemui pak Tarno dan istrinya.. Mak Tini mengajak Anggi’ untuk sekalian masuk menjenguknya.
“..Wis, hampir 2 hari kamu pingsan.. dan selama itulah airmata ibu-mu tak pernah berhenti mengalir sembari mendo’akanmu.. dan doa’ ibumu telah terjawab hari ini..”
“..Pak.. Mak.. apa selama ini Wisnu sudah mengecewakan bapak mamak? Wisnu merasa belum mampu menjadi anak yang baik untuk bapak mamak.. Wisnu minta maaf mak.. pak.. Wisnu telah banyak berbuat dosa kepada Bapak dan mak.. sebenarnya Wisnu punya banyak harapan dan angan-angan untuk bisa membahagiakan bapak dan mak, tapi ”..semalam Wisnu mimpi bertemu Mbah kakung.. dia mengajak Wisnu ke suatu tempat yang sangat indah dan luas.. Mbah kakung berkata.. “di sini semuanya terasa tenang dan penuh kedamaian.. diantara penghuninya tidak pernah ada kebencian.. amarah.. dendam…. rasa ketidak puasan.. kepura puraan dan kebohongan.. semuanya saling jujur, mengerti dan menyayangi satu sama lain… Pak, Wisnu merasa hidup Wisnu tidak akan lama lagi.. Walaupun Wisnu tidak tahu pasti apa sebenarnya penyakit Wisnu.. tapi sepertinya Dokter, bapak dan mamak menyembunyikan sesuatu dari Wisnu.. bapak mamak gak boleh sedih kalau Wisnu gak bisa lagi berkumpul dengan bapak mamak.. Wisnu yakin suatu saat nanti, entah kapan waktunya kita pasti bisa bersama-sama kembali..”
Dengan menahan rasa sesak yang membuat tenggorokannya terasa sangat kering, Pak Tarno mencium kening anak semata wayangnya itu.. kemudian dengan setengah berbisik di telinga Wisnu “..Kami bangga dan sangat bahagia mempunyai anak sepertimu Wis.. sudah jangan banyak bergerak dan bicara dulu, lebih baik kamu istirahat lagi.. kamu pasti sembuh nak..”
“..Nggi’ maafin aku.. aku sering ngecewain bahkan mungkin nyakitin perasaan Anggi.. tapi aku janji setelah ini aku tak akan ngecewain Anggi’ lagi.. Nggi’ aku mau kamu berjanji satu hal denganku..”
“Iya Wis.. aku janji..”
“Nggi.. jika suatu saat Tuhan memanggil a..”
“Sssttt.. cukup Wis.. jangan lanjutkan.. kamu tak boleh berbicara seperti itu” jari telunjuk Anggi’ menyentuh bibir Wisnu dengan begitu lembut.
“Nggi’.. biarkan aku selesai bicara dulu.. aku mohon.. aku benar-benar takut jika setelah ini aku tak punya kesempatan lagi untuk menggerakkan bibirku walau sekedar untuk menyampaikan beberapa kata kepadamu.. aku mau Anggi’ janji.. apapun yang terjadi denganku nantinya.. aku gak mau Anggi’ terlalu larut bersedih.. aku mau Anggi’ tetep tersenyum, tegar dan tetap bersemangat untuk menjalani kehidupan Anggi’ walau aku tak ada di samping Anggi’ lagi.. carilah seorang yang benar-benar bisa melindungi dan membimbing kehidupan Anggi’ kelak.. seseorang yang benar-benar tulus mencintai dan menyayangi Anggi’.. seseorang yang kelak akan menunjukkan betapa kehidupan di dunia ini adalah sesuatu yang begitu istimewa.. seseorang yang akan selalu mengisi setiap detikmu dengan kasih sayang.. semua ini adalah kehendak Tuhan, tak ada pilihan bagi kita selain menjalaninya.. sepahit dan sesakit apapun rasanya.. itulah yang sebenarnya terbaik untuk kita..
..Aku pernah berjanji untuk selalu disamping Anggi’ sampai kapanpun waktunya.. dan hari ini aku ingin mencabut janjiku itu Nggi’.. karena aku merasa tak akan punya kesempatan untuk mewujudkannya.. sepertinya waktuku tak akan lama lagi.. maaf untuk semuanya Nggi’..
Dokter Hermawan masuk dan bermaksud menyampaikan perihal operasi pembedahan kanker dari kepala Wisnu yang harus segera dilakukan.. “Sebentar Dok… biarkan kami saling melepas rindu sekejap..”
Dokter Hermawan hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda persetujuannya .. dalam hatinya bergumam..“aneh.. wajah Wisnu tidak lagi pucat seperti semalam.. dengan wajah yang berseri-seri itu ia lebih pantas menyandang predikat sebagai seseorang yang betul-betul fit dan sehat.. seakan kondisinya telah pulih seperti sedia kala.. ”
Seisi kamar itu penuh sesak dengan rasa haru.. pagi yang sebelumnya begitu cerah itu seakan turut mengerti apa yang sedang mereka rasakan.. suara gemuruh dari setiap penjuru angkasa seolah menggetarkan seluruh bumi dan isinya.. mendung tiba-tiba datang bergulung-gulung dan menutup birunya langit pagi itu dengan sekejap mata..
“..Untuk terakhir kalinya.. aku mohon kepada kalian.. tersenyumlah.. aku tak akan pernah bisa pergi dengan tenang jika melihat kalian bersedih… aku tak akan pergi dengan tenang jika kalian mengiringinya dengan isak tangis kalian..
Mereka menyeka airmata masing-masing.. mengubur dan memendam dalam-dalam kepiluan mereka serta menggantinya dengan mengembangkan senyum manis mereka.. senyum yang di dalamnya tersimpan beribu kesedihan.. senyum yang di dalamnya tersimpan tangis dan jerit sakit sebuah perpisahan.. Wisnu meraih tangan Anggi’ dan menggenggam jemarinya erat-erat.. seolah-olah ia tak mau melepaskannya lagi.
Wisnu-pun tersenyum.. wajahnya terlihat begitu cerah.. “sudah tiba waktuku.. aku menyayangi kalian semua.. aku yakin.. suatu saat.. kita a..kan berkum..pul kem..ba..li..”..
Perlahan-lahan Wisnu memejamkan matanya.. dan senyumannya tetap tersungging di bibirnya.. tangannya yang erat menggenggam jemari Anggi’ perlahan-lahan terlepas.. beberapa saat setelah itu hujan pun turun dengan begitu deras.. sangat deras.. membasahi pagi haru itu dengan guyuran air matanya yang tak jua kunjung berhenti.. suara petir yang berulang kali bergelegar seakan menjadi pengganti jerit dan isak tangis mereka yang tertahan.. senyum tetap terkembang di bibir mereka.. mengiringi perjalanan Wisnu…
Di luar ruangan itu.. seorang gadis nampak sangat sedih dan terpukul.. ia sandarkan tubuhnya yang basah kuyup pada dinding.. hingga akhirnya ia jatuh terduduk dan lemah tanpa daya.. genangan air mata nampak memenuhi sudut-sudut matanya.. tapi ia tak membiarkan airmatanya terjatuh.. lantai itu telah cukup basah oleh tetesan air hujan yang mengguyur tubuhnya beberapa saat lalu.. Tias.. gadis itu adalah Tias.. “..Kau telah menemukan kehidupan yang sebenarnya, menjalani waktu di dunia ini layaknya menjalani sebuah mimpi.. dan kini Tuhan telah membangunkanmu.. Selamat jalan Wis.. aku berjanji.. akan selalu ku perdengarkan doa’ku untukmu dalam tiap kesepian yang senantiasa menjaga lelapnya malamku”
Langit-pun berhenti menumpahkan air matanya.. sinar mentari mulai memberanikan diri mengintip di sela-sela gumpalan mendung yang masih menghitam.. bias warna-warni sang pelangi nampak terlukis indah di ujung cakrawala.. burung-burungpun mengepakkan sayap mereka sembari menyenandungkan sebuah kidung tentang kehidupan dan misteri yang tersimpan dengan rapi di dalamnya. Angin yang bertiup lembut seperti sedang membaca harapan-harapan samar yang tertera pada dedaunan hijau yang bergoyang.
Walau beberapa asa dan impian telah di pupuskan dan berakhir hari itu.. namun masih ada beberapa hati rapuh yang mencoba membangun kembali hari esok mereka.. untuk kembali mengarungi getir, pahit, bahkan duka yang mungkin lebih menyakitkan dari apa yang mereka rasakan saat ini…
(freeway is only provided for the free man)
“..it’s begin from nothing..
and gonna be back to nothing..”
did u knew if there’s so many deal’s that need to get an approvement?
“akhir dari sebuah penutup”
malam ini..
bergugurlah kelopak mawar merah yang kau titipkan..
malam ini..
berkecailah sebuah harapan yang pernah kau sandarkan..
malam ini..
berhamburlah impian-impian menuju peraduannya..
bergemalah rasa sakit atas penjelasan sebuah kenyataan..
malam ini..
yang terlahir akan kembali dipanggil..
malam ini..
yang datang akan kembali terpulangkan..

“..JUST FOR REMIND.. IF SOMEDAY, SOMETIME..
WE ‘LL GOING HOME..”
AKIM
“..wake me up from this dream quickly..!!”
“P@y@ be@ch in memmori@”
..23 NOVEMBER 2009..


jing tas bajuku di pundaknya.










